← Beranda

Anak Pertama Tidak Boleh Menikah dengan Anak Ketiga? Ini Penjelasan Primbon Jawa yang Jarang Dibahas Tentang Alasannya

Leni Setya WatiJumat, 23 Januari 2026 | 19.31 WIB
Ilustrasi pernikahan (freepik)

JawaPos.com - Di tengah masyarakat Jawa, masih banyak beredar kepercayaan tentang pantangan pernikahan berdasarkan urutan kelahiran.

Salah satu yang paling sering memicu keraguan adalah anggapan bahwa anak pertama tidak boleh menikah dengan anak ketiga.

Bahkan sebelum lamaran resmi dilakukan, orang tua kerap berbisik pelan, “Coba dicek dulu, kamu anak ke berapa?”

Baca Juga: Pramono Dorong IPO Awal Tahun 2027, Nilai Laba Bank Jakarta Biasa Saja

Konon katanya, pasangan ini dianggap "ora apik," "rawan sengkolo," rumah tangga panas, rezeki seret, dan hidup penuh ujian.

Namun, benarkah larangan ini merupakan takdir yang tak bisa dihindari? Atau sebenarnya hanya warisan nasihat leluhur yang kerap disalahpahami?

Ini tidak bertujuan untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak kalian untuk melihatnya secara pelan, jernih, dan logis, baik dari sudut pandang primbon Jawa maupun akal sehat modern.

Baca Juga: Jika Anda Selalu Menggunakan Casing Pelindung pada Ponsel Anda, Menurut Psikologi Anda Mungkin Menunjukkan 9 Perilaku Unik Ini

Dilansir dari kanal YouTube Kejawen, dalam budaya Jawa, urutan anak bukan sekadar angka kelahiran. Setiap posisi dipercaya membawa peran hidup dan tanggung jawab tertentu.

Pada masa lalu, keluarga dipandang sebagai sebuah sistem, bukan hanya ikatan darah, melainkan struktur tanggung jawab sosial. Menurut primbon, anak pertama disebut sebagai pambuka jalan keluarga.

Sejak kecil, ia sering dibentuk untuk mengalah, menjadi teladan, dan memikul tanggung jawab. Tak heran jika karakternya cenderung tegas, dominan, berjiwa pemimpin, dan terbiasa mengambil keputusan.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Sabtu, 24 Januari 2026 untuk Gemini dan Cancer: Mulai dari Karier, Cinta, Keuangan, dan Kesehatan

Sementara itu, anak ketiga kerap disebut sebagai anak sandingan atau penyeimbang. Ia tidak dibebani tanggung jawab utama seperti anak pertama, sehingga tumbuh lebih bebas.

Namun di balik itu, anak ketiga biasanya memiliki kepekaan emosional tinggi, batin kuat, dan pendirian yang keras. Masalahnya bukan karena salah satu lemah, melainkan karena keduanya sama-sama kuat.

Ketika dua karakter kuat bertemu, hasilnya bisa dua kemungkinan: saling menguatkan atau justru saling berbenturan. Dari sinilah asal mula anggapan bahwa anak pertama dan anak ketiga “tidak cocok”.

Baca Juga: Orang yang Tumbuh Besar dengan Berbagi Kamar Tidur Mengembangkan 8 Ciri Kecerdasan Emosional Ini Menurut Psikologi

Perlu dipahami, primbon sejatinya tidak pernah menyebut larangan mutlak. Yang ada hanyalah peringatan agar pasangan dengan karakter tertentu lebih berhati-hati.

Berdasarkan pengalaman leluhur, banyak pasangan anak pertama dan ketiga kerap berselisih soal kepemimpinan, ego, dan siapa yang harus didengar.

Karena dulu belum dikenal istilah psikologi, tabrakan karakter ini disederhanakan menjadi istilah "ora cocok" atau tidak cocok yang lama-kelamaan dipercaya sebagai pamali.

Jika ditarik ke ilmu modern, penjelasan ini justru masuk akal.

Dalam psikologi keluarga, anak pertama identik dengan sifat dominan dan leadership yang tinggi, sementara anak tengah atau ketiga cenderung mandiri, sensitif, dan keras pendapat.

Tanpa komunikasi yang sehat, konflik memang mudah muncul. Bukan karena kutukan, melainkan karena ego yang saling beradu.

Namun, jika kedua pihak matang secara emosi, kombinasi ini justru bisa menjadi pasangan yang sangat tangguh. Sama-sama pekerja keras, bertanggung jawab, dan tahan banting menghadapi ujian hidup.

Faktanya, di sekitar kita banyak pasangan anak pertama dan anak ketiga yang hidup rukun, rezekinya lancar, dan keluarganya harmonis. Kuncinya ada pada saling pengertian, komunikasi, kesabaran, dan kedewasaan.

Primbon sendiri mengajarkan, "nasib iku gumantung laku." Nasib bergantung pada perilaku, bukan hitungan semata. Hitungan hanyalah petunjuk, bukan vonis.

Itulah sebabnya, dalam tradisi Jawa dikenal selametan, doa bersama, atau ruwatan kecil—bukan karena takut kutukan, melainkan sebagai simbol membersihkan batin dan merendahkan ego.

Pada akhirnya, larangan anak pertama menikah dengan anak ketiga bukanlah takdir buruk. Ia hanyalah pesan leluhur agar dua pribadi kuat belajar lebih sabar.

Sebab sejatinya, pernikahan bukan soal urutan lahir atau weton semata, melainkan tentang dua hati yang mau saling mengalah dan saling menjaga. Jika itu ada, insyaallah rumah tangga tetap tentram.

EDITOR: Hanny Suwindari