alexametrics

Durian Kendi Kabupaten Malang, Bentuknya Lebih Mirip Buah Pumpkin

Laporan GALIH ADI PRASETYO BOY SLAMET
20 Maret 2020, 19:14:20 WIB

Banyak hal yang menjadi dasar pemberian nama durian. Bisa karena sejarah, bentuk, warna, atau lainnya. Demikian pula dengan varietas unggulan dari Desa Sumberagung, Kecamatan Ngantang, ini.

NAMA durian yang satu ini tidak sulit ditebak. Bentuknya yang bantet dan bulat membuatnya sangat mirip dengan wadah minuman tradisional di Jawa, kendi. Karena itu, durian tersebut dinamai durian kendi.

Varietas yang satu itu memang memiliki bentuk yang begitu unik dan menarik. Bulatnya seperti bola. Kata orang Jawa, bunder ser-ser. Namun, bagian ujung dan atasnya rata. Malah, jika dilihat dari atas, bentuknya lebih mirip dengan buah pumpkin atau waluh.

Buahnya memang tak terlalu besar. Warnanya sekilas juga kurang meyakinkan. Kuning pucat. Namun, jangan meremehkan kualitasnya. Durian tersebut masuk kategori unggul.

Dari segi ketebalan hingga teksturnya, durian kendi bisa disandingkan dengan durian unggulan lain. Selain itu, punel dan lembutnya daging buah membuat varietas tersebut begitu digemari.

Rasanya? Lebih banyak ke manis dan sedikit gurih. Tidak seperti durian Malang lain, varietas itu hampir tidak ada pahitnya. Namun, rasa yang diberikan tidak terlalu berat, cenderung soft, sehingga mudah diterima lidah penikmat pemula maupun maniak.

Berat tiap buah rata-rata 1–2 kilogram. Memang tahun ini sedikit susut karena pengaruh cuaca. ”Kemaraunya terlalu panjang, semua pohon juga mengalami hal yang sama,” papar Amad Kasrawi, petani dan pemilik pohon durian kendi.

Per tahun jumlah buahnya juga sedikit, paling banter hanya seratus buah. ”Usia pohonnya hampir seratus tahun,” papar Amad.

Karena jumlah yang sedikit itu, banyak yang harus mengantre untuk mendapatkannya. Peminatnya pun bukan dari Malang saja. Banyak penggemar dari luar kota yang rela datang ke Ngantang untuk mendapatkan buah itu. ”Harus saya bagi, meski sudah datang ke sini, saya kasih sedikit,” ujarnya.

Di sana, durian tersebut sudah dibuidayakan. Karena karakteristik buah yang bagus, varietas itu sering dijadikan batang bawah pada proses sambung. ”Saya meyakini batang bawah juga berperan menentukan bagus tidaknya batang atas. Karena itu, saya jadikan durian yang bagus untuk dijadikan batang bawahnya,” papar Amad.

Diberi Nama agar Tak Menimpa Pemilik

Asal usul nama varietas durian di Jatim begitu beragam. Tak hanya melulu karena bentuk, rasa, warna, dan cerita yang menyertai, ada juga durian yang namanya dipilih karena faktor ”kepercayaan”.

Cerita itu datang dari Bangkalan. Di sana, sebagian varietas dinamai sesuai dengan nama pemiliknya atau pohon di dekatnya agar dijauhkan dari kesialan. Terutama saat si pemilik memungut durian yang jatuh. ”Yang penting, harus ada namanya biar tidak ketiban (tertimpa),” ujar Rifai, salah seorang pemilik durian dari Dusun Durinaan, Desa Sobih, Burneh.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : c12/ris



Close Ads