Wisata Jatim Membaik, tapi Masih Jauh dari Normal

19 Juni 2022, 15:15:28 WIB

KELAZIMAN baru alias new normal yang didengungkan sejak awal pandemi Covid-19, pada praktiknya, baru mulai banyak diterapkan tahun ini. Aktivitas masyarakat meningkat. Kegiatan-kegiatan yang mendatangkan kerumunan boleh digelar dengan sejumlah syarat dan ketentuan. Fenomena itu jelas berdampak pada sektor pariwisata.

Berikut wawancara wartawan Jawa Pos Fahmi Samastuti dengan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono.

Seperti apa kondisi pariwisata Jawa Timur pada tahun kedua pandemi ini?

Sebetulnya, sejak peraturan tentang pandemi dilonggarkan dan Presiden Jokowi bilang boleh lepas masker di tempat terbuka, itu sudah berpengaruh pada kunjungan.

Seperti apa pengaruh event terhadap kunjungan wisatawan? Misalnya, Eksotika Bromo yang digelar minggu lalu di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Apalagi dengan adanya event. Beberapa acara memicu pertumbuhan, terutama yang dipromosikan. Pada pergelaran Eksotika Bromo kemarin juga ada kenaikan kunjungan.

Apakah kenaikan kunjungan selalu berbanding lurus dengan tingkat okupansi hotel?

Bergantung daerah yang dikunjungi ya. Kalau daerahnya masih terjangkau, banyak yang memilih one day trip. Pagi berangkat, sorenya pulang. Demikian juga yang ke Bromo. Sebagian besar berangkat malam, lihat sunrise, terus pulang. Kalau yang domisilinya jauh, banyak yang memilih menginap. Kan sudah jauh-jauh ke sana, begitu mungkin pertimbangannya.

Memang, event memicu tingkat kunjungan. Tapi, tidak semua event meningkatkan okupansi.

Kalau liburan sekolah yang mulai minggu depan ini bagaimana, Pak?

Kalau liburan pertengahan tahun masih belum. Masih landai. Liburan tengah tahun ini kan agak beda. Banyak yang memanfaatkannya untuk mendaftar sekolah karena pas tahun ajaran baru. Beda dengan liburan akhir tahun. Itu kenaikan angkanya cenderung lebih dinamis.

Bagaimana cara PHRI meningkatkan okupansi hotel dalam situasi sekarang?

Di badan promosi PHRI Jatim, kami punya beberapa andalan. Antara lain, Bromo dan Kawah Ijen. Bromo jadi jagoan kami. Maka, teman-teman travel punya paket menginap. Kawah Ijen pun masuk rute kami. Sebetulnya, Bromo dan Kawah Ijen sudah satu rangkaian. Paket yang paling umum, misalnya, rutenya dari Jogjakarta, Bromo, Ijen, lalu ke Bali. Sekarang yang kami promosikan tidak lagi Bromo–Ijen–Bali, tapi juga ke kota-kota sekitar yang masuk rute sepanjang jalan tol yang dilalui.

Bagaimana kunjungan wisatawan mancanegara?

Sudah naik. Paling kelihatan itu. Apalagi dengan penghapusan karantina pasca kedatangan. Hampir semua negara sudah hadir. Pertama, Australia. Dari Asia, ada Malaysia, Singapura, Hongkong, Thailand. Sudah mulai ramai. Eropa, dari Belanda, sudah mulai masuk.

Dengan banyaknya pelonggaran regulasi, apakah situasi pariwisata sudah bisa dibilang normal?

Belum mendekati normal. Semua masih serba menunggu. Apalagi terkait perjalanan via pesawat. Kenaikan avtur dan berkurangnya armada membuat tiket naik. Belum lagi, ada isu kenaikan bahan bakar dan komoditas lainnya. Situasinya belum kondusif untuk kembali ke normal.

Apa harapan PHRI Jatim pada tahun-tahun mendatang?

Harapannya, kita bisa kembali seperti sebelum pandemi. Itu pasti butuh waktu dan upaya aktif pemerintah. Yang memicu angka okupansi dan bisnis MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) itu ya support dari pemerintah. Harapannya, (pemerintah) nasional menjadikan pariwisata Jatim salah satu unggulan. Lalu, harga-harga turun. (*)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c6/hep

Saksikan video menarik berikut ini: