← Beranda

8 Pantangan Orang dengan Weton Tulang Wangi atau Darah Manis Menurut Primbon Jawa

Achmad AsroriMinggu, 23 Maret 2025 | 01.29 WIB
Ilustrasi- Pantangan orang dengan weton tulang wangi

 

JawaPos.com - Dalam budaya Jawa, weton kelahiran seseorang sering dikaitkan dengan berbagai pantangan dan aturan tertentu yang diyakini dapat mempengaruhi nasib dan keselamatan orang tersebut.

Salah satu weton yang memiliki aturan khusus adalah weton tulang wangi atau darah manis. Orang yang lahir dengan weton ini dipercaya memiliki aroma tubuh yang wangi secara alami dan darah yang terasa manis, sehingga lebih rentan terhadap gangguan makhluk gaib.

Melansir Youtube Mas Septy, berikut beberapa pantangan yang harus dihindari oleh orang dengan weton tulang wangi agar terhindar dari kesialan dan mendapatkan perlindungan yang lebih baik dalam hidupnya:

1. Menghindari pernikahan di bulan Suro

Menurut kepercayaan leluhur, menikah di bulan Suro dianggap membawa kesialan bagi orang dengan weton tulang wangi.

Bulan Suro adalah bulan sakral yang sering dikaitkan dengan peristiwa mistis dan spiritual, sehingga banyak orang percaya bahwa melangsungkan pernikahan di bulan ini dapat membawa kemalangan atau kesulitan dalam rumah tangga.

2. Tidak boleh merenovasi atau pindah rumah di bulan Suro

Selain pernikahan, kegiatan besar seperti renovasi rumah atau pindah rumah juga dilarang bagi orang dengan weton tulang wangi di bulan Suro.

Hal ini diyakini dapat mengundang energi negatif dan meningkatkan risiko kecelakaan, kegagalan, atau gangguan dari makhluk halus.

3. Dilarang keluar rumah pada malam 1 Suro

Malam 1 Suro dianggap sebagai waktu yang penuh dengan energi mistis dan dipercaya sebagai saat di mana makhluk halus berkeliaran dengan lebih aktif.

Orang dengan weton tulang wangi dianggap lebih menarik perhatian makhluk gaib karena aroma tubuhnya yang wangi dan darahnya yang manis, sehingga lebih rentan menjadi sasaran gangguan atau bahkan disantet oleh jin yang ingin menghisap energinya.

4. Tidak boleh melakukan ritual dengan energi negatif

Orang dengan weton tulang wangi dipercaya memiliki doa yang mustajab, terutama pada malam 1 Suro. Oleh karena itu, mereka dilarang untuk mengucapkan doa atau harapan buruk terhadap seseorang karena bisa menjadi kenyataan.

Sebagai gantinya, dianjurkan untuk selalu mendoakan hal-hal yang baik agar kehidupannya semakin berkah.

5. Berhati-hati dalam membuang pembalut saat menstruasi

Bagi perempuan yang memiliki weton tulang wangi, membuang pembalut menstruasi sembarangan dianggap bisa memancing perhatian makhluk gaib.

Oleh karena itu, disarankan untuk mencuci pembalut terlebih dahulu hingga bersih sebelum dibuang atau menguburnya agar tidak meninggalkan jejak energi yang bisa menarik makhluk halus untuk datang dan mengganggu.

6. Tidak boleh meninggalkan jejak darah sembarangan

Selain pembalut, setiap tetesan darah dari luka atau goresan yang keluar dari tubuh juga harus segera dibersihkan.

Jejak darah dipercaya bisa menjadi "penanda" bagi makhluk gaib untuk mendekati dan mencari pemiliknya, sehingga orang dengan weton ini lebih rentan mengalami gangguan seperti mimpi buruk atau bahkan kerasukan.

7. Menghindari aktivitas yang berisiko di bulan Suro

Selain larangan pindah rumah dan renovasi, orang dengan weton tulang wangi juga disarankan untuk mengurangi aktivitas yang berisiko tinggi di bulan Suro, seperti memulai usaha baru, bepergian jauh, atau melakukan ritual spiritual tanpa perlindungan yang cukup. Hal ini bertujuan untuk menghindari kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

8. Menguatkan energi positif dengan doa dan meditasi

Sebagai bentuk perlindungan diri, orang dengan weton tulang wangi dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan diri, berdoa secara rutin, dan memperkuat energi positif agar tidak mudah terganggu oleh pengaruh buruk dari makhluk halus.

Kesimpulan

Pantangan bagi orang dengan weton tulang wangi atau darah manis ini berasal dari ilmu titen, yaitu ilmu yang diwariskan oleh leluhur berdasarkan pengalaman dan pengamatan turun-temurun.

Meskipun tidak semua orang mempercayai hal ini, bagi sebagian orang yang masih memegang teguh tradisi Jawa, mengikuti pantangan ini dianggap sebagai bentuk usaha untuk menjaga keselamatan dan keharmonisan hidup.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho