alexametrics

Hai Milenial, ”Di Indonesia Saja Dulu”

21 Juni 2020, 15:48:50 WIB

JawaPos.com – Pascapandemi Covid-19, diperkirakan terjadi paradigma dan tren berwisata baru. Turisme akan mengarah pada kesehatan dan kenyamanan pada berbagai sektor, mulai atraksi, akomodasi, preferensi produk, transportasi, hingga higienitas.

Menurut Direktur Komunikasi Pemasaran Kemenparekraf Martini M. Paham, saat normal baru akan ada tiga skenario traveler. Pertama, travel defense atau mereka yang berwisata tanpa memikirkan kondisi yang saat ini terjadi. Kedua, travel phobia adalah yang tidak mau berwisata.

Ketiga, travel wise, yakni traveler yang sangat memperhatikan banyak aspek, terutama protokol kesehatan.

”Kami berharap para milenial bisa menjadi pionir untuk cepat beradaptasi di era kenormalan baru yang serbadigital ke depan,” katanya.

Selain itu, Martini berharap kaum milenial Indonesia dapat membantu menyebarkan kampanye ”di Indonesia saja”. Sebab, pascapandemi Covid-19, pemerintah mendorong wisata domestik berperjalanan kembali sebelum fokus menggarap pasar wisatawan mancanegara.

Destinasi yang akan disiapkan untuk implementasi protokol kesehatan adalah Bali. Pulau Dewata merupakan magnet bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. Di sisi lain, Bali, terutama Nusa Dua, juga memiliki fasilitas yang memadai.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio pun terus berkoordinasi untuk memastikan kesiapan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali. Dia juga mengingatkan, pembukaan destinasi tak boleh buru-buru. Ketergesa-gesaan justru akan memicu terjadinya peningkatan jumlah pasien Covid-19. ”Sektor pariwisata sangat bergantung dengan kepercayaan wisatawan terhadap rasa aman dan nyaman,” katanya.

Bali, kata sang gubernur, I Wayan Koster, telah mempersiapkan tiga tahapan untuk implementasi protokol kesehatan menyambut kenormalan baru. Tahap pertama dilakukan pada 9 Juli. ”Kami mulai membuka untuk pergerakan di Bali dalam beberapa sektor, kecuali pendidikan dan pariwisata,” ujarnya.

Tahap kedua akan dilakukan pada Agustus mendatang dengan catatan apabila pergerakan tahap pertama kondusif dan berhasil. Tahap itu diperuntukkan wisatawan Nusantara.

Setelah tahap kedua berhasil, berlanjut ke tahap ketiga dengan mulai membuka destinasi bagi wisatawan mancanegara pada September. ”Tapi, ini hanya persiapan dan ancang-ancang, bukan jadwal pelaksanaan,” ungkapnya.

Hotel-hotel juga sudah menyiapkan diri menyambut wisatawan saat new normal. Mereka memperbarui standar kesehatan sejak 5 Juni sesuai anjuran Gugus Tugas Covid-19 dan World Health Organization (WHO).

Protokol kesehatan meliputi menjaga jarak, menyediakan hand sanitizer dan keran tempat cuci tangan, menyemprotkan disinfektan secara berkala, dan melakukan sterilisasi alat makan. Bahkan, ada yang secara kreatif mengganti nama new normal menjadi new lifestyle untuk menghilangkan kesan suram. ”Kami membuat panduan protokol pencegahan Covid-19. Sudah diedarkan ke semua hotel dan sudah dilaksanakan,” beber Hariyadi Sukamdani, ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia.

Meski demikian, kata Hariyadi, belum semua hotel buka. Sebab, permintaannya masih kecil. Masyarakat masih enggan bepergian dan masih ada kekhawatiran lantaran pandemi Covid-19 belum benar-benar reda. Mayoritas menunggu sampai awal Juli.

Namun, berbeda halnya dengan bisnis restoran yang sudah buka. Dalam kondisi new normal, pengelola bisnis hotel dan restoran dituntut untuk menghitung ulang kapasitas dan membatasi jumlah tamu. Angkanya tidak harus separo daya tampung total. Bisa dikurangi 40 persen atau 30 persen, bergantung besar restoran, gedung pertemuan, dan hotelnya.

”Orang yang sedang tidak makan harus selalu menggunakan masker. Industri ini membutuhkan keyakinan dari tamu dan pelanggan,” jelas Hariyadi.

Hal serupa dilakukan oleh Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA). Ketua Umum ASITA Rusmiati menerangkan, lebih dari 90 persen biro perjalanan menghentikan usahanya sementara.

Total kerugian diperkirakan mencapai USD 3,9 miliar. Karena itu, pembukaan kembali pariwisata diharapkan bisa membuat industri tour and travel bangun dari tidur panjang.

Ada beberapa inovasi yang dipersiapkan. Antara lain, membuat paket domestik untuk lokasi terdekat lebih dulu. Kemudian, membuat paket keluarga yang terpisah dengan transportasi, dalam arti wisatawan menggunakan kendaraan sendiri. Juga menggalakkan penggunaan audio guide sehingga peserta tidak harus mendengarkan bersama dalam jarak dekat.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : lyn/han/deb/c11/ttg



Close Ads