alexametrics

Desa Wisata Kemiren Kental dengan Tradisi-Budaya Osing

Tempat Hidup Keturunan Hindu Blambangan
31 Oktober 2020, 19:55:37 WIB

Predikat desa wisata yang disandang Kemiren dimanfaatkan betul oleh pemerintah desa dan masyarakat di sana. Sekitar 2016, badan usaha milik desa (BUMDes) di Desa Kemiren mulai digenjot untuk menopang perekonomian desa.

BANYUWANGI memiliki Desa Wisata Osing. Lokasinya berada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Di sana, hidup sekelompok suku Osing. Mereka adalah masyarakat keturunan Hindu Blambangan yang masih tersisa. Mulanya, desa wisata itu berupa sawah dan hutan milik penduduk Desa Cungking, cikal bakal masyarakat Osing. Pada 1830, saat penjajahan Belanda, barulah lahir sebuah desa bernama Kemiren.

Jarak dari Kota Banyuwangi hanya 10 kilometer. Bisa ditempuh dengan sepeda motor atau kendaraan roda empat. Desa tersebut tergolong unik. Masyarakatnya kental dengan nuansa Osing (suku asli Banyuwangi). Ragam tradisi masih dilestarikan. Mulai rumah khas Osing, kesenian lesung, barong ider bumi, hingga tradisi mepe kasur. Ragam festival digelar di desa tersebut. Ada festival sepuluh ribu kopi dan jajanan khas Banyuwangi.

Seiring dengan pesatnya pariwisata, berdiri banyak homestay di desa tersebut. BUMDes punya peran penting mengelola aset desa. Pesantogan Kemangi, salah satu aset BUMDes berupa warung kopi yang juga melayani kuliner lokal Kemiren, merupakan yang pertama dibentuk. Berdiri di atas tanah milik kepala desa saat itu, Lilik Yuliatin, Warung Pesantogan Kemangi seolah dijadikan salah satu displai budaya kuliner masyarakat Osing Kemiren.

Masakan tradisional seperti pecel pitik dan uyah asem menjadi menu andalan yang siap disajikan setiap waktu. Tak hanya itu, produk kopi Jaran Goyang yang juga dibuat tangan-tangan pemuda Kemiren disajikan di sana.

Ketua BUMDes Kemiren Meiris Kurniawan, 29, mengatakan, ada lima unit usaha yang menjadi pijakan organisasinya. Mulai Warung Pesantogan Kemangi, Bank Sampah Bintang Timur, HIPAM Toyo Arum, Pokdarwis Kencana, sampai Pasar Kampung Osing. Di antara lima unit usaha itu, tiga adalah unit usaha yang sangat bergantung pada perkembangan pariwisata. Pesantogan Kemangi menjadi warung yang menyasar para wisatawan pencari kuliner asli Banyuwangi.

Kemudian, Pokdarwis Kencana bergerak di pelayanan jasa paket wisata, e-warung, dan homestay. Jelas sekali usaha itu sangat bergantung dan terpengaruh berkembangnya pariwisata Kemiren. Kemudian, Pasar Kampung Osing. Pasar yang menjajakan kuliner lokal Banyuwangi dengan menu lebih variatif dari yang disajikan di Pesantogan Kemangi itu juga menjadi andalan Desa Kemiren untuk memanjakan sekaligus menarik wisatawan. Baik yang lokal, domestik, maupun mancanegara.

Di pasar itu, berbagai jajanan dan masakan tradisional tersedia. Mulai gulali, sate bekicot, pecel kare, orog-orog, hingga bermacam minuman.

’’Sejak BUMDes bergerak dengan beberapa program wisata, masyarakat jadi lebih berdaya. Mereka –yang selama ini hanya menggantungkan hidup di pertanian– sekarang bisa mendapat uang lebih mudah dengan menjadi bagian dari program BUMDes,’’ kata Meiris.

Dalam setahun, Meiris mengatakan bahwa BUMDes bisa memutar uang Rp 1 miliar. Tetapi, pemasukan untuk desa hanya sekitar Rp 9 juta. Hal itu, menurut Meiris, terjadi karena uang yang dihasilkan BUMDes tidak diendapkan di kas, tetapi langsung disalurkan kepada masyarakat yang terlibat dalam semua program BUMDes.

’’Biasanya di BUMDes lain uangnya dikumpulkan, lalu akhir tahun dibagi atau dibuat untuk membangun apa. Kalau kami tidak. Kami ingin masyarakat makmur. Jadi, uang itu langsung diputar di masyarakat,’’ jelasnya.

Dia menambahkan, salah satu tujuan memutar uang langsung ke masyarakat adalah pendapatan warga Desa Kemiren bisa meningkat. Mereka tak perlu menunggu padi panen hanya untuk mendapat uang Rp 100 ribu. Cukup dengan menjadi bagian dari paket wisata atau membuka dagangan di Pasar Kampung Osing, masyarakat Kemiren bisa memperoleh uang secara langsung.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : fre/aif/c7/diq



Close Ads