alexametrics

Ipoh dan Daya Tarik Kota Tuanya, Banyak Spot Artsy

Oleh: Jennifer Ivanto, Surabaya
11 Juli 2019, 17:41:02 WIB

KOTA ini sangat unik karena masih mempertahankan bangunan-bangunan tuanya. Suasananya pun masih otentik. Ipoh adalah alternatif kalau tujuan liburan Anda adalah Malaysia.

IPOH, ibu kota Negara Bagian Perak, merupakan kota terbesar ketiga di Malaysia. Lokasinya memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan dengan menggunakan kereta api. Kereta berangkat dari KL Sentral Kuala Lumpur dan berhenti di Ipoh Railway Station. Orang lokal menyebutnya KTM Ipoh. Oh iya, tiket kereta bisa dibeli secara online ataupun langsung di tempat. Sebetulnya naik mobil juga bisa, tapi waktunya lebih lama.

Apa menariknya Kota Ipoh? Daya tariknya adalah kota tuanya. Begitu turun di stasiunnya, kita akan mendapatkan suasana yang vintage. Mulai bangunan hingga kendaraannya. Soal transportasi, tak perlu pusing. Sebab, akses untuk taksi online sangat mudah. Masalah komunikasi juga tidak begitu sulit karena penduduk lokal masih sering menggunakan bahasa Melayu. Cari penginapan di sana pun mudah. Harganya tak terlalu mahal jika dibandingkan dengan penginapan di Kuala Lumpur.

KLASIK: Suasana kota tua di Ipoh. Meski memberikan pengalaman berbeda, mengunjungi kota ini cukup 1–2 malam. Kurang cocok untuk berlama-lama. (Jennifer Ivanto)

Tapi, kalau ingin berlama-lama di sana, kurang cocok. Sebab, tempat wisatanya tidak banyak. Cukup 1–2 malam saja untuk mengeksplorasi kota itu. Asalkan, berangkat dari Kuala Lumpur pagi hari. Jadi, waktu tidak terbuang sia-sia.

Ipoh juga terkenal karena tempatnya yang artsy banget. Hampir di setiap sudut jalan terdapat mural unik yang dibuat oleh seniman-seniman lokal.

Salah satu objek wisata terkenalnya adalah Concubine Lane. Yap, nama tempat itu memang unik, Jalur Selir atau Lorong Selir. Nama tersebut didapat karena aktivitas zaman dulu yang terjadi di jalur itu. Konon, lorong tersebut dimiliki taipan yang menguasai pertambangan bijih timah pada waktu itu. Nah, selain untuk perdagangan, tempat itu menjadi kawasan perempuan simpanan orang-orang kaya dari Tiongkok dan Inggris di Tanah Melayu.

KEDAI TERKENAL: Sebagian besar warga lokal merekomendasikan Sin Yoon Loong kalau kita bertanya soal kopi. Buka jam 6 pagi, paling pas buat tempat sarapan. (Jennifer Ivanto)

Terlepas dari apa yang melatarbelakangi, kini kawasan tersebut bersih dari hal itu dan sepenuhnya jadi tempat wisata. Di sana, banyak yang menjual barang unik yang harganya bisa ditawar. Makanan lokal yang enak juga banyak dijual. Lokasinya pun sangat Instagrammable.

Nah, kurang lengkap kalau enggak nyobain kuliner Ipoh. Ada satu tempat terkenal untuk minum kopi. Lebih cocok untuk sarapan sih, menurut saya. Namanya Kedai Kopi Sin Yoon Loong. Sebetulnya banyak sekali kedai kopi di Ipoh. Namun, sebagian besar warga lokal merekomendasikan Sin Yoon Loong.

Kedai yang buka mulai pukul 06.00 itu sudah berdiri hampir 78 tahun dengan mengusung tema kopitiam. Selain kopi, mereka juga punya menu roti panggang, telur, dan beberapa makanan lainnya. Kalau Anda berencana liburan di Ipoh, coba deh ngopi di Sin Yoon Loong! (*)

KLASIK: Interiornya jauh dari kesan modern, tapi justru itulah yang membuat tempat ini khas. (Jennifer Ivanto)
LORONG RAMAI: Concubine Lane, tempat yang jadi jujukan wisatawan. Banyak barang antik dan makanan enak yang dijual di sepanjang jalan. (Jennifer Ivanto)
KEREN: Kanan kiri lorong terdapat mural karya seniman lokal, membuatnya jadi spot yang Instagramable.

Hai travelers, punya pengalaman berlibur seru dan ekstrem? Melakukan solo traveling dengan uang pas-pasan atau memilih rute yang tidak biasa tentu menjadi pengalaman menantang dan tidak terlupakan. Setiap orang pasti punya kisah yang berbeda. Ceritakanlah pengalaman tersebut melalui e-mail traveling@jawapos.co.id dalam tulisan. Maksimal 500 kata. Sertakan pula tip liburan ala Anda. Lampirkan foto paling keren dan seru saat berlibur (minimal 500 KB). Jangan lupa lampirkan scan kartu identitas dan nomor telepon dalam e-mail tersebut. Cowok atau cewek boleh ikut menulis. So, tunggu apa lagi? Share yours! (*)

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads