alexametrics

Tarif Borobudur Naik: Lokal Rp 750 Ribu, Wisatawan Asing USD 100

6 Juni 2022, 11:37:38 WIB

Yang Boleh Naik ke Candi Maksimal 1.200 Orang Per Hari

JawaPos.com – Pro-kontra langsung mencuat saat Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengumumkan rencana tarif baru untuk naik ke Candi Borobudur.

Tarif untuk wisatawan lokal yang semula hanya Rp 50–60 ribu menjadi Rp 750 ribu. Atau, naik sekitar 1.500 persen. Sedangkan tarif untuk wisatawan mancanegara naik dari Rp 210 ribu menjadi USD 100 atau sekitar Rp 1,4 juta.

Rencana tarif baru tersebut disampaikan Luhut di sela-sela kunjungannya ke Borobudur pada Sabtu dan Minggu (4-5) Juni. Luhut menjelaskan, ada satu kelompok yang dikecualikan dalam ketentuan tarif baru tersebut. Yakni, kelompok pelajar. ’’Pelajar cukup membayar Rp 5.000,” jelas Luhut, Sabtu (4/6). Sebelumnya, tarif untuk pelajar Rp 25.000. Selain menaikkan tarif, Luhut mengumumkan akan membatasi jumlah pengunjung yang bisa naik ke Candi Borobudur menjadi maksimal 1.200 orang per hari.

Luhut mengatakan, kebijakan itu diambil dengan dasar preservasi. Sebab, ditemukan beberapa kerusakan di tubuh kuil Buddha warisan Dinasti Syailendra tersebut. Namun, dia menegaskan bahwa kebijakan baru itu belum berlaku, setidaknya sampai sebulan ke depan.

Kalangan pengusaha pariwisata menyesalkan rencana kenaikan tarif itu. Ketua Umum Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Artha Hanif bahkan mengaku terkejut. ’’Pak Menko Marves akan menaikkan tiket Borobudur, ini mengagetkan, surprised ya. Soal harga juga bukan persoalan yang mesti diputuskan seorang Menko untuk objek tur Borobudur. Mestinya Pak Menko fokus pada hal-hal yang lain,’’ ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (5/6).

Artha meminta kebijakan tarif tiket Borobudur diserahkan kepada yang selama ini mengurusnya. Dia berharap para pihak yang terlibat dalam rencana kenaikan tiket Borobudur bisa mempertimbangkan kembali besaran tarif yang dirasa sangat membebani itu.

Terlebih, ada banyak elemen yang akan terdampak kebijakan itu. Jika HTM (harga tiket masuk) terlalu mahal, dikhawatirkan akan terjadi dampak yang tidak diinginkan. Yakni, mematikan pelaku usaha di sekitar Borobudur.

’’Masyarakat setempat lebih layak mendapatkan tambahan manfaat dari objek pariwisata tersebut. Kenaikan HTM yang luar biasa tinggi dan mengejutkan ini akan membuat orang jadi minim datang. Ini Rp 750 ribu lho, harus datang ke Borobudur bayar Rp 750 ribu ini nggak make sense, nggak rasional,’’ tegasnya.

Artha mengapresiasi niat baik pemerintah yang ingin melestarikan Borobudur. Namun, kenaikan tarif bukanlah solusinya. Dia menyebut, jika memang alasannya untuk melindungi bangunan candi, pemerintah bisa saja cukup membatasi jumlah pengunjung. Bukannya malah menaikkan tarif tiket dengan nilai yang fantastis. ’’Kalau tujuannya melindungi, bikin saja kuota, buat kebijakan yang sesuai dengan maksud menjaga candi. Kalau menaikkan HTM, ini kan dua hal yang beda. Kita hargai niat baiknya, tapi kalau menaikkan HTM ya untuk pemasukan negara kan,’’ jelasnya.

Ketua DPD Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Jateng Dian Dalu Akirta menambahkan, ada beberapa hal yang harus diluruskan. Dian menjelaskan, tarif Rp 750 ribu itu bukanlah tiket masuk, melainkan tarif yang dikenakan apabila wisatawan ingin menaiki area candi. ’’Tiket masuk tetap Rp 50 ribu. Jadi, Rp 750 ribu bukan tiket masuk, tapi itu adalah biaya untuk naik ke bagian (atas) Candi Borobudur. Pengunjung masih bisa menggunakan tiket Rp 50 ribu, tapi hanya di bawah bagian selasar itu,’’ jelas dia.

Memang, dia mengakui, nanti para wisatawan terseleksi. Dia mencontohkan hal serupa di Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang. Di lokasi tersebut, wisatawan tetap membayar tarif yang cukup ringan untuk masuk lokasi. Namun, ada opsi membayar lebih apabila ingin masuk ke area kuil.

Dian menyebut, dengan kebijakan pengenaan tarif terusan itu pun, lokasi tersebut tetap banyak dikunjungi. Bahkan, tidak ada penurunan demand dari wisatawan. ’’Tujuannya, mensterilkan lokasi sebagai tempat ibadah. Begitu pula untuk Borobudur. Memang efeknya akan menurunkan jumlah wisatawan yang sangat drastis. Namun, kembali lagi, ada seleksi alam dan Borobudur bisa tetap kita pertahankan,’’ jelas Dian.

Dia menghargai niat baik pemerintah yang ingin Borobudur bisa terjaga sebagai cagar budaya. Sistem kuota harian juga dinilai sebagai upaya yang baik. Namun, harus ada edukasi bagi masyarakat luas agar kebijakan tersebut bisa dipahami lebih baik.

Sementara itu, dari pantauan Radar Magelang di Candi Borobudur, beberapa pengunjung mengaku berkeberatan dengan kenaikan harga tersebut. Gibari, pelajar SMK Makarya Jakarta, kurang setuju dengan rencana itu. Alasannya, saat ini semua sektor pariwisata belum benar-benar bangkit akibat pandemi Covid-19. ’’Jadi, menaikkan harga tiket untuk naik ke Candi Borobudur sampai Rp 750 ribu perlu dipertimbangkan lagi. Namun, untuk harga pelajar Rp 5.000 saya tidak berkeberatan,” ujar Gibari saat ditemui wartawan koran ini kemarin (5/6).

Siti, pengunjung dari Balikpapan, Kalimantan Timur, juga sangat berkeberatan. Dia mengatakan, jika harga jadi dinaikkan, jumlah wisatawan domestik akan terpengaruh. ’’Saya berharap, kalau mau menaikkan harga sewajarnya saja, misalnya Rp 100 ribu itu kan masih rata-rata,” katanya.

Ganjar Minta Ada Edukasi

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta pihak Taman Wisata Candi Borobudur (PT TWC) segera mengedukasi masyarakat terkait latar belakang kenaikan harga tersebut. Ganjar menjelaskan, pemerintah memutuskan pembatasan jumlah wisatawan yang naik ke Candi Borobudur hanya 1.200 orang per hari. Keputusan itu, kata Ganjar, ditambah dengan pengendalian melalui penerapan tarif.

’’Maka, untuk naik ke candi kemarin disampaikan agar ada pengelolaan dengan pengendalian melalui tarif, kira-kira begitu,” kata Ganjar saat dihubungi wartawan kemarin. Menurut dia, kebijakan tersebut tidak diputuskan begitu saja. Berbagai aspek menjadi pertimbangan. Salah satunya adalah konservasi Candi Borobudur yang belakangan mengalami penurunan. Sampai hari ini, wisatawan belum diperbolehkan naik ke Candi Borobudur.

Melalui Instagram-nya, Ganjar juga mengatakan bahwa kebijakan tersebut belum diterapkan. Persiapan teknis dan regulasi masih dibahas pihak PT TWC dan Balai Konservasi Borobudur (BKB). ’’Sampai hari ini TWC masih akan komunikasi menyiapkan SOP-nya, soal regulasinya dengan badan pengelola (BKB). Jadi, masyarakat tidak perlu terganggu,” tegasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : tau/dee/mia/lum/rfk/c7/oni

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads