alexametrics
Jawa Pos Belah Durian Edisi 3

Durian Bajul Nganjuk, Bikin Jatuh Cinta dan Jadi Rebutan karena Langka

8 Januari 2020, 14:48:52 WIB

Bentuknya khas, menyerupai mulut buaya. Rasanya juga penuh sensasi yang tak bisa diperoleh dari varietas lainnya. Namun, tidak mudah berburu durian yang satu ini.

ADA sejumlah versi di balik asal-usul nama durian bajul. Versi pertama, varietas tersebut berasal dari Desa Bajulan atau Mbajul, sebuah desa di kaki Gunung Liman, Kecamatan Loceret, Nganjuk.

Versi lain, disebut durian bajul karena bentuknya khas. Buahnya lancip ke bawah seperti mangga gadung. Kulit durinya pun pendek-pendek berwarna kuning tua. Selain itu, ciri khas lain durian tersebut adalah bagian ujungnya. Mengerucut dan tumpul mirip mulut buaya.

Ukuran durian itu juga besar. Berat per buah minimal 3 kilogram. Diameternya mencapai 20 sentimeter. Meski namanya cukup ekstrem, durian khas Dusun Sumberagung, Desa Bajulan, tersebut begitu mudah membuat para penikmat durian jatuh cinta. Sebab, varietas itu mempunyai keunggulan yang tak bisa ditemui pada durian lain.

Yang paling khas, rasa manis dan pahitnya menyatu. Penikmat durian tersebut juga bakal merasakan sensasi alkohol di tiap gigitan. Aromanya kuat. Kualitas daging durian bajul juga khas. Semakin lama makin keset, berbeda dengan durian lain yang cenderung lebih lembek.

Karena itu pula, mayoritas konsumen durian bajul enggan langsung menyantap durian tersebut setelah membelinya. ”Khusus durian bajul, biasanya dibawa pulang untuk dimakan di rumah. Katanya eman (sayang, Red) kalau dimakan di sini,” kata Titik Juniarti, salah seorang penjual buah durian.

Namun, di balik keistimewaannya, durian bajul kerap menghadirkan kekecewaan bagi para pencintanya. Penyebabnya, durian tersebut tidak mudah didapat. ”Jadi rebutan para pemborong. Sering kali, pembeli harus inden dulu,” ucap Yuda Setiawan, suami Titik.

JUMBO: Titik Juniarti menunjukkan deretan daging buah durian bajul. Sayang, varietas ini terbilang langka. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Maklum, hingga kini, indukan pohon durian bajul hanya dua. Usianya sudah lebih dari 50 tahun. Di setiap musim panen, satu pohon hanya mampu memproduksi rata-rata 120 buah.

Pohonnya memang masih bisa dimaksimalkan hingga menghasilkan 200 buah. Namun, petani memilih menyeleksi bunganya. ’’Supaya bunga yang terpilih mendapat makanan yang maksimal dari pohon. Sehingga buahnya berkualitas tinggi,’’ jelas Titik.

Sebenarnya, ada satu lagi pohon durian bajul di Kecamatan Ngetos. Tetapi, jumlahnya juga sedikit. Paling banyak ada 5–6 buah per hari.

Meski sudah jadi ’’komoditas panas’’, hingga saat ini, belum ada usaha budi daya durian bajul. Salah satu kendalanya, warga di dusun itu belum menemukan metode yang paling pas untuk pembibitan varietas tersebut.

Selain Loceret, persebaran durian di Nganjuk ada di Kecamatan Sawahan dan Ngetos. Kawasan itu masuk pegunungan Wilis. Selain jenis bajul, durian lain asal kabupaten tersebut yang dikenal adalah durian dop.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c20/ris


Close Ads