alexametrics

Nama-Nama Unik Durian Sumberjambe, Dibagi Gratis saat Sedekah Bumi

4 Februari 2020, 14:48:06 WIB

Kecamatan Sumberjambe di Kabupaten Jember begitu kaya akan durian lokal. Kualitasnya bisa diadu. Nama-namanya juga bikin penasaran. Ada si Fatimah hingga si Belanda.

JIKA ditanya daerah mana yang jadi pusat durian di Jember, sebagian besar orang pasti menjawab Sumberjambe. Sampai-sampai ada ungkapan, belum lengkap jika tidak mampir ke sana saat berada di Kota Karnaval.

Ya, kecamatan itu memang dikenal luas sebagai daerah penghasil durian. Kualitas buah lokalnya tersohor, bahkan sudah menjadi brand durian jember.

Sumberjambe memang cocok jadi sentra pembibitan durian. Terletak di dataran tinggi pegunungan. Tepatnya di ujung barat lereng Gunung Raung. Jaraknya 35 kilometer dari pusat kota. Di sana ada empat desa yang terkenal akan kebun duriannya. Yakni, Rowosari, Pleran, Pringgondani, dan Jambearum.

Dari empat desa itu, Rowosari disebut-sebut sebagai pusat durian lokal jember. Ribuan pohon di sana tumbuh subur. Ada dua kawasan perkebunan yang cukup luas. Yakni, Dusun Pringpaduh dan Gerdu Timur.

Penggemar durian yang mampir ke desa tersebut tak akan bosan. Sebab, ada sejumlah varietas lokal yang terkenal akan kualitasnya. Namanya pun unik-unik. Pemburu durian bisa menjumpai buah bernama si Mentega, si Kasur, si Nangka, si Plotan, si Fatimah, si Jurang, hingga si Belanda.

Si Mentega, misalnya. Daging buahnya tebal dan berwarna kuning seperti mentega. Rasanya legit. Rekomendasi petani durian itu paling enak disantap saat setengah matang.

Si Fatimah juga menjadi favorit. Dagingnya kuning, rasanya sedikit pahit. Kulit luarnya berwarna hijau dan ukurannya cukup besar. ’’Fatimah memang durian asli sini. Pohonnya ditanam bapak saya,” tutur Agus Adi Efendi, petani durian di Desa Rowosari.

Ada lagi si Jurang. Varietas itu punya keunggulan dari sisi keawetan. Meski buahnya sudah terbuka empat hari, dagingnya tidak basah atau benyek. ”Kalau si Belanda, konon tanamannya ada sejak zaman Belanda,” lanjut Agus.

Masa panen raya di Rowosari rata-rata delapan bulan sekali. Sekali panen, dalam sehari petani bisa memanen ratusan durian. ’’Kalau durian lokal, malah bisa 6 ribuan. Untuk si Kasur, 500 lebih. Si Jurang diperkirakan 400 buah,” jelas Agus.

Desa tersebut juga memiliki festival durian yang berlangsung sejak 2008. Dalam rangka sedekah bumi sebagai bentuk syukur petani dan pedagang durian Sumberjambe atas panen durian yang melimpah.

Festival itu menampilkan tarian Padumbe. Singkatan dari Panen Durian Sumberjambe. Dalam acara tersebut, petani biasanya membagikan durian secara gratis. Mereka juga menggelar kontes durian. Kini, festival itu sukses menjadi ikon di desa tersebut.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c18/ris


Close Ads