← Beranda
Tak Ada Kejelasan soal Proyek Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi, Warga Tabanan Mulai Putus Asa hingga Pasang Baliho Berukuran Jumbo Untuk Jokowi
Leni Setya Wati• Sabtu, 3 Februari 2024 | 20.50 WIB
Puluhan warga yang terdampak pembangunan tol Gilimanuk-Mengwi saat melakukan aksi pemasangan baliho pada 14 Januari lalu. (Foto: Juliadi/Radar Buleleng)

JawaPos.com - Puluhan warga terdampak proyek pembangunan jalan tol Gilimanuk-Mengwi sudah dua pekan ini melakukan pemasangan baliho berukuran jumbo.

Pemasangan baliho tersebut dilakukan warga sebagai bentuk protes kepada Presiden Jokowi yang belum juga memberikan kejelasan terkait pembangunan proyek tol Gilimanuk-Mengwi tersebut.

Pasalnya, hingga Jumat (2/2) kemarin, belum ada kejelasan informasi dari Pemerintah Pusat terkait proyek jalan bebas hambatan yang bakal melintasi 7 kecamatan dengan 15 desa di Kabupaten Tabanan tersebut.

Ketidakjelasan informasi terkait proyek tol Gilimanuk-Mengwi tersebut juga membuat warga terdampak tol merasa putus asa.

Bagaimana tidak, tanah-tanah dan lahan-lahan sudah diberikan tanda patok batas untuk jalan, akan tetapi ganti rugi lahan tersebut tidak kunjung datang dari pemerintah.

Ketua Forum Perbekel Terdampak Jalan Tol Mengwi-Gilimanuk, I Nyoman Arnawa menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada kabar dari pemerintah pusat, dalam hal ini kementerian PUPR soal kejelasan tol.

Bahkan, berdasar informasi terbaru yang didapat, jalan tol Mengwi-Gilimanuk belum ada masuk anggaran pada APBN 2024.

"Anggaran tol nol infonya, tak masuk APBN pusat, jadi kemungkinan 2024 belum ada kejelasan," kata Arnawa seperti dikutip dari Radar Buleleng (Jawa Pos Group), Sabtu (3/2).

Dengan tidak masuknya proyek tol dalam ABPN tersebut, warga terdampak tol Mengwi-Gilimanuk semakin merasa ragu dan bingung dengan proyek tol tersebut.

"Ini warga dibawah sudah gak karuan, galau sudah pada putus asa, karena mereka digantung oleh pemerintah setelah dipasang patok. Jujur bingung sekali, mau bongkar patok," ujar Arnawa.

Meskipun baru ada informasi demikian terkait tol Gilimanuk-Mengwi, Arnawa berharap pemerintah pusat segera memberikan informasi yang lebih rinci dan detail soal kelanjutan proyek tol.

"Jangan warga terdampak digantung seperti ini dan dibiarkan menunggu dan menunggu," imbuhnya.

Sementara itu, hal serupa juga diungkapkan oleh Perbekel Desa Antosari, I Nyoman Agus Suryawan yang mengatakan bahwa sampai hari ini belum ada respon dari pemerintah setempat setelah pihaknya bersama warga terdampak melakukan pemasangan baliho di Jalan Antosari Pupuan.

Saat ini warga sangat kecewa dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi karena tidak adanya perjuangan yang dilakukan terhadap keberlanjutan proyek tersebut. Padahal warga sudah setuju dibangun tol, tapi malah digantung.

"Jujur tiang (saya) sebagai warga yang juga terdampak tol semakin pasrah, dibawah sudah carut marut kondisi sekarang," ungkapnya.

Lantaran tidak ada kejelasan terkait proyek tol tersebut, Agus Suryawan mengaku bahwa warga warga yang kesal dengan pemerintah akhirnya melakukan pencabutan patok-patok batas jalan tol yang sudah terpasang.

Apalagi di desanya khusus di Banjar Dinas Gulingan ada sebanyak 50 warga yang terdampak tol, bahkan lahan-lahan pertanian warga hingga rumah telah dipatok. Sedangkan luasan lahan terdampak tol sekitar 45 hektar.

"Sudah ada beberapa yang patoknya dicabut dan dibuang karena tidak ada kejelasan tol sampai sekarang ini," pungkasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, aksi protes warga terdampak dalam menuntut kejelasan proyek tol Gilimanuk-Mengwi dengan memasang baliho berukuran jumbo sudah dilakukan dua kali.

Baliho berukuran jumbo pertama dipasang di Jalan Raya Antosari-Pupuan pada Rabu 19 Agustus 2023 lalu. Spanduk besar tersebut ditujukan kepada Gubernur Bali Wayan Koster.

Kemudian aksi kedua dilakukan pada Minggu 14 Januari lalu, di mana baliho berukuran jumbo ditujukan kepada Presiden Jokowi. Namun ternyata pemerintah tidak juga memberikan respons ataupun tanggapan.

Padahal rencananya pembangunan jalan tol Gilimanuk-Mengwi ditargetkan bakal tuntas tahun 2028 mendatang.

Baca Juga: Serotonin vs Dopamin: Ketahui Perbedaan Antara Dua Hormon Bahagia yang Tingkatkan Mood

Proses pengerjaan dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT. Tol Jagat Kerthi Bali dengan pembiayaan melalui konsorsium.

Tol sepanjang 96,84 km diperkirakan menghabiskan biaya investasi sebesar Rp 24,6 triliun. Jalan tol Gilimanuk-Mengwi terbagi menjadi tiga seksi.

Seksi 1 Gilimanuk-Pekutatan sepanjang 53,6 km, Seksi 2 Pekutatan-Soka sepanjang 24,3 km dan Seksi 3 Soka-Mengwi sepanjang 18,9 km.

Khusus untuk wilayah Tabanan, pembangunan tol Mengwi-Gilimanuk akan melintasi 22 desa dengan 7 kecamatan di Tabanan, dengan menghabiskan lahan sekitar 1069,44 hektar.

Namun hingga saat ini proyek pembangunan jalan tol Mengwi-Gilimanuk tersebut tidak ada kejelasan dari pemerintah.

EDITOR: Hanny Suwindari