alexametrics

Lima Alasan Kota Lama Semarang Cocok jadi Opsi Libur Akhir Tahun

25 November 2019, 22:58:11 WIB

JawaPos.com – Masih bingung merencanakan liburan akhir tahun? Semarang mungkin bisa menjadi destinasi yang tepat.

Semarang bisa menjadi destinasi wisata yang menarik karena sangat kental dengan budaya dan sejarahnya. Bahkan, di salah satu sudut kotanya, Semarang masih menyimpan kawasan kota tua peninggalan zaman kolonial bergaya vintage yang dinamai Kota Lama Semarang.

Berikut berbagai hal yang dapat Anda kunjungi sembari menikmati indahnya pesona Kota Lama Semarang:.

 

1. Kuliner
Kota Semarang sangat terkenal akan kulinernya, mulai dari belasan resep Soto yang berbeda-beda di setiap warung yang bisa Anda temukan di seluruh sudut kota, hingga sedapnya Nasi Gandul dan Nasi Ayam khas Semarang yang menjanjikan rasa yang khas di lidah. Salah satu spot kuliner yang paling terkenal di Kota Lama Semarang adalah Nasi Goreng Babat Pak Karmin. Lokasinya berada tepat di sebelah Kawasan Jembatan Mberok, Kota Lama Semarang. Berusia lebih dari lima dekade, kedai ini merupakan salah satu kedai nasi goreng babat terenak yang dapat Anda kunjungi di kawasan Kota Lama Semarang.

Jika nasi goreng mungkin bukan selera Anda, maka bisa mencoba berkunjung ke Gulai Bustaman Pak Sabar. Berlokasi tepat di belakang Gereja Blenduk, Kota Lama, Semarang, sajian gulai sapi di kedai ini punya keunikan tersendiri dimana kuahnya tidak menggunakan santan, namun tetap terasa sedapnya. Kedai ini sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Tidak heran, tempat ini sering dijadikan jujugan kulineran selain karena lokasinya yang strategis, rasanya yang unik, dan harganya yang relatif terjangkau, sekitar Rp 30.000 per porsi.

 

2. Galeri Seni
Jika Anda mencari tempat indoor yang tak kalah indahnya dengan eksterior bangunan di Kota Lama, maka Anda bisa mengunjungi beberapa galeri seni yang berada di area ini. Salah satu galeri yang terkenal di area ini adalah Semarang Contemporary Art Gallery yang terletak di Jl. Taman Srigunting No. 5-6. Tempat ini merupakan sebuah bangunan tua yang telah mengalami pemugaran beberapa kali. Dalam sejarahnya, bangunan ini pernah diruntuhkan dan dibangun kembali di tahun 1918 dengan gaya kolonial dan tercatat sebagai kantor pertama sebuah perusahaan asuransi bernama ‘De Indische Lloyd’ di tahun 1937. Anda dapat mengunjungi tempat ini hanya dengan cukup membayar tiket masuk Rp 10.000 per orang.

 

3. Spot foto
Tidak lengkap rasanya bila mengunjungi kawasan Kota Lama Semarang tanpa mengabadikan berbagai bentuk arsitektur menawan di sana. Bagi Anda yang menggemari fotografi, selalu ada spot menarik di setiap sudut Kota Lama Semarang yang bisa Anda abadikan. Berbeda dari beberapa tempat Instagrammable‘ yang kerap ditemui oleh para pelancong di destinasi-destinasi wisata dengan warna-warna yang mencolok dan desain yang post-modern, spot foto di Kota Lama Semarang cenderung lebih kalem dan memberikan feel yang lebih otentik kepada hasil foto.

 

4. Arsitektur Unik
Salah satu spot yang terkenal di kawasan Kota Lama Semarang adalah Gereja Blenduk yang memiliki kubah khas berbentuk setengah bola. Berdiri dengan nama asli GPIB Immanuel Semarang, Gereja ini dibangun pada 1753 dan merupakan salah satu gereja Kristen tertua di Indonesia. Periode pembangunan gereja ini memberikan pengaruh neo-gothik ala eropa yang sangat kuat di desain arsitekturnya. Merupakan ikon dari kawasan Kota Lama, rasanya wajib jika mengunjungi tempat ini untuk mengabadikan keunikan arsitekturnya.

 

5. Menginap di Hotel Vintage
Setelah puas mengabadikan foto yang ada di Kota Lama, mengapa tidak mencoba membawa pengalaman ke tingkat berikutnya dengan menginap di salah satu bangunan bersejarah di Kota Lama? Achterhuis Guesthouse terletak di lokasi yang sangat strategis, dekat dengan stasiun Tawang, dan hanya berjarak 600m dari Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang. Memadukan desain klasik namun tetap dengan fasilitas menginap yang memadai seperti air hangat, AC, linen yang bersih, TV, dan koneksi WiFi gratis, Achterhuis Guesthouse sangat cocok untuk pengalaman menginap yang unik, mudah, terjangkau, dan terstandarisasi dengan sentuhan lokal.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads