alexametrics

Sentra Durian Penduruan Tuban: Tawarkan Buah Alami lewat Jatuhan

15 Maret 2020, 14:48:43 WIB

Meski berada di wilayah pesisir yang sebenarnya tak terlalu cocok untuk menjadi lahan budi daya, Kabupaten Tuban memiliki sentra penghasil durian. Ada sejumlah varietas lokal yang sukses dikembangkan.

TAK seperti kabupaten/kota lain di Jatim yang sudah tersohor, Tuban sejatinya bukan daerah penghasil durian. Di sana, tidak ada yang namanya pohon indukan. Apalagi varietas lokal asli.

Bertempat di daerah pesisir menjadi penyebab. Bahkan, dulu banyak petani yang menganggap sang raja buah tak akan mampu tumbuh dan berbuah di Tuban.

Sejarah budi daya durian di Tuban baru dimulai pada 1980-an. Diawali lewat program bantuan bibit dari pemerintah kabupaten (pemkab) setempat kepada para petani di Kenduruan, sebuah kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Kala itu, ada ribuan bibit pohon yang dibudidayakan. Mayoritas adalah durian petruk, varietas asli Rembang, serta durian manca seperti montong.

Dalam perjalanan waktu, anggapan bahwa durian tak akan tumbuh tak terbukti. Ternyata, ada sejumlah bibit yang kini sukses tumbuh menjadi pohon yang menghasilkan. Memang, kuantitasnya belum banyak.

Salah satu daerah yang sudah mampu menghasilkan durian adalah Desa Jelodro. Di sana, ada sekitar 20 pohon yang hasilnya sudah bisa dipanen.

Ketelatenan para petani dalam merawat menjadi salah satu penyebab kesuksesan bibit-bibit itu menghasilkan buah. Ditambah, adanya kecocokan antara bibit dan tanah di desa itu. ”Sebenarnya, ada banyak bibit yang ditanam di sini. Tapi, sebagian mati,” kata Sutarno, salah seorang pemilik pohon durian.

Saat ini dia memelihara lima pohon. Semuanya ditanam di area persawahan miliknya. Rata-rata pohonnya sudah besar. Ketinggiannya mencapai 15 meter. Selain itu, ada pohon yang baru berbuah atau mulai pembibitan.

Meski berada di wilayah pesisir, pohon-pohon yang dibudidayakan Tarno ternyata tak kalah dengan pohon durian di daerah pegunungan. Hasil panennya lumayan melimpah. Setiap panen, satu pohon bisa menghasilkan 300 butir. ”Itu di pohon yang sudah besar. Beda lagi kalau yang masih kecil,” ujarnya.

Kualitasnya juga diakui. Terbukti, ketika musim panen tiba, para penggemar dari berbagai daerah berdatangan ke Jelodro untuk berburu sang raja buah.

Para penggemarnya menyatakan, durian lokal Jelodro memiliki rasa manis yang khas dengan isi buah yang banyak dan tebal. Selain itu, yang bikin penggemar kesengsem adalah kematangan durian yang dijual para petani. Sebab, semua durian yang dipanen itu menunggu jatuhan, tidak dipetik.

Ditargetkan Jadi Sentra Durian

Keberhasilan budi daya durian di Kecamatan Kenduruan membuat para pemangku kebijakan di Tuban mulai memberikan atensi yang lebih serius.

Ada dua desa yang diproyeksikan untuk menjadi sentra budi daya durian. Yakni, Jelodro dan Jamprong.

Di Jelodro, usaha itu dimulai. Pemerintah desa (pemdes) sudah memfasilitasi upaya pembibitan durian baru. Tahun lalu, sedikitnya ada 100 bibit pohon baru yang ditanam. ”Program ini melalui dana desa (DD) di sektor pertanian. Khususnya untuk durian,” kata Kepala Desa Jelodro Suroso.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=POLWHfdODmAZ

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter :  c12/ris



Close Ads