Video Viral Pengusiran Biksu Hanya Salah Paham, Ini Penjelasan Polisi

11/02/2018, 11:12 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
video Biksu Mulyanto membacakan surat pernyataan. (screenshot)
Share this image

JawaPos.com - Video seorang biksu Buddha bernama Mulyanto Nurhalim membacakan surat pernyataan lengkap dengan materai Rp 6.000. Dalam tayangan tersebut dia masih memakai baju berwarna coklat khas seorang biksu. Dia menyatakan akan meninggalkan kampung Babat, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.

Videonya yang berdurasi 1 menit 45 detik itu viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Mulyanto mengatakan akan meninggalkan kampungnya dalam kurun waktu seminggu dari dibuatnya surat pernyataan tersebut. Terhitung tanggal 4 hingga 10 Februari.

Belakangan diketahui, kejadian ini berawal dari penolakan masyarakat Babat terhadap aktivitas keagamaan Mulyanto. Biksu ini dianggap mensyiarkan agama Buddha atau mengajak orang untuk masuk ke ajaran Buddha. Selain itu warga menduga telah terjadi penyalahgunaan fungsi tempat tinggal Mulyanto menjadi lahan ibadah.

Menurut keterangan Kapolsek Legok, AKP Murodih membenarkan pada tanggal 5 Februari lalu telah terjadi permasalahan di kediaman Mulyanto. Diduga setiap hari minggu sering diadakan kegiatan umat Buddha di kediaman biksu tersebut.

Kapolsek berpendapat bahwa jika dugaan tersebut benar, maka Biksu Buddha ini telah menyalahi aturan. Pasalnya rumah yang dia dirikan itu difungsikan hanya sebagai tempat tinggal. Karenanya ketika fungsi rumah tersebut berubah menjadi tempat ibadah umat Budha akan menimbulkan konflik di masyarakat sekitar.

"Jika memang dari awal itu (rumah) adalah izin tempat tinggal maka kembalikan sebagai tempat tinggal, jangan dijadikan tempat ibadah," ungkap Murodih di ruang Kerja Camat Legok, Kabupaten Tangerang.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Kepala Desa (Kades) Babat, Sukron Ma'mun. Menurutnya pada tahun 2010 lalu, Biksu Mulyanto membeli rumah di Desa Babat sebagai tempat tinggal bukan lahan ibadah umat.

"Permasalahan yang saat itu terjadi, singkatnya pada awal 2010 tanah yang dihuni oleh biksu saat itu dibeli untuk di bangun rumah bukan untuk dijadikan tempat Ibadah," ujar Sukron.

Sukron menegaskan bahwa selama ini rakyatnya hidup penuh toleransi terhadap penganut agama di luar Islam. Bahkan dia mengatakan ada dua orang kepala Rukun Tetangga (RT) merupakan seorang keturunan Tionghoa. Semua hidup rukun berdampingan. Masalah muncul ketika Mulyanto diduga menyalahi aturan pendirian bangunan.

Menanggapi hal itu, Romo Kartika selaku pemuka agama Buddha Jakarta mengakui bahwa rekan biksunya di desa Babat masih berusia muda sehingga minim pengalaman. Dia mengaskan bahwa di tempat itu tidak akan dibangun tempat ibadah. Romo juga menjamin tidak ada kegiatan keagamaan.

"Di tempat tersebut sama sekali tidak akan kami bangun tempat ibadah (Vihara atau Kelengteng) dan kami jamin di tempat tersebut tidak ada kegiatan ibadah," kata Romo.

Adanya kegiatan pada minggu di kediaman Mulyanto hanya sebatas Biksu tersebut mendoakan tamu yang datang. Hal itu dilakukan sebagai ucapan terima kasih atas pemberian makanan oleh para tamu.

Oleh sebab itu, menurut Romo, kebiasaan itu bukan merupakan suatu ibadah. Pasalnya dalam ajaran Buddha setiap Biksu di Indonesia telah disumpah oleh 5 orang Mahatera dengan 227 peraturan.

Beberapa aturannya meliputi dilarangnya seorang biksu melepas pakaian ibadahnya di manapun berada. Selain itu biksu juga dilarang memegang uang dan membeli makanan sendiri sehingga mengandalkan makanan dari pemberian umat Budha lain.

"Adapun kegiatan hari Minggu, dengan datangnya tamu dari luar, itu bukanlah kegiatan ibadah. Hanya datang memberi bekal makan dan Biksu sekadar mendoakan mereka yang telah datang. Terdapat 86 org Biksu di Indonesia dan telah dilakukan sumpah oleh 5 orang Mahatera dengan 227 peraturan," pungkas Romo.

Permasalahan ini pun telah dinyatakan selesai melalui musyawarah dengan melibatkan beberapa pemuka agama serta aparat penegak hukum hingga perangkat desa. Hasil rapat ini juga menyatakan ornamen-ornamen patung di halaman rumah Mulyanto yang dicurigai sebagai sarana ibadah umat Buddha untuk dimasukan ke dalam rumah agar tidak menimbulkan keresahan di kemudian hari. Seluruh pihak juga telah saling memaafkan satu sama lain.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi