← Beranda

Jamu, Kopi, dan Soda: Mempertahankan Tradisional dengan Cara Modern

Ilham SafutraMinggu, 19 Desember 2021 | 21.02 WIB
YANG MUDA DAN NJAMU: Sekelompok pemudi ibu kota menikmati sajian jamu modern sambil berbincang. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)
Kaum muda, terutama yang bermukim di ibu kota, lebih akrab dengan diksi mocktail, slushy, dan sparkling ketimbang jamu. Temulawak, kunir asam, atau beras kencur memang terdengar kuno. Tapi, kini penampilannya bisa semenarik mocktail, slushy, atau sparkling ”sumthin”.

---

SUWE Ora Jamu menonjol di antara deretan kedai FnB kawasan M Bloc Space. Bukan karena paling mentereng, tapi sebaliknya. Paling jadul. Suwe Ora Jamu membuat kita seperti sedang pulang ke rumah eyang. Mulai pandangan pertama sampai saat sudah menyandarkan punggung di kursi yang sengaja tampil lawas.

Nova Dewi, CEO Suwe Ora Jamu, sengaja mengusung perabotan kuno pengisi kedai dari Solo, kota yang menjadi tempat tinggal eyangnya. Dia menghadirkan Suwe Ora Jamu sebagai displai kuno di distrik modern yang identik dengan kaum muda.

Suwe Ora Jamu di M Bloc Space hanyalah 1 di antara 10 kedai milik Nova. Ada tiga Suwe Ora Jamu lagi di Jakarta. Gerai lainnya masing-masing satu di Surabaya, Bali, Lombok, Pekanbaru, dan Banyuwangi. Yang istimewa, satu kedai lainnya terletak di Sydney, Australia.

”Saya ingin jamu punya tempat yang setara dengan minuman kekinian lain,” kata Nova saat ditemui Jawa Pos pada 8 Desember.

Photo
Photo
RUMAH EYANG: Fasad gerad Suwe Ora Jamu langsung membawa pengunjung ke suasana tempo dulu. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Berdasar riset sejak 2012, Nova mengemas Suwe Ora Jamu sebagai minuman modern yang keren. Bukan hanya itu, Suwe Ora Jamu juga menyehatkan. Nova belajar langsung tentang berbagai macam herbal dan khasiatnya, berikut resep meramunya, secara khusus.

”Saya punya resep jamu dicampur kopi,” ujar perempuan kelahiran 1975 tersebut. Selain itu, dia menghadirkan varian beras kencur yang modern. Yakni, beras kencur slushy. Menambahkan soda dalam ramuan jamunya, Nova memperkenalkan jamu dalam kemasan kaleng dengan judul Sojamu.

Dalam pengembangan produk, Nova tidak mau sembarangan. Dia berkonsultasi dengan mereka yang pakar di bidangnya. Termasuk, dokter yang mendalami tentang herbal. Dia juga taat pada aturan Kementerian Kesehatan dan BPOM. Khususnya, dalam tahapan mengemas jamu dalam kaleng.

Kendati produk modernnya laris, Nova selalu mempertahankan jamu tradisional yang lebih dulu hadir dalam masyarakat. Barang kali, nama-nama itu hanya ada dalam memori mereka yang usianya tak lagi muda. Namun, dengan memberikan sentuhan modern dalam produk-produknya, Nova ingin kaum muda juga mengenal beras kencur, kunir asam, dan temulawak.

Photo
Photo
MELESTARIKAN TRADISI: Nova Dewi, pemilik Suwe Ora Jamu, punya kemauan keras untuk membuat jamu diterima kaum muda. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Nova juga menyematkan beberapa nama jamu yang kurang populer dalam menu Suwe Ora Jamu. Misalnya, jamu bergas waras. Ada pula jamu penambah nafsu makan dan jamu pegal linu. Bahkan, jamu obat diare dan gatal-gatal juga tersedia.

”Kami ikuti pasar juga,’’ imbuh Nova. Perempuan asal Surabaya itu mulanya menyandingkan menu jamu dan kopi. Saat itu, sekitar 2012, kopi sedang naik daun. Maka, dia pun menggunakan popularitas kopi untuk mengerek pamor jamu. Setelah berjalan sekitar tiga tahun, Nova berani menghadirkan menu-menu lain dengan tujuan ”memudakan jamu’’.

Photo
Photo
YANG MUDA DAN NJAMU: Meski namanya jadul, tampilan minuman tradisional itu sangat kekinian. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)
EDITOR: Ilham Safutra