alexametrics

Ke Singapore ArtScience Museum saat Pameran Tematik Floating Utopias

Oleh: Nadia Hanum, Wartawan Jawa Pos
29 Juli 2019, 12:36:04 WIB

SINGAPURA punya lebih dari 50 museum yang menjadi daya tarik wisatawan. Museum-museum tersebut aktif memamerkan karya seniman dalam kurun waktu tertentu.

Jarak cukup dekat, transportasi publik lengkap, dan banyak menu kuliner enak. Tiga hal yang membuat Singapura selalu menjadi destinasi favorit, baik untuk family trip maupun backpacker-an.

Bersama Singapore Tourism Board (STB), saya mengunjungi salah satu destinasi favorit, ArtScience Museum. Musem yang lokasinya terintegrasi dengan kawasan resor Marina Bay Sands itu sedang menggelar pameran tematik Floating Utopias. Digelar empat bulan saja, sejak 25 Mei hingga 29 September nanti.

Saya terpukau akan lebih dari 40 karya seni dari tangan dingin 15 seniman yang dipajang dalam satu ruangan. Pameran tersebut berangkat dari jejak sejarah balon udara yang kali pertama melayang pada abad ke-18. Bagaimana kali pertama manusia mampu melampaui batas dan melihat bumi dari atas.

SEPERTI BETULAN: Museum of the Moon karya Luke Jerram ini menarik perhatian banget. Bulan yang dipajang ini seperti sungguhan. Foto bawah, kelinci superbesar karya seniman Jepang Momoyo Torimitsu. (Nadia hanum/Jawa Pos)

Saya ’’menemui’’ dua ekor kelinci berukuran supergiant yang terbuat dari plastik. Tingginya lebih dari tiga kali tubuh saya. Kelinci itu merupakan karya seniman Jepang Momoyo Torimitsu. Dia menyampaikan kritik sosial tentang stereotip terhadap sesuatu yang cantik, manis, dan imut, tapi tak memiliki ruang gerak yang bebas.

Ah, ya! Ada kelinci lain yang ikut pameran, Walter, karya seniman Dawn Ng. Kelinci putih itu sudah sering ada di ruang publik Singapura. Mulai dekat blok apartemen sampai di tengah-tengah stasiun MRT. Dawn Ng ingin menyampaikan pesan, meski hitungan usia telah banyak, tidak masalah untuk tetap berimajinasi. Melihat keseharian secara lebih menarik.

Namun, buat saya, highlight dalam pameran itu adalah karya Luke Jerram. Judulnya Museum of the Moon. Saya seolah melihat bulan dari dekat. Detailnya persis dengan permukaan bulan. Tipuan visual itu coba mengantarkan pesan tentang perspektif manusia terhadap bulan.

Bulan dipandang sebagai dewa, pengukur waktu, penanggalan, sampai pembantu navigasi. Bahkan menjadi inspirasi bagi seniman dan imajinasi bagi para ilmuwan. Saya betah berlama-lama memandangi bulan di museum ini. Bucket list saya untuk mengitari museum tahun ini, checked!

IMAJINASI: Penulis di depan deretan lukisan yang merupakan bagian dari Wonderland, pameran interaktif untuk merayakan dongeng karya Lewis Caroll, Alice in Wonderland. (Dok. Nadia Hanum)

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c5/jan

Close Ads