alexametrics

Durian Jemblung dari Bojonegoro: Pernah Ada Buah Seberat 6 Kilogram

18 Maret 2020, 16:48:15 WIB

Nama varietas asli Bojonegoro ini mirip dengan bentuknya, jemblung atau menggelembung. Banyak yang menyebut durian lokal tersebut sebagai satu-satunya buah asli Kota Ledre.

MASYARAKAT lebih mengenal Bojonegoro sebagai salah satu daerah penghasil migas. Tetapi, tak banyak yang tahu bahwa kabupaten di wilayah pantura Jatim tersebut juga mempunyai perkebunan durian. Bahkan warga lokal.

Boleh jadi mereka tidak tahu karena lokasinya memang minggir, jauh dari pusat kota. Bahkan, letaknya lebih dekat Saradan, Kabupaten Madiun. Jaraknya cuma sekitar 6 kilometer. Sentra durian itu ada di Desa Klino, Kecamatan Sekar.

Jalan menuju desa tersebut memang tidak mudah. Pengunjung harus melintasi beberapa kawasan hutan dengan jalan yang menanjak. Tetapi, ketika sudah hampir tiba, jalannya sudah bagus.

Sesampainya di pintu masuk Desa Klino, pengunjung langsung disambut sebuah tulisan ’’Welcome Klino’’ dan sebuah tugu tinggi mirip Monas yang dikelilingi kolam.

Sepintas, tak terlihat bahwa desa tersebut memiliki durian lokal. Sebab, memang tidak banyak warga yang menanam pohonnya. Namun, mayoritas warga akan langsung ngeh jika pengunjung bertanya di mana bisa mendapatkan si raja buah di desa itu. Mereka akan menunjukkan kebun milik Mbah Datrap.

Tidak sulit menuju kediaman Mbah Datrap. Begitu tiba, pengunjung bisa melihat deretan pohon durian yang tak jauh dari rumahnya. Pohon-pohon itu berada di lereng perbukitan yang berbatasan dengan tanah milik Perhutani.

Ada 20 pohon durian di perkebunan tersebut yang ditanam di lahan seluas setengah hektare. Di salah satu sudut kebun, terlihat satu pohon durian yang cukup besar dengan tinggi 12 meter. Pohon terbesar ditanam pada 1985. Pohon itu sudah menghasilkan varietas yang diberi nama durian jemblung.

RASANYA MANIS: Mbah Datrap menunjukkan durian jemblung di kebunnya. (M. Irvan Ramadhon/Radar Bojonegoro)

Nama tersebut disesuaikan dengan ukurannya yang gendut. Beratnya 2–2,5 kilogram. Namun, pernah ada buah yang beratnya mencapai 6 kilogram.

Hanya, sampai saat ini, stok durian milik Mbah Datrap masih sedikit. Sebab, baru satu pohon yang berbuah dalam jumlah besar. Maksimal 200 butir tiap panen. Yang lainnya belum berbuah banyak karena masih muda.

Durian jemblung mulai panen pada Februari lalu. Penggemar durian yang ingin menikmati harus sabar menunggu. Sebab, Mbah Datrap baru memanennya ketika sudah jatuh alias benar-benar masak.

Hal itulah yang membuat kualitas durian jemblung cukup diakui penikmatnya. Kelebihannya adalah rasa manis yang kalem. ’’Buah masih utuh dibiarkan di lemari es selama dua hari akan lebih manis dan enak,’’ jelasnya.

Pohon Tak Bertuan Jadi Rebutan

Selain durian milik Mbah Datrap, di sekitar kebun itu ada sebuah pohon durian lain. Letaknya berada di dekat sumur. Tetapi, tak ada pemiliknya. Karena itu, buah dari pohon tersebut tidak diperjualbelikan.

Warga bisa menikmati hasilnya secara gratis, tetapi harus berebut dengan yang lain. Rasa durian itu tak kalah dengan milik Mbah Datrap.

Kepala Desa Klino Dwi Nurjayanti berencana membuat agrowisata buah-buahan. Sebab, Klino merupakan satu-satunya desa di Bojonegoro yang memiliki pohon durian dan telah berbuah. ’’Kami sedang membuat konsepnya,’’ jelasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c20/ris



Close Ads