alexametrics

Pantjoran Tea House Pertahankan Tradisi Kapitan Gan Djie

13 Desember 2020, 12:02:44 WIB

PECINAN Glodok menjadi salah satu ikon Kota Tua Jakarta. Kawasan tersebut menyimpan beragam warisan budaya. Dihuni mayoritas warga Tionghoa, daerah itu terkenal akan hidangan orientalnya yang orisinal. Bahkan, budaya minum teh masih dipertahankan warga. Mereka dapat menikmati serta mempelajari seni penyeduhan teh di Pantjoran Tea House di sudut area Jalan Pancoran Glodok, Jakarta Barat.

Suasana oriental sangat terasa saat memasuki kedai teh tersebut. Meski sempat direvitalisasi, dekorasi lampion dan ukiran pada pintu, jendela, serta penyekatnya tampak serasi dengan arsitektur bangunan kolonial yang dipertahankan.

Menariknya, kedai teh itu juga masih menyimpan beberapa tradisi masa lalu. Salah satunya adalah tradisi patekoan. Patekoan memiliki dua suku kata yang aslinya terpisah, yaitu ’’pa’’ yang bermakna ’’delapan’’ dan ’’teiko’’ yang merujuk pada ’’teko’’.

Interior ruangan dihiasi lampion dan ornamen oriental. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Public Relations Office Pantjoran Tea House Agus Rudy menceritakan, tradisi patekoan lekat dengan cerita seorang kapitan keturunan Tiongkok bernama Gan Djie di era Batavia pada 1963. Kapitan Gan Djie dan istrinya dikenal memiliki kepekaan dan kebaikan hati. ’’Jadi, saat itu Gan Djie dan istrinya mempunyai kebiasaan menyajikan delapan teko teh gratis di depan kantornya untuk para pejalan kaki yang kehausan,’’ kata Agus ketika berbincang mengenai sejarah tradisi patekoan.

Hingga saat ini, lanjut Agus, tradisi patekoan masih dipertahankan di Pantjoran Tea House. Namun, dalam situasi pandemi Covid-19, patekoan dihentikan sementera. ’’Tapi, kami masih taruh teko di depan untuk kebutuhan foto karena banyak yang nanyain,’’ ucapnya.

Baca juga: Meneropong Masa Depan Teh di Indonesia

Kedai teh itu berada di pintu selatan dari area Kota Tua Jakarta yang menuju ke daerah pecinan. Gedungnya dibangun sekitar 1900 dengan nama Winkel The Lun Tai (Toko Pojok milik The Lun Thai). Pada 1920-an, gedung itu merupakan sebuah apotek terkenal, yakni Apotheek Chung Hwa. Banyaknya imigran dari Tiongkok membuat kawasan tersebut terkenal dengan toko-toko obat tradisional.

’’Tahun 2015, sesuai dengan instruksi Pak Jokowi saat masih menjabat gubernur DKI, gedung ini masuk proyek Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) yang diinisiasi oleh Pak Lin Che Wei. Saat itu juga gedung ini masuk cagar budaya,’’ ucapnya.

Sonia Audia memperagakan seni menyeduh teh ala masyarakat Tionghoa. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Pantjoran Tea House memiliki dua lantai. Kebanyakan warga yang berkunjung penasaran tentang sejarah teh serta seni penyeduhan Gong Fu Cha. Karena itu, hampir semua meja di-setting peralatan penyeduhan teh yang mengacu pada Gong Fu Cha.

Jawa Pos pun mendapat kesempatan melihat serta belajar secara langsung penyeduhan teh Gong Fu Cha. Sonia Audia, tea assistant Pantjoran Tea House, mengatakan bahwa seni penyeduhan teh Gong Fu Cha adalah salah satu keunggulan di kedainya. ’’Seremoni Gong Fu Cha ini ada sejak Dinasti Qing atau Kerajaan China. Saat ini seremoni Gong Fu Cha dilakukan untuk menghormati orang tua, minta maaf, dan memperdekat tali persaudaraan. Itu biasa dilakukan orang Tionghoa,’’ kata Audi sambil mempersiapkan alat penyeduhan.

Proses minumnya pun tidak bisa sembarangan. Teh pertama dituangkan ke tasting cup, kemudian ditutup menggunakan aroma. Setelah itu dibalik. Tasting cup biasanya digunakan untuk menghangatkan tangan. Sebelum minum, terlebih dahulu mencium tasting cup. ’’Kenapa dicium dahulu? Karena di sinilah kita dapat menghargai para petani teh dari berbagai belahan dunia,’’ ucapnya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ygi/c19/oni


Close Ads