alexametrics

Durian Sono Pacitan, Suguhan Rutin SBY saat Pulang Kampung

11 Januari 2020, 11:56:20 WIB

Durian yang satu ini cukup istimewa. Meski berada di daerah yang kering, varietas ini mampu tumbuh subur. Kualitasnya diakui. Manisnya melebihi durian montong.

TIDAK mudah mencari durian yang berkualitas dari Pacitan. Maklum, iklimnya yang cenderung kering membuat buah itu sulit tumbuh subur dan bagus di sana. Pembibitan varietas baru juga tidak mudah. Namun, tidak berarti kabupaten tersebut tak mempunyai varietas unggulan.

Salah satu yang mampu tumbuh subur dan berkualitas adalah durian sono. Nama varietas itu disesuaikan dengan ”domisili”-nya, Dusun Sono, Desa Kalikuning, Kecamatan Tulakan.

Sejak dulu, dusun tersebut memang dikenal sebagai penghasil durian. Di sepanjang jalan menuju dusun, pohon durian di pinggir jalan sudah lumrah ditemui. Bahkan, tidak sulit menemui pohon berusia di atas 100 tahun di sana. Malahan, di pelosok hutan dusun, ada yang berukuran raksasa. Butuh dua hingga tiga depa orang dewasa untuk merangkulnya.

Kepala Dusun (Kasun) Sukarno menceritakan, seluruh pohon itu tumbuh alami. Pohon durian tersebut ditanam sejak dari biji. Tidak ada metode setek atau teknik modern lain. ”Pernah ada upaya pembibitan yang lebih modern. Namun, hasilnya tetap kalah dengan yang ditanam dari biji,” katanya.

Tak ada perawatan yang khusus. Tak perlu pemupukan atau pemberian vitamin. Kata anak milenial, ”los nggak rewel”. Tanpa itu semua, hasilnya maksimal. Satu pohon bisa menghasilkan 500 buah.

Cara panennya juga alami. Tidak ada yang diikat dengan tali untuk menjaga pohon agar tetap di atas saat sudah masak. Warga membiarkannya begitu saja. Maklum, pohonnya tinggi, 8–15 meter.

Walau tanpa perawatan khusus, rasa durian sono tidak bisa diremehkan. Ukurannya tidak besar. Per buah memiliki bobot rata-rata 1–2 kilogram. Teksturnya berserat tipis di bagian luar. Juga lebih kering dan lengket. Aromanya lembut. Durian itu memiliki banyak daging buah yang berisi biji yang pongge atau kempis.

Salah satu yang menjadi keunggulan durian tersebut adalah rasa manisnya yang melebihi durian sekelas montong. Namun, varietas itu juga ada yang berasa pahit. ”Biasanya, dalam satu pohon, rasanya beda-beda. Ada yang manis. Juga ada yang dominan pahit,” kata Sukarno.

Karena pemeliharaannya yang alamiah, jangan kaget jika harga durian tersebut sangat murah, Rp 7 ribu–Rp15 ribu. Ukuran jumbo maksimal hanya Rp 50 ribu. ”Penggemar durian ini sudah banyak. Sebagian besar dari luar kota. Mereka biasanya ambil di sini,” ujarnya.

Bahkan, tak sedikit pencinta durian tersebut adalah sosok yang terkenal. Salah seorang penggemar setia durian sono adalah Susilo Bambang Yudhoyono, presiden ke-5 dan ke-6 RI yang berasal dari Pacitan. ”Setiap kali Pak SBY pulang kampung, pasti ambilnya durian sono,” ujar Sukarno.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : c12/ris


Close Ads