← Beranda

Melarat Jadi Konglomerat! 5 Weton Unggulan Segera Mengakhiri Kisah Pedihnya dan Memulai Lembaran Menjadi Orang Kaya Baru 

Irfan FerdiansyahMinggu, 14 September 2025 | 19.51 WIB
seseorang yang jadi konglomerat setelah lama melarat
 

JawaPos.com - Dalam tradisi Jawa yang kuno, perjalanan hidup seseorang dipahami sebagai tidak terlepas dari takdir yang ditentukan oleh weton kelahiran. 
 
Beberapa orang mendapatkan keberuntungan dengan mudah sejak dini, sementara yang lain harus menghadapi pahitnya kemiskinan sebelum akhirnya bangkit. 
 
Namun, menurut primbon Jawa, terdapat sejumlah weton unggulan yang ditakdirkan untuk merasakan kemiskinan terlebih dahulu agar bisa menikmati keberhasilan sebagai konglomerat di kemudian hari.

Layaknya malam yang menjadi fajar, perjuangan yang panjang akan berujung pada kebahagiaan berlimpah. 
 
Baca Juga: Harta di Luar Logika! 7 Weton Unggulan Dianugerahi Kekayaan Tak Masuk Akal oleh Eyang Semar, Hidup Serba Ada Hingga Menua 
 
Dilansir dari Youtube Ngaos Jawa pada Sabtu (13/9), terdapat lima weton istimewa yang diyakini akan segera menutup bab penuh kesedihan dalam hidup mereka dan mulai menulis kisah baru sebagai orang kaya.

1. Weton Jumat Kliwon – Dari Terpuruk Jadi Penguasa Rezeki

Orang yang lahir pada hari Jumat Kliwon biasanya membawa “beban yang berat” sejak dini. 
 
Keberuntungan mereka sering terhambat, usaha sering gagal, dan kehidupan dipenuhi tantangan. 
 
Namun, primbon menegaskan bahwa kesulitan ini merupakan pembelajaran. 
 
Memasuki usia dewasa, Jumat Kliwon akan menuai hasil dari kerja kerasnya. 
 
Peluang dalam bisnis, properti, dan perdagangan pun terbuka lebar, menjadikannya konglomerat yang dihormati.
 
Baca Juga: Watak dan Keistimewaan 9 Weton dalam Primbon Jawa: Manakah yang Anda Miliki?

2. Weton Selasa Wage – Si Tahan Banting yang Menuai Emas

Selasa Wage dikenal sebagai weton yang penuh dengan ketekunan meskipun merasakan banyak kesulitan di awal. 
 
Mereka sering lahir dalam keluarga sederhana bahkan miskin. 
 
Namun, semangat juangnya sangat kuat. Setelah mencapai usia tiga puluh tahun, takdirnya berbalik dengan signifikan. 
 
Segala yang mereka sentuh dapat menjadi sumber penghasilan. 
 
Inilah yang menjadikan Selasa Wage sebagai simbol dari ‘melarat menjadi konglomerat’.

3. Weton Rabu Pahing – Sang Visioner yang Lama Terkekang

Mereka yang memiliki weton Rabu Pahing biasanya cerdas, inovatif, dan kaya akan ide. 
 
Sayangnya, nasib sering menahan mereka dalam kesulitan. 
 
Usaha yang dijalani sering tidak sukses, utang menumpuk, bahkan sering kali mengalami pengkhianatan. 
 
Namun, primbon menyatakan bahwa saat siklus kehidupan berputar, Rabu Pahing akan bangkit dengan ide-ide cemerlang yang membawa kekayaan tak terduga. 
 
Banyak dari mereka yang kemudian sukses di sektor teknologi, perdagangan, hingga investasi besar.

4. Weton Minggu Pon – Dari Serba Kurang Jadi Serba Ada

Orang-orang yang lahir pada Minggu Pon sering merasakan kekurangan selama masa kecil mereka. 
 
Kehidupan yang serba terbatas membuat cita-cita sering terhalang biaya. 
 
Namun, weton ini memiliki daya tarik yang luar biasa. 
 
Saat mulai memasuki masa keberuntungan, mereka dengan mudah mendapatkan dukungan dari individu berpengaruh. 
 
Kesempatan besar pun datang, menjadikan Minggu Pon sebagai salah satu weton yang ditakdirkan meraih kekayaan setelah lama hidup dalam kesulitan.

5. Weton Kamis Legi – Sabar yang Berbuah Kemewahan

Kamis Legi dikenal dengan kesabaran, ketekunan, dan daya tahan yang tinggi. 
 
Masa mudanya sering penuh tantangan, mulai dari masalah finansial hingga keterbatasan pendidikan. 
 
Namun, primbon menyatakan bahwa kesabaran adalah kunci utama.
 
Keberuntungan akan datang berlipat ganda pada masa dewasa.
 
Sering kali, mereka yang lahir pada Kamis Legi mampu bertransformasi menjadi orang kaya baru dengan kekayaan yang melimpah hingga masa tua.

Penutup: Dari Air Mata ke Kemewahan

Primbon Jawa mengajarkan bahwa kesengsaraan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju kebesaran. 
 
Lima weton di atas membuktikan bahwa siapa pun dapat beralih dari kemiskinan menjadi konglomerat, asalkan mau bersabar dan terus berjuang.

Walaupun nasib sudah ditentukan, kerja keras, doa, dan ketahanan tetap menjadi faktor penting. 
 
Pada akhirnya, kehidupan yang berlimpah tidak hanya berkaitan dengan kekayaan, tetapi juga tentang seberapa baik seseorang menghargai perjalanan dari kesulitan menuju keberhasilan.
 
EDITOR: Setyo Adi Nugroho