alexametrics

Menyusuri Objek Wisata Purna Desa Nglanggeran, Gunungkidul, Jogjakarta

14 Mei 2022, 13:48:49 WIB

Pelancong level ’’pro’’ sekalipun tak akan mampu menghindari jerat pikat Desa Nglanggeran, Gunungkidul, Jogjakarta. Hampir semua varian wisata tersaji secara rapi di sana. Mulai konservasi, bahari, edukasi, budaya, sosial, hingga kuliner. Ibarat kata, satu lokasi menyajikan ragam sensasi.

RASA secangkir cokelat yang tersaji begitu memanjakan lidah. Kenikmatannya makin bertambah dengan keindahan luar biasa di depan mata. Hamparan pepohonan rindang, terasering persawahan di kaki bukit, serta pesona yang paling superior; Gunung Api Purba.

Ditambah udara segar cenderung dingin khas pegunungan membuat siapa pun yang menikmatinya kian terlena. Perfect. Semua sensasi itu bisa dinikmati di Restoran Pawon Purba yang berada di kompleks Objek Wisata Purna Desa Nglanggeran, Jogjakarta.

Keindahan itu pula yang menjadi ’’pemikat awal” para wisatawan untuk menyusuri Gunung Api Purba dan berbagai wahana lain di desa wisata berbasis komunitas itu. Mulai Embung Nglanggeran, Puncak Kampung Pitu, hingga Air Terjun Kedung Kandang.

Untuk menuju ke Gunung Api Purba, para traveler harus berjalan kaki sekitar satu jam. Namun, jangan khawatir. Jalur yang tersaji sungguh menawan, terutama jalan celah bebatuannya. Sesekali tampak replika fosil-fosil hewan masa lampau yang dibuat menonjol. Ending-nya adalah keindahan sunrise dan sunset di puncak tertinggi.

Setelah puas berada di Gunung Purba, traveler bisa mengeksplorasi keindahan dan keunikan di Puncak Kampung Pitu. Sebuah desa yang memiliki tradisi dan budaya yang jarang ditemui. Di sana, hanya diperbolehkan ada tujuh kepala keluarga.

Aris Budiyono, anggota kelompok sadar wisata (pokdarwis), menuturkan, memang aturan lokal itu yang menjadi daya tarik kampung tersebut. ’’Tujuh kepala keluarga tidak lebih, tidak kurang,’’ ujarnya.

Dengan aturan hanya tujuh kepala keluarga, jika ada seorang anak yang menikah, dia tidak boleh membuat kartu keluarga (KK) sendiri. Kepala keluarganya tetap sang ayah atau kakeknya. Namun, jika sang anak ingin membuat KK sendiri, dia harus keluar dari desa. ’’Semua itu sudah berlangsung sangat lama,’’ tuturnya.

Karena tradisi itu pula, lazim jika dalam satu rumah bisa terdapat beberapa keluarga. Mulai kakek nenek, ayah ibu, anak dan menantu, hingga cucu dan menantunya. ’’Bercabang banyak dalam satu rumah,’’ paparnya.

Setelah dari Puncak Kampung Pitu, Embung Nglanggeran juga recommended untuk disinggahi pengunjung. Meski aslinya adalah waduk buatan untuk mengairi sawah, keindahannya tak perlu diragukan.

Di sana, pengunjung bisa menikmati sajian sunrise dan sunset kedua di Desa Nglanggeran yang berbeda dibandingkan di puncak Gunung Api Purba. Selain sinar matahari, pantulan cahaya melalui embung menambah keindahan yang memanjakan mata.

Berkunjung ke Air Terjun Kedung Kandang juga ’’wajib’’. Keindahan air terjun tujuh tingkat menjadikannya sebagai spot berfoto favorit. Selain itu, atraksi alam itu langka. Sebab, air terjunnya musiman. ’’Hanya ada saat musim hujan. Saat musim kemarau, tidak ada air yang mengalir,’’ ungkapnya.

Seluruh petualangan itu tentu saja sangat melelahkan. Namun, semua itu akan hilang ketika singgah di Pawon Purba, restoran milik Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Nglanggeran yang mengelola wahana itu. Restoran tersebut menjadi spot wisata kuliner lokal Gunungkidul. Plus berelaksasi. ’’Menunya dari berbagai bahan yang ditanam warga desa. Seperti minuman cokelat atau empleng-empleng (makanan berbentuk seperti rempeyek, tapi agak basah dari ketan),’’ ujar Aris.

Karena itu, wajar jika banyak pelancong yang menyebut kurang lengkap jika tidak datang ke Nglanggeran saat berada di Jogjakarta.

Atraksi Membuat Cokelat dan Menanam Padi

TAK hanya menyajikan ragam wisata berbasis alam yang begitu memikat mata yang memandang, potensi lain yang bisa dieksplorasi para traveler saat berkunjung ke Desa Nglanggeran adalah cokelat.

Ya, desa tersebut memang juga dikenal akan kebun cokelatnya yang begitu luas. Potensi itu sukses dimanfaatkan dengan apik oleh pemuda dan pemudi desa yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Nglanggeran. Bukan hanya sebagai atraksi wisata, melainkan juga wahana edukasi.

Di sana, para wisatawan berkesempatan merasakan langsung cara membuat aneka makanan-minuman dari cokelat. Mulai pengambilan biji kakao, proses fermentasi, penggilangan dan roasting, hingga pengolahan menjadi bubuk cokelat.

Bubuk itulah yang kemudian dijadikan bahan untuk membuat aneka makanan hingga minuman berasa cokelat. ’’Pembuatannya inilah yang menjadi atraksi wisatanya,’’ tutur Aris, anggota pokdarwis seksi pemasaran.

Tak hanya menambah pengetahuan para pengunjung, strategi tersebut sukses menambah income warga Desa Nglanggeran. Warga tak lagi hanya mengandalkan hasil produksi bubuk cokelat. ’’Dua pendapatan dari satu proses,’’ urainya.

Wisata edukasi lain yang bisa dinikmati adalah proses menanam padi. Pengunjung seakan-akan diajak untuk menikmati kehidupan khas pedesaan. Merasakan menanam padi di atas sawah penuh lumpur hingga membajak sawah dengan sapi.

Semua sajian atraksi itu juga berdampak positif bagi warga desa. Mereka kini memiliki tambahan pendapatan. Hasilnya, tingkat kesejahteraan warga desa bisa meningkat. ’’Intinya, kreatif dalam memanfaatkan potensi,’’ ujarnya.

Dengan kreativitas itu, kini Desa Nglanggeran mampu berbangga diri. Tidak lagi menjadi desa yang ketinggalan zaman, tetapi menjadi desa jujukan wisatawan domestik dan mancanegara.

SISI LAIN

– Pada 2021, desa ini menyabet predikat Best Tourism Village 2021 dari Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).

– Pada 2017, desa ini meraih penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award.

– Desa wisata ini masuk kawasan Geosite Gunung Sewu.

– Gunung Api Purba telah diakui sebagai situs Geopark Global Gunung Sewu oleh UNESCO.

– Desa wisata ini mengusung konsep wisata terpadu.

– Mulai wisata alam, edukasi, sejarah, budaya, geologi, hingga wisata kuliner.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : idr/c12/ris

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads