← Beranda
Mengenal Ikan Belida, Legenda Sungai Musi Bahan Utama Pempek Palembang yang Kini Terancam Punah
Rian AlfiantoRabu, 17 September 2025 | 02.35 WIB
Ilustrasi ikan belida, ikan legenda dari sungai Musi yang terkenal sebagai bahan kuliner olahan ikan khas Bumi Sriwijaya. (Istimewa)

JawaPos.com - Bagi masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Palembang, ikan belida bukan sekadar hewan air tawar.

Ikan dengan tubuh pipih memanjang ini telah lama menjadi ikon Sungai Musi sekaligus bahan utama berbagai hidangan tradisional khas Palembang. Mulai dari pempek, tekwan, hingga kerupuk khas Palembang.

Ikan belida masuk ke dalam famili Notopteridae. Ikan ini dikenal luas di Asia Tenggara dan Indonesia.

Di tanah air, spesiesnya terbagi menjadi empat: Belida Jawa (Notopterus notopterus), Belida Sumatra (Chitala hypselonotus), Belida Borneo (Chitala borneensis), dan Belida Lopis (Chitala lopis). 

Dari keempatnya, Belida Sumatra menjadi yang paling populer karena sejak lama dimanfaatkan untuk kuliner. Siapa penggemar pempek khas palembang yang tak kenal kelezatannya.

Tubuhnya yang berdaging lembut membuat ikan belida sangat cocok dijadikan bahan baku pempek. Teksturnya kenyal dan cita rasanya gurih. Berbeda dengan pempek berbahan ikan tenggiri atau gabus yang kini lebih sering dijumpai. 

Namun karena populasinya kian langka, masyarakat perlahan mengganti bahan dasar pempek dari belida ke jenis ikan lain.

Selain pempek, daging ikan belida juga digunakan untuk membuat tekwan, model (sup bakso ikan khas Palembang), dan kerupuk kemplang.

Di masa lalu, belida sangat mudah didapatkan nelayan di Sungai Musi, sehingga hampir semua rumah tangga di Palembang akrab dengan olahan belida.

Kini, hidangan berbahan ikan belida lebih jarang ditemui. Selain karena harganya mahal akibat kelangkaan, pemerintah juga melarang penangkapan belida di alam liar untuk menjaga kelestariannya.

Status Terancam Punah

Sayangnya, populasi belida terus menyusut akibat penangkapan berlebihan dan rusaknya habitat sungai. Bahkan pada 2020, Belida Lopis sempat dinyatakan punah (extinct) sebelum ditemukan kembali oleh peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Sejak 2022, melalui Perpres No. 34, ikan belida masuk kategori satwa dilindungi. Itu berarti penangkapannya hanya boleh untuk riset, bukan konsumsi.

Berbagai program konservasi kini digerakkan, salah satunya oleh Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui inisiatif Belida Musi Lestari sejak 2019.

Bersama BRIN, pemerintah daerah, dan kelompok pembudidaya ikan, KPI mengembangkan teknik pemijahan semi-buatan agar belida bisa berkembang biak di luar habitat aslinya.

Hasilnya, ratusan telur berhasil ditetaskan menjadi generasi baru ikan belida. Inovasi seperti penggunaan media bertelur dari limbah pipa dan kayu juga dilakukan untuk meniru habitat alami ikan yang suka menempelkan telurnya di akar pohon.

"Populasi ikan belida semakin lama semakin menurun, ini yang membuat kami tergerak untuk ikut melakukan upaya pelestarian. Namun ini bukan hanya sekadar kepedulian untuk menyelamatkan sebuah spesies langka, tapi juga upaya untuk menyelamatkan identitas Sungai Musi yang merupakan salah satu ikon Indonesia," ujar Pjs Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani melalui keterangannya.

Dia melanjutkan, keterlibatan KPI dalam konservasi ikan belida berawal dari keprihatinan akan terus menurunnya populasi ikan belida.

Menurut dia, ikan ini tak hanya sebuah spesies, namun juga merupakan identitas wilayah Sumatra Selatan yang patut untuk dilestarikan. 

Penangkapan yang berlebihan tidak dibarengi dengan upaya pelestarian, membuat ikan ini pada akhirnya langka.

Ke depan, program ini diharapkan tidak hanya menjaga populasi di kolam budidaya, tetapi juga melepasliarkan belida kembali ke Sungai Musi.

Agar spesies ini tetap hidup berdampingan dengan masyarakat yang telah lama menjadikannya simbol budaya dan kuliner.

Selain kerja sama dengan BRIN, lanjut Milla, pihaknya juga mengembangkan ekosistem pendukung konservasi di Desa Sungai Gerong.

Kegiatan ini melibatkan Pokdakan Barokah dan Pokdakan Tunas Makmur melalui budidaya perikanan end-to-end terintegrasi yang memiliki komitmen untuk melestarikan ikan belida.

 

EDITOR: Bayu Putra