alexametrics

Popularitas Jalur KA Cibatu–Garut Tergilas Motor dan Mobil

26 September 2021, 16:51:38 WIB

KUSWARDOYO, manajer Humas PT KAI Daop 2 Bandung, mengatakan bahwa jalur Cibatu–Garut tutup karena kalah bersaing. Tepatnya kalah bersaing dengan moda transportasi darat lainnya, yakni motor dan mobil. Masifnya penggunaan motor dan mobil membuat kereta api tidak laku.

Kini jalur tersebut direaktivasi saat jalanan di Kota Garut dan sekitarnya kian padat. Macet. ”Kalau weekend jalan-jalan ke Garut capek karena macetnya,” kata Kuswardoyo pada awal bulan lalu. Setiap akhir pekan Garut memang menjadi jujukan wisatawan. Mereka berburu destinasi wisata, mulai gunung, candi, hingga pemandian air panas.

Sekarang belum banyak penyedia jasa travel yang mengantar penumpang sampai pusat Kota Garut. Maka, reaktivasi jalur kereta api Cibatu–Garut dan Stasiun Garut adalah solusi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut dan KAI menyiapkan dua kereta lokal untuk melayani rute Cibatu–Garut. ”Insya Allah tarifnya lebih murah dari angkutan yang lain,” imbuh Kuswardoyo.

Senada dengan jalur Cibatu–Garut yang mati karena kalah bersaing, trayek kereta api di Madura juga tamat pada 1987. Namun, sebelum ditinggalkan masyarakat karena gencarnya pertumbuhan mobil dan motor, kereta api mati karena kebijakan Jepang.

”Sebenarnya pada 1945 kereta api Madura sudah mulai tidak beroperasi. Pada zaman penjajahan Jepang, rel-rel itu banyak dilucuti,” ungkap Manajer Komersialisasi Non Angkutan Madura Akyadi pada Kamis (23/9).

Dulu Belanda membangun jalur kereta api di Madura untuk mempermudah distribusi garam. Sebab, Madura adalah penghasil garam terbesar di Indonesia. Lebih tepatnya, produsen garam Madura adalah Kalianget di Sumenep. Sejak era kolonial, PT Garam (Persero) pun punya jalur kereta api sendiri dalam kawasannya.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads