alexametrics

Bukan Hanya Es Teh dan Teh Hangat

8 Agustus 2021, 13:34:55 WIB

Gowes Keliling Pulau Jawa, Syiar Komoditas Nusantara

Ngeteh. Kata kerja sederhana yang bisa keluar masuk telinga berkali-kali dalam satu hari. Saking sederhananya, aktivitas minum teh lantas menjadi hal biasa yang lumrah untuk tidak dibahas. Apa benar semembosankan itu?

“AWALNYA minum teh itu tanpa apresiasi lebih. Begitu kenal, ternyata ngeteh itu juga bisa asyik kok,” kata Wildan Nur Hamzah saat dijumpai Jawa Pos di Kediri pada Minggu (8/8). Menggeluti teh dan tetek bengek peracikannya sejak 2019, dia tergerak mengajak masyarakat sadar bahwa minuman sehari-hari itu populer bukan karena biasa-biasa saja. Sebaliknya, teh itu luar biasa karena ”rela” berpadu dengan apa pun tanpa kehilangan rasa aslinya.

Ada banyak faktor yang membuat teh menjadi sangat dekat dengan masyarakat. Di antaranya adalah kebun teh yang relatif mudah ditemukan di hampir semua provinsi tanah air. Juga, harganya yang murah dan gampangnya membuat minuman bernama teh. Segala sesuatu yang terlalu memang kurang baik. Teh pun demikian. Karena teh terlalu mudah ditemukan, terlalu murah, dan terlalu gampang dibikin, masyarakat menganggapnya biasa. Tidak istimewa.

Padahal, menurut Wildan, yang bisa dieksplorasi dari teh masih sangat banyak. Tanaman bernama Latin Camellia sinensis itu punya diagram taste and flavour yang kompleks dan luas. Tapi, memang belum banyak yang tahu. Atau, tahu tapi belum mempraktikkannya.

”Jadilah perjalanan ini sambil berjualan dan mengenalkan teh,’’ ungkap Wildan. Perjalanan yang dia maksud adalah bersepeda 30 hari keliling Pulau Jawa. Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, pria 30 tahun itu menggowes sepedanya dari Bandung di Jawa Barat sampai Banyuwangi di Jawa Timur. Tentu saja sambil open tea bar. Alias menjajakan teh.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : gal/c13/hep

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads