alexametrics

Durian Lokal Gadungan Kediri Sempat Menghilang Pascaerupsi Kelud

9 Februari 2020, 16:59:27 WIB

Durian dari Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, tergolong spesial. Meski pohon-pohonnya berada di dataran rendah, buahnya diakui nikmat. Bahkan pernah jadi juara kontes durian tingkat provinsi.

KAWASANlereng Gunung Kelud jadi salah satu pusat penghasil durian asal Kabupaten Kediri. Berbagai jenis durian lokal mudah dijumpai. Tak terkecuali di Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, yang terletak di lereng Kelud sisi utara.

Meski masuk wilayah lereng gunung, desa yang berjarak 24 kilometer dari Kota Kediri itu sebenarnya berada di dataran rendah, yang sejatinya bukan tempat ”favorit” pohon durian untuk berkembang.

Meski demikian, desa itu sangat terkenal akan kualitas durian lokalnya. Setidaknya ada dua durian andalan yang khas dari desa tersebut. Yakni, durian bokor dan gapu. Bahkan, dua varietas lokal tersebut pernah jadi yang terbaik di Jatim. ”Keduanya pernah ikut kontes durian se-Jatim. Bokor juara pertama dan gapu juara ketiga,” tutur Sekretaris Desa Gadungan Heri Cahyono.

Cukup banyak alasan yang membuat durian bokor jadi andalan desa itu. Buahnya tergolong besar dengan jarak duri yang agak renggang. Dalam tiap juring, daging buahnya sebanyak 5 hingga 8 biji (pongge). Selain itu, warna kuningnya khas.

Rasanya juga diakui para penggemar durian yang mampir ke desa tersebut. Perpaduan rasa manis dengan sentuhan pahit. Kalau makan terlalu banyak, kepala bisa dibuat nggliyeng (pusing). ”Istilah warga di sini, rasanya ngebir. Ada semu-semu pahitnya,” jelas Kepala Desa Gadungan Suprayitno.

Bukan hanya itu, daging durian bokor juga tebal. Bahkan, karakternya berlapis-lapis dengan biji yang cukup kecil. Bobot per buah rata-rata lebih dari 3 kilogram dengan kulit luar yang cenderung tipis.

Durian unggul lain dari desa itu adalah gapu, kependekan gadungan puncu. Varietas itu pernah menjadi andalan desa. Sama, rasanya yang istimewa menjadi alasan durian tersebut begitu tersohor.

Ada cerita di balik dua varietas tersebut. Pada 2014 hingga 2016, durian lokal itu sempat ”menghilang”. Produksinya menurun drastis. Banyak pohonnya yang tak berbuah. Terutama pohon durian gapu. ”Hanya ada beberapa yang produksi. Gapu memang agak sulit dan lambat berbuah,” jelasnya.

Warga mengklaim, letusan Gunung Kelud pada 2014 menjadi penyebabnya. Bahkan, tak cuma jumlah produksi, kualitas buahnya juga sempat menurun. Sensasi manis-pahit yang jadi trademark menghilang. ”Rasanya berubah. Baunya harum seperti durian normal. Tapi, kenyataannya, kalau dimakan, tidak ada rasanya,” kata Suprayitno.

Selain rasa, teksturnya buahnya ikut-ikutan berubah. Banyak yang jadi keras. ”Kondisi itu berlangsung sekitar dua tahun. Di tahun ketiga, produksinya kembali meningkat. Rasanya pun berangsur normal,” imbuhnya.

Endang Sunarti, warga setempat, mengakui, pada masa-masa itu cukup sulit mencari pohon durian yang berbuah di desanya. ”Selain hujan yang begitu lebat (waktu itu, Red), abu letusan memengaruhi bunga,” klaimnya.

Namun, kini kondisinya sudah kembali seperti sediakala, normal. Durian gapu, bokor, dan varietas lokal lain dari desa itu sudah bisa diburu pencinta durian. Sebab, masa panen berlangsung sejak November lalu dan diperkirakan berakhir bulan ini.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c11/ris



Close Ads