Ke Zermatt, Swiss, Resor Ski Bebas Emisi di Kaki Pegunungan Alpen

Laporan Wartawan Jawa Pos Dinarsa Kurniawan
14 September 2022, 21:30:57 WIB

Tidak hanya menyajikan wisata alam yang menarik, Zermatt juga berkomitmen untuk menjadikan wilayah tersebut bebas emisi. Karena itu, kendaraan konvensional menggunakan bahan bakar minyak tidak diizinkan masuk.

ZERMATT adalah sebuah desa wisata yang terletak di Swiss. Wilayah di Distrik Valais yang dikelilingi gunung-gunung tinggi tersebut masuk dalam gugusan pegunungan Alpen bagian barat. Gunung-gunung itu adalah Monte Rosa 4.634 meter di atas permukaan laut (mdpl), Dom (4.545 mdpl), Liskam (4.527 mdpl), serta Matterhorn (4.478 mdpl).

Matterhorn itulah yang melambungkan Zermatt yang tadinya adalah desa miskin. Ketika itu, sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dan peternak, bertransformasi menjadi sebuah destinasi wisata prestisius.

Sejak para pendaki gunung Inggris yang dipimpin Edward Whymper sukses mendaki Matterhorn pada 1865, nama Zermatt ikut meroket. Banyak pendaki yang singgah sebelum melanjutkan misi memanjat sampai ke puncak Matterhorn.

Selain Matterhorn, daya tarik wilayah dengan jumlah penduduk sekitar enam ribu jiwa itu adalah kendaraan listrik yang berseliweran di sana. Mobil-mobil itu terlihat sangat berbeda dengan yang biasa ditemui di tempat lain. Mobil listrik di Zermatt memiliki desain khusus. Bodinya lebih kecil dibandingkan jenis di tempat lain.

Di daerah itu memang hanya kendaraan listrik yang diizinkan beroperasi. Itu pun hanya milik perusahaan taksi atau perusahaan-perusahaan lain yang bergerak di berbagai bidang. Kendaraan milik warga tak diizinkan masuk ke area Zermatt. ’’Warga lokal dan para pekerja dari luar Zermatt diizinkan untuk membawa kendaraan mereka sampai gedung parkir yang ada di pinggiran,’’ ujar Rita Tatiana, karyawan sebuah hotel di Zermatt.

Jika warga lokal dan para pekerja diizinkan membawa kendaraan sampai gerbang kota, tidak demikian para pengunjung. Mereka hanya boleh melajukan mobil sampai Taesch yang berjarak sekitar 5 km dari Zermatt. Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan kereta atau shuttle dari perusahaan yang sudah mengantongi izin dari pemerintah lokal.

Mayoritas pengunjung memarkir kendaraan di Matterhorn Terminal Taesch yang mampu menampung 2.100 mobil. ’’Kalau ada yang nekat untuk melajukan kendaraan pribadi sampai Zermatt, polisi pasti datang dan Anda akan didenda,’’ imbuhnya.

Awalnya memang tidak ada larangan spesifik untuk membawa kendaraan berbahan bakar fosil sampai Zermatt. Pada 1950-an, hanya hitungan jari populasi mobil di Zermatt. Selain karena saat itu mobil memang sangat mahal, hal tersebut disebabkan kondisi jalan sangat buruk dari Saint Niklaus sampai Zermatt sehingga membutuhkan kereta kuda untuk mengangkut penumpang sampai Zermatt.

Sampai pada awal 1980-an, pemerintah lokal Zermatt memutuskan untuk sepenuhnya menggunakan kendaraan listrik. Namun, mereka memiliki aturan sendiri mengenai modelnya. ’’Lebar maksimal 1,4 meter dengan panjang maksimal 2 meter. Kendaraan listrik di Zermatt perlu didesain dalam bentuk yang kecil karena jalanan di sini juga sempit,’’ ungkap Bruno Imboden, co-owner Stimbo, perusahaan mobil listrik lokal yang memproduksi sebagian besar mobil listrik di Zermatt.

’’Selain itu, kecepatan dibatasi. Tidak boleh lebih dari 30 kilometer per jam,’’ tambahnya saat ditemui di workshop-nya yang berada di Spisstrasse, Zermatt.

Warga asli Zermatt itu mengatakan, dengan pembatasan-pembatasan tersebut, perusahaannya pun membuat desain yang kompak dan fungsional. Yakni, membawa orang dan barang serta mampu melewati jalanan sempit di Zermatt yang berkontur naik turun.

Mobil-mobil kecil buatan Stimbo itulah yang paling banyak digunakan untuk menggerakkan Kota Zermatt. Termasuk, sembilan armada bus listrik yang melayani dua rute juga dibuat Stimbo. ’’Sampai saat ini, ada sekitar 500 kendaraan listrik dengan berbagai kegunaan yang terdaftar di Zermatt. Dari jumlah itu, mungkin 60 sampai 70 persen buatan kami,’’ ujarnya.

Mobil-mobil listrik generasi terbaru keluaran Stimbo menggunakan baterai lithium-ion berkapasitas 40 kWh dengan daya 360 volt. Untuk mengisi dayanya sampai penuh, hanya dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Jika sudah penuh, mobil bisa dikendarai sampai 140 km.

Bruno menuturkan, di Zermatt, pemilik mobil listrik mengisi daya mobil di tempat sendiri-sendiri. Tidak perlu ada fasilitas semacam stasiun pengisian listrik umum (SPLU). ’’Karena memang Zermatt wilayahnya kecil dan ini bisa di-charge sendiri pakai listrik di rumah. Jadi, kami memang tidak memerlukan fasilitas pengisian daya publik,’’ ujarnya.

IKON DESTINASI WISATA: Mobil listrik dan Gunung Matterhorn adalah ikon Zermatt yang menarik para wisatawan untuk berkunjung. (Dinarsa Kurniawan/Jawa Pos)

Bus Penuh Melaju tanpa Hambatan di Jalanan Menanjak

ADA sekitar 500 mobil listrik yang teregistrasi di Zermatt. Sembilan di antaranya adalah bus listrik. Yang merupakan satu-satunya transportasi umum di Zermatt.

Bus-bus tersebut beroperasi melewati tiga jalanan utama sampai mendaki ke jalanan-jalanan kecil yang tersebar di seantero wilayah yang memiliki luas 246,47 kilometer persegi tersebut. Waktu layanannya mulai pukul 07.00 hingga 18.00.

Kendaraan umum itu memiliki dimensi lebar 2,25 meter dengan panjang 8,7 meter. ’’Bus listrik mampu menampung sampai 70 penumpang sekali jalan,’’ ujar Bruno Imboden, co-owner Stimbo, perusahaan pembuat sebagian besar mobil listrik di Zermatt, termasuk bus listrik.

Wartawan koran ini menjajal menaiki bus listrik untuk keliling Zermatt. Dari stasiun, ada haltenya. Saat itu, banyak penumpang yang turun dari kereta dan menggunakan transportasi publik tersebut. Penumpang bus relatif penuh dengan beberapa orang berdiri.

Layaknya mobil listrik, transportasi publik itu berjalan dengan senyap. Saat melalui jalanan sempit dan berkelok, bus mampu melaju dengan mulus. Termasuk tanjakan di daerah pegunungan itu.

’’Memang sebuah tantangan untuk membuat bus yang lebih besar dan berat menanjak. Tapi, kami sudah melakukan uji coba sampai akhirnya berhasil,’’ ucap Bruno. ’’Kami memerlukan waktu hampir setahun untuk membuat satu bus,’’ imbuhnya.

Menaiki bus listrik adalah solusi hemat untuk berkeliling Zermatt atau menuju hotel tempat menginap dari stasiun. Tarif yang dipatok untuk menaiki bus listrik di Zermatt adalah CHF 4 (sekitar Rp 62 ribu). Jika Anda memutuskan membeli tiket langganan mingguan, harganya CHF 22 atau berkisar Rp 342 ribu. Namun, bila memiliki Swiss travel pass, tarifnya bisa gratis. Bandingkan apabila naik taksi, harus merogoh CHF 17 atau sekitar Rp 264 ribu untuk dua orang, sekali jalan.

Selain mobil, bus, dan kereta, cable car yang mengantar pelancong ke sejumlah resor ski juga menggunakan listrik.

Misalnya, kereta gantung yang mengantarkan ke Matterhorn Glacier Paradise, sebuah resor ski di Klein Matterhorn. Di sana, saat musim dingin, pengunjung bisa bermain ski. Selain itu, mereka bisa menikmati Gunung Matterhorn yang masyhur lebih dekat dengan view menakjubkan.

Dari Zermatt, pengunjung bisa naik cable car berukuran lebih kecil, berkapasitas 8 orang, sampai ke Stasiun Trockener Steg. Kemudian, melanjutkan perjalanan dengan kereta gantung lebih besar menuju Stasiun Matterhorn Glacier Paradise. Kereta gantung yang didesain Pininfarina tersebut berkapasitas 28 orang.

Stasiun itu memiliki tinggi 3.883 meter di atas permukaan laut, yang merupakan stasiun pegunungan tertinggi di Eropa. ’’Pemandangannya sangat menakjubkan. Sangat layak untuk dicoba. Kali pertama saya naik sampai setinggi ini,’’ ungkap Aaron Case, seorang turis dari Amerika Serikat yang datang bersama pasangannya.

MOBIL RAMAH LINGKUNGAN DI KAWASAN WISATA

Zermatt tidak memiliki stasiun pengisian listrik umum (SPLU).

Sebanyak 500 mobil listrik terdaftar di Zermatt.

Digunakan untuk berbagai kebutuhan. Ada taksi, shuttle hotel, mobil pengangkut sampah, pikap, bus, hingga mobil boks.

ZERMATT menawarkan berbagai macam WISATA. Mulai ski, hiking, bersepeda gunung, hingga wisata kuliner.

Tidak ada insentif khusus dari otoritas lokal untuk pembelian mobil listrik.

Berbagai brand kelas atas Swiss membuka gerai di Zermatt.

Di antaranya, Rolex, Swatch, dan Breitling.

Diolah dari berbagai sumber

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Dinarsa Kurniawan

Saksikan video menarik berikut ini: