alexametrics

Pakai Travel Bubble Dulu meski Pelaku Wisata Sudah Siap

25 April 2021, 13:01:39 WIB

SEBAGAI kawasan yang pendapatan terbesarnya berasal dari wisata, pandemi otomatis menghantam Bali sangat keras. Berbagai kebijakan penutupan dan pembatasan membuat jumlah turis, terutama dari luar negeri, anjlok drastis. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali sejatinya langsung bergerak, bahkan sejak pandemi baru merebak. Salah satunya, sertifikasi penyedia jasa pariwisata seluruh Bali.

Berdasar data mereka, ada sekitar 900 penyedia jasa, baik itu perhotelan maupun objek wisata, yang telah menerima sertifikasi setempat. Yakni, protokol tatanan kehidupan Bali era baru. ”Supaya tahu penerapan prokes (protokol kesehatan) agar wisatawan tidak menularkan Covid ke pekerja mereka atau pekerjanya tidak menulari wisatawan,” jelas Kepala Dinas Pariwisata Provinsi (Disparprov) Bali Putu Astawa.

Langkah serupa dilakukan pemerintah pusat melalui sertifikasi cleanliness, health, safety, and environment sustainability (CHSE). Ribuan penyedia jasa telah memenuhi persyaratan tersebut. Karena itulah, menurut Putu, sebenarnya pelaku wisata di Bali sudah siap.

Namun, pemerintah daerah juga perlu mengantisipasi bila ada pengunjung internasional yang berisiko menularkan virus, terutama varian baru. Karena itu, sementara ini mereka nenyiapkan sistem travel bubble. Jadi, ruang gerak wisatawan dibatasi. Artinya, seluruh aktivitas wisata mereka harus terpantau dan tidak boleh melenceng dari yang diperbolehkan pemerintah melalui agen perjalanan.

Putu menerangkan, pemda meminta seluruh wisatawan mancanegara yang datang harus melalui travel agent. Tidak bisa datang sendiri seperti dulu. Sebelum pergi ke Indonesia pun, mereka diminta mengisi berbagai persyaratan dari negara asalnya. ”Misalnya, menunjukkan surat bebas Covid-19, sudah divaksin, dan akan dites PCR lagi di bandara setelah tiba di Bali,” jelasnya.

Kawasan yang boleh dikunjungi juga masih terbatas pada zona hijau. Saat ini sudah ada tiga kawasan yang berstatus zona hijau: Ubud, Nusa Dua, dan Sanur. Seluruh wisatawan mancanegara (wisman) nanti diarahkan untuk berkegiatan dan menginap di daerah itu saja. Jadi, jangan langsung dibayangkan bahwa wisman akan memenuhi pantai-pantai lagi seperti Kuta atau Jimbaran. Tempat-tempat tersohor itu baru bisa dikunjungi wisman setelah evaluasi travel bubble tahap pertama ke tiga zona hijau tersebut. ”Kita ingin menjaga karena Bali terlalu besar namanya. Kita inginnya, sekali dibuka, ya selamanya dibuka,” tutur Putu.

ANDALKAN TURIS DOMESTIK: Iwan JP Syahlani bersama kapal miliknya, Annecha, yang terparkir di kawasan perairan Pantai Sanur, Bali (15/5). (HENDRA EKA/JAWA POS)

Disparprov Bali bersama stakeholder juga telah melakukan simulasi travel bubble tersebut mulai dari Bandara I Gusti Ngurah Rai pada Maret. Sekitar 300 orang disimulasikan sebagai wisman dan disiagakan pula 350 personel, termasuk dari kepolisian. Tujuannya, mengukur waktu yang dibutuhkan wisman yang datang untuk melengkapi semua prosedur kedatangan.

Baca juga: Menanti Wisatawan Mancanegara Membanjiri Bali Lagi

Selain wisman, pelaku wisata Bali bergantung kepada wisatawan domestik. Umumnya, wisatawan domestik ramai-ramai berdatangan ke Bali saat musim liburan. Namun, karena adanya pelarangan mudik saat Idul Fitri nanti, Putu memperkirakan jumlah pengunjung mungkin tidak sebanyak musim liburan biasanya. Jika tidak ada larangan, Angkasa Pura I Denpasar memprediksi jumlah penumpang di Bali bisa mencapai sepuluh kali lipat dari rata-rata harian. ”Selama April saja, rata-rata per hari ada 11 ribu penumpang,” ungkap Stakeholder Relation Manager PT Angkasa Pura I Taufan Yudhistira.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : deb/c14/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads