alexametrics

Durian Elang dari Wonosalam Jombang, Sudah Dipesan meski Belum Matang

2 Februari 2020, 15:48:39 WIB

Nama durian ini disesuaikan dengan kondisi pohonnya. Tinggi dan kerap menjadi sarang burung elang. Harganya lumayan mahal. Namun, mendapatkan durian yang satu ini tidak mudah.

MEMBAHAS durian-durian lokal asal Kecamatan Wonosalam seakan tak ada habisnya. Karena itu pula, tak sedikit yang menyebut daerah ini sebagai surganya pencinta durian.

Begitu banyak varietas unggul di wilayah yang terletak di dataran tinggi perbatasan Jombang-Kediri itu. Salah satunya adalah durian elang. Jenis tersebut masuk kategori langka. Hanya ada di Desa Jarak.

Di desa itu, durian elang begitu legendaris. Pohonnya sudah tua. Peninggalan nenek moyang. Disebut durian elang karena ketinggiannya. Berkisar 20–50 meter. Paling tinggi di antara pohon-pohon lain. Gara-gara itu pula, pohon itu sering dipakai burung badol atau elang untuk membuat sarang. ”Karena kami menanamnya di lereng-lereng jurang,’’ kata Kusrini, salah seorang pemilik pohon durian elang, yang ditemui Jawa Pos Radar Jombang.

Durian tersebut memiliki ciri-ciri yang tak sama dengan jenis lokal lainnya. Dari segi warna kulit, warna durian itu cenderung lebih hijau. Warna daging buahnya juga khas. Ada yang kuning laiknya mentega atau kuning keputih-putihan. Isi daging buahnya juga lebih banyak dan tebal. Bijinya tergolong kecil. ”Saat digigit, teksturnya begitu lembut dan dagingnya bertumpuk-tumpuk,” ujarnya.

Soal rasa tak perlu diragukan. Durian elang mempunyai keunggulan pada perpaduan rasa manis dan pahit yang khas. ”Rasa durian elang mirip dengan jenis bido. Termasuk ketebalannya juga sama,’’ ujarnya.

Karena kualitas itulah, durian elang menjadi salah satu varietas unggulan. Terbukti, dua tahun berturut-turut durian elang mengikuti kontes di Wonosalam. Varietas tersebut selalu menjadi juara. ”Setiap tahun saat kontes selalu menjadi andalan kami,” ujar Kepala Desa Jarak Agus Darminto.

Meski kualitasnya sudah diakui, durian elang tergolong langka. Selain hanya ada di Desa Jarak, tak banyak petani yang berhasil menanam durian tersebut. ”Kalau ditanam dari bibit, memang sulit hidup,” terang Kusrini.

Di antara pohon durian di kebunnya, hanya ada satu pohon durian elang yang berbuah tahun ini. Lainnya rata-rata gagal berbunga karena lebatnya hujan. ”Saya punya pohon durian. Yang menanam dulu adalah kakek saya,” jelas dia.

Karena itu, saat ini para petani mencoba cara lain agar produksi durian elang bisa lebih banyak. Salah satunya melalui teknik okulasi.

Soal harga, durian itu terbilang mahal. Durian tersebut dibanderol Rp 150 ribu–Rp 200 ribu. Meski demikian, durian itu begitu diburu pencintanya. Bahkan, saat belum matang pun, durian itu sudah banyak yang memesan. ”Kalau mau memperolehnya, harus langsung ke petani,” jelasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : *c12/ris


Close Ads