alexametrics

Geliat Berbagai Destinasi Ikonik di Masa Normal Baru

Menikmati Borobudur dari Jauh Juga Edukasi
21 Juni 2020, 15:08:10 WIB

Protokol ketat, termasuk tim dan peranti pemantaunya di lapangan, mengiringi geliat berbagai destinasi wisata. Jumlah pengunjung dibatasi, diatur sejak di tempat parkir.

MEMAKAI masker, face shield, dan membawa hand sanitizer memang merepotkan bagi Purwanto. Tapi, tidak bisa tidak, ketua Paguyuban Kusir Andong Jogjakarta itu harus melakukannya.

Begitu pula dengan aturan memasang tirai yang memisahkan kusir dengan penumpang andong, mesti dilakukan. Bahannya bisa dipilih, plastik, mika, atau akrilik.

Kusir andong, sebagaimana pelaku wisata lain di Jogjakarta, memang tak bisa menghindar dari beragam protokol kesehatan ketat. Itu ”harga” yang harus dibayar saat pariwisata di salah satu destinasi andalan Indonesia tersebut mulai menggeliat setelah habis-habisan dihajar pandemi Covid-19.

”Meski bikin ribet, kusir bisa menerima semuanya,” kata Purwanto kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Pemkot Jogja juga telah menerapkan QR code di kawasan Malioboro sejak Kamis pekan lalu (11/6). Itu untuk memudahkan pemantauan pengunjung.

Malioboro, salah satu tetenger Jogjakarta, dijadikan percontohan untuk penerapan QR code. Nantinya sistem itu juga diterapkan di seluruh sektor Kota Gudeg.

Sepelempar batu dari Jogja, di kompleks Candi Borobudur, Magelang, simulasi untuk menyiapkan normal baru telah dilakukan. Namun, di area taman saja. Di bangunan candi masih belum ada wacana untuk dibuka.

Tapi, toh, kata Direktur Utama PT Taman Wisata Candi (TWC) Edy Setijono, wisatawan tetap berdatangan. Sebab, mereka masih bisa menikmati candi peninggalan Wangsa Syailendra itu dari kejauhan.

Bagi Edy, itu edukasi juga. Menikmati candi tidak serta-merta harus memegang candi. ”Kami akan siapkan guide yang bisa menjelaskan,” terangnya.

HARUS PATUHI: Transportasi wisata andong menerapkan protokol kesehatan di kawasan Malioboro, Kota Jogja. (GUNTUR AGA TIRTANA/JAWA POS RADAR JOGJA)

Agar pengunjung menjaga jarak, pihaknya mengatur mulai masuk parkir, pembelian tiket, masuk di taman, sampai berhenti di depan candi. Semua markah pun telah disiapkan.

Ada pula pemandu yang akan mengingatkan para pengunjung jika melanggar protokol. ”Kami atur agar tidak terjadi kerumunan. Jangan sampai ini nanti berdampak tidak baik,” katanya.

Jakarta pun kemarin mulai membuka sejumlah taman hiburan, tentu dengan sederet prasyarat kesehatan ketat. Bali, destinasi ikonik Indonesia lainnya, tentu juga tak kalah ”ribet” dalam menerapkan protokol.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan, pihaknya memiliki tim khusus untuk mengontrol protokol kesehatan. ”Pemerintah Bali punya ketentuan apakah sudah layak atau belum,” tuturnya.

Bahkan, pemerintah Bali, melalui BPBD (badan penanggulangan bencana daerah), juga menyiapkan sertifikat kebencanaan. Bahkan, ada pula surat kesehatan.

”Itu untuk tamu-tamu VIP yang terkadang menanyakan adanya sertifikat untuk menjamin,” katanya.

Kesiapan lainnya adalah menekan angka pasien positif dan meningkatkan jumlah pasien sembuh. Laboratorium bertaraf internasional disiapkan. Begitu juga layanan rumah sakitnya. ”Payung hukum cleanliness, health, and safety (CHS) disiapkan,” bebernya.

Bali sebagai destinasi wisata utama Indonesia termasuk yang paling terpukul dampak pandemi. Pada Januari lalu ada pertumbuhan 20 persen di pendapatan daerah.

Saat itu Tiongkok sudah pandemi Covid-19. Tapi, jumlah wisatawan Negeri Panda ke Bali masih sekitar 130 ribu.

Memasuki Februari, jumlah wisatawan Tiongkok ke Bali turun 30 persen. Namun, masih bisa tergantikan oleh turis luar Tiongkok.

Begitu memasuki April, okupansi langsung menuju titik nol. ”Hanya tersisa 3.000-an wisatawan yang masih di sini,” ujarnya, lantas menambahkan bahwa pertumbuhan perekonomian Bali sekarang -14 persen.

Pelaku wisata di sekitar kawasan Gunung Bromo juga tak kalah terpukul. Untuk itu, BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo mendesak pemerintah agar segera membuka wisata andalan Jawa Timur itu.

Desakan tersebut bukan tanpa alasan. Selama wisata Gunung Bromo ditutup, hampir semua hotel tutup karena tidak ada pengunjung.

Desakan membuka Bromo oleh BPC PHRI Kabupaten Probolinggo itu disampaikan secara berjenjang. Mulai bupati Probolinggo, gubernur Jatim, BB-TNBTS, hingga Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

Dalam suratnya, BPC PHRI Kabupaten Probolinggo mendesak pemerintah supaya segera membuka kembali akses wisatawan berkunjung ke wisata Bromo. Mengingat, hampir tiga bulan aktivitas perekonomian mati di kawasan Bromo.

Digdoyo, ketua umum BPC PHRI Kabupaten Probolinggo, menyebutkan bahwa sebagian besar hotel dan restoran di kawasan Bromo juga harus merumahkan karyawan hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Keputusan itu diambil karena beratnya beban dalam menghadapi situasi di tengah pandemi Covid-19.

”Kami mendesak dibuka kembali wisata Bromo karena hotel dan restoran di sini sudah menyiapkan protokol kesehatan. Baik untuk karyawan maupun pengunjung,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Di Jogja, pemerintah setempat juga tetap memilih berhati-hati meski pariwisata mulai menggeliat. Jalan Malioboro, misalnya, dibatasi untuk 2.500 orang selama masa new normal. Padahal, di saat normal, jalan terkenal itu bisa dibanjiri 5.000 hingga 10.000 pengunjung.

Di sepanjang jalan itu juga akan dibagi ke dalam lima zona yang merupakan titik berkumpul pengunjung. Setiap zona terbagi kapasitas sekitar 500 pengunjung.

”Itu pun sebenarnya sudah terlalu padat. Nanti kami evaluasi terus,” ujar Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi.

Purwanto dan ratusan koleganya sesama penarik andong siap mematuhi apa pun aturan yang diterapkan pihak berwenang. Mulai pakai masker, bawa hand sanitizer, sampai pasang tirai.

Hanya satu yang agak sulit dia lakukan: meminta penumpang menjaga jarak. ”Lha penumpangnya kan biasanya dari satu keluarga bareng-bareng,” katanya, lantas tersenyum.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : lyn/wia/laz/din/c1/asa/mas/hn/c10/ttg



Close Ads