alexametrics

Sambal Iwak Pe Mak Yeye: Awalnya Kotokan, Akhirnya Jadi Penyetan

28 Oktober 2020, 17:33:01 WIB

PENYETAN Mak Yeye di dekat Pasar Wonokromo memang baru buka sekitar pukul 21.00 tiap malam. Tapi, ritual menghadirkan seporsi sambal penyet ikan pari alias iwak pe itu dimulai pukul 14.00.

Dwi Sintasari, cucu Mak Yeye, menuturkan, pembuatan sambal itu memang nyaris seharian. Ada 14 karyawan yang bertugas mengolah sekitar 1,2 kuintal tomat dan 25 kg cabai rawit setiap hari. Lauknya seperti telur bisa 1 kuintal per hari. ”Iwak pe sampai 60 kg,” kata Dwi.

Warung tersebut baru buka malam itu juga karena menyesuaikan kedatangan ikan pari pada pukul 20.00. Ikan datang langsung dimasak agar tetap fresh dan tidak bau pesing.

Dwi juga bercerita sang nenek, Mak Yeye yang punya nama asli Supiani, sejak dulu berjualan malam hari. Tapi, kuliner yang dijual bukan penyetan ikan pari awalnya. Melainkan, kotokan iwak pe yang dimasak dengan santan dan rasanya pedas.

Namun, jualan tersebut tidak terlalu laris. Saking tak lakunya, jualan itu sampai dibagikan ke tukang becak. Tapi, yang dibagikan ikan pe dalam bentuk penyetan, bukan kotokan. Ternyata mereka suka. Dari situlah Mak Yeye berganti menu dari kotokan menjadi penyetan iwak pe. ’’Jadi, menu ini karena kebetulan,’’ ujar perempuan 28 tahun tersebut.

Penyetan Mak Yeye buka sejak 1980-an. Dulu berlokasi di dalam Pasar Wonokromo. Sekitar 1990 tempat jualan Mak Yeye pindah lokasi karena kebakaran pasar itu.

Baca juga:

Dwi mengatakan selalu menjaga kualitas ikan pari maupun sambal. Meski, pembuatan dan bahan sambal itu simpel karena hanya menggunakan cabai rawit, cabai merah, tomat, dan terasi. Lalu, ditambah garam dan gula. ”Karena semua sudah hafal rasa penyetan Mak Yeye,” katanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : omi/c7/jun



Close Ads