alexametrics

Ini Festival Seni Budaya Milik Bersama

19 Juni 2022, 15:03:33 WIB

Menyelami Pesona Taman Nasional Bromo Tengger Semeru lewat Eksotika Bromo

Eksotika Bromo menjadi pembuka Yadnya Kasada, ritual sakral Hindu Tengger di Jawa Timur (Jatim). Digagas sejak 2017, kini festival seni budaya itu menjadi daya tarik unggulan untuk menghidupkan kembali pariwisata di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

LAUT Pasir Kasiah menyedot perhatian akhir pekan lalu. Tepatnya, pada 11 dan 12 Juni 2022. Di hamparan pasir itulah berkumpul para pelaku seni dan budaya. Tidak hanya yang dari Pasuruan, tapi juga dari kota dan kabupaten lain di Jatim.

Ada kelompok Lancenk Kramat dari Pamekasan, Madura. Ada pula Sanggar Reog Sardulo Djojo dari Malang. Kali ini pergelaran kembali berlangsung di panggung utama festival budaya TNBTS. Tahun lalu Eksotika Bromo berlangsung di Lapangan Wanajati yang masuk wilayah Desa Ngadiwana, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Akhir pekan lalu, Lancenk Kramat dan Sanggar Reog Sardulo Djojo serta kelompok-kelompok seni budaya lainnya berdatangan ke Laut Pasir Kasiah secara mandiri. Mereka bergotong royong mengusung peranti yang biasa mereka gunakan untuk pentas dari tempat asal sampai ke lokasi. Dengan tenaga sendiri, dengan biaya sendiri.

Selain keinginan yang besar untuk memamerkan seni budaya ke mata khalayak ramai, bekal mereka hanyalah undangan dari panitia penyelenggara Eksotika Bromo. Yakni, Komunitas Seni JatiSwara Indonesia.

’’Tujuan utamanya masih tetap sama. Memajukan ekonomi kreatif di wilayah sekitar. Komunitas luar daerah yang datang secara pribadi akan memengaruhi geliat UMKM lokal,” kata Afifa Prasetya, perwakilan JatiSwara Indonesia, kepada Jawa Pos pada Jumat (17/6).

Dari tahun ke tahun, JatiSwara aktif melibatkan masyarakat sekitar. Terutama kaum mudanya. ’’Dibanding tahun lalu saja, kali ini 80 persen panitia dan pengisi sajian utama adalah masyarakat Suku Tengger,’’ terang Afifa. JatiSwara memang selalu menegaskan bahwa kendati Eksotika Bromo adalah festival seni budaya gagasan mereka, pada dasarnya festival tersebut adalah milik seluruh masyarakat.

PANGGUNG PERDANA: Sanggar Reog Sardulo Djaja menjadikan Eksotika Bromo sebagai pementasan pertama di luar Malang pasca kuntara. (PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS)

Suyitno, ketua sekaligus pendiri Lancenk Kramat, mengaku mendapatkan undangan sekitar dua bulan sebelum pergelaran Eksotika Bromo. Itu menjadi panggung pertama komunitasnya di luar Pulau Madura. ’’Selama ini ada tampil di luar (Madura, Red), tapi untuk virtual. Jadi direkam, lalu disiarkan. Bukan tampil langsung,” ungkapnya ketika berbincang dengan Jawa Pos di hari pertama Eksotika Bromo pada 11 Juni lalu.

Setahun belakangan, menurut Suyitno, aktivitas seni budaya di Madura membaik. ’’Alhamdulillah, komunitas musik ul daul di Madura sudah eksis lagi. Sudah boleh tampil,” lanjutnya. Selama kuntara karena Covid-19, Lancenk Kramat hanya berfokus pada latihan.

Senada dengan Suyitno, Bambang Supriadi –pemilik dan ketua Sanggar Reog Sardulo Djojo– juga mengatakan bahwa Eksotika Bromo adalah momentum kebangkitan komunitas seninya. Selama kuntara, tidak ada jadwal pentas. ’’Soalnya, Kota Malang levelnya (kasus Covid-19, Red) tinggi sekali,” katanya.

Pria asal Ponorogo itu menambahkan bahwa tahun ini sanggarnya mulai padat agenda. ’’Suroan dan 17 Agustusan banyak acara. Kami juga rencana ke Magelang untuk study tour,” papar Bambang. Sanggar yang dia pimpin itu beranggota 135 orang, mulai anak-anak usia TK hingga orang dewasa.

Eksotika Bromo menerbitkan kembali harapan para pelaku seni dan budaya di Jatim. Eksotika Bromo juga melebarkan senyum penduduk sekitar. Sebab, usaha-usaha mereka yang berkaitan dengan pariwisata kembali menggeliat. Homestay di Desa Ngadisari, titik penginapan tertinggi di Kabupaten Probolinggo, penuh. Para pengemudi jip kebanjiran rezeki.

’’Belum seramai dulu, tapi sudah jauh lebih bagus. Ada yang nginap,” ungkap Mandik, salah seorang pemilik homestay di Ngadisari. Usaha sampingannya berupa warung makan sederhana juga terkena imbas positif. ”Biasanya cuma bapak-bapak sini yang ngopi dan ngerokok,” imbuhnya.

Jip-jip Bromo mulai berani menawarkan harga tinggi. Sebab, peminatnya juga melonjak. Khususnya pada 11 dan 12 Juni lalu. Jika pada hari biasa mereka mematok tarif Rp 300 ribu untuk rute Desa Ngadisari–Penanjakan, pada akhir pekan lalu harganya bisa dua kali lipat.

”Kalau mau lebih murah, berangkatnya agak siang. Tapi, risikonya enggak dapat matahari (terbit) dan macet,” kata Toyoa, pengemudi jip Ngadisari. Jam-jam perjalanan prime time, tambah dia, adalah pada pukul 02.00 sampai 03.00 dini hari. Yang dikejar setelah melewati tanjakan penuh kelokan di Wonokitri dan antre di Bukit Cinta adalah sunrise. Ya! Pemandangan menakjubkan yang keindahannya tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : fam/c6/hep

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads