alexametrics

Wisatawan Harus Terapkan Protokol Kesehatan saat Kunjungi Bali

10 November 2020, 08:08:43 WIB

JawaPos.com – Wisatawan yang mengunjungi Bali berkurang dalam 7 bulan terakhir. Penyebabnya adalah pandemi Covid-19. Wisatawan domestik dan internasional seperti hilang. Hingga pada akhirnya pada 17 Oktober 2020 pariwisata di Bali mulai dibuka kembali dengan protokol kesehatan yang ketat. Meski belum kembali normal, setidaknya hirup pikuk kehidupan Bali mulai terlihat.

JawaPos.com bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI melihat langsung sejumlah wisata alam unggulan Bali di tengah pandemi Covid-19. Kunjungan dilakukan ke Tanjung Benoa, Tanah Lot, dan Gunung Batur.

Tidak ada keindahan yang hilang di tiga lokasi tersebut meskipun lama tak didatangi oleh wisatawan. Perbedaannya saat ini protokol kesehatan diterapkan secara ketat. Semua pengunjung dan pengelola diharuskan memakai masker. Di setiap lokasi wisata juga telah disiapkan tempat cuci tangan. Lalu wisatawan yang datang akan diperiksa suhu tubuhnya.

Bagi wisatawan yang telah memenuhi syarat maka bisa menikmati keindahan alam Bali seperti biasa. Seperti di Tanjung Benoa, rekreasi alam seperti parasailing, banana boat, jet ski, fly fish, hingga scuba diving sudah dibuka. Wisatawan pun tak perlu khawatir tertular Covid-19, karena peralatan langsung disterilisasi setelah dipakai.

Kendati demikian, pengelola mengakui saat ini kunjung wisatawan ke Tanjung Benoa masih sepi. “Normalnya sebelum pandemi 700 orang ke atas. Sekarang semasa pandemi paling 2 sampai 3 mobil,” kata Ogi.

Indahnya sunset di Tanah Lot juga belum mampu menarik datangnya wisatawan dalam skala besar. Saat JawaPos.com berkunjung, jumlah pengunjung hanya berkisar puluhan. Padahal untuk tiket domestik terbilang murah hanya Rp 20 ribu per orang. Harga yang sangat murah jika dibandingkan keindahan sunset dan keagungan Pura.

Sementara itu, untuk wisata alam pegunungan, Gunung Batur masih menjadi salah satu destinasi wisata favorit. Sensasi gunung yang diselimuti pasir sangat memanjakan wisatawan. Selain itu, untuk sampai ke lokasi tujuan bisa menyewa mobil 4×4 WD Land Rover tua produksi tahun 1960-1970-an.

Dengan mobil tua itu, sensasi perjalanan ke Gunung Batur semakin menggairahkan. Jalanan berbatu hingga tanjakan curam menjadi ciri khas. Pemandangan di Gunung Batur semakin lengkap dengan pesona bekas lelehan lava yang turun dari puncak gunung. Lelehan itu meninggalkan jejak hitam di sepanjang lereng gunung. Bahkan masih banyak terlihat bekas-bekas batu vulkanik.

Kemenparekraf RI mengingatkan kepada masyarakat agar tetap menerapkan protokol kesehatan 3M secara disiplin ketika mengunjungi lokasi wisata. Dengan cara memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun.

Editor : Edy Pramana

Reporter : ARM, Sabik Aji Taufan



Close Ads