alexametrics
Warung Langganan Jokowi (41)

Gudeg Lesehan Mbak Yus, Langganan Jokowi sejak Masih Jadi Pengusaha

23 April 2022, 06:36:03 WIB

Yustina alias Mbak Yus membutuhkan waktu panjang dalam mengkreasi dan menemukan cita rasa maknyus gudegnya. Presiden Joko Widodo sekeluarga pun kepincut dengan warung lesehan gudeg yang mulai berjualan selepas matahari tenggelam itu.

RETNO DYAH AGUSTINA, Solo

MOBIL klasik yang terparkir di pinggir Jalan RA Kartini itu seketika mencuri perhatian. Homark Criterion 1984 jenis van itu menjadi tetenger bahwa gudeg lesehan milik Yustina alias Mbak Yus segera buka.

Warung di emperan toko itu baru beroperasi selepas magrib. Atau sekitar pukul 18.00 WIB. Namun, terkadang kalau hujan deras, warung gudeg Mbak Yus baru buka pukul 19.00 WIB. Jika sudah demikian, Mbak Yus akan sibuk meminta pemakluman dari pelanggan. ”Sik yo, sik yo,” tutur Mbak Yus.

Mangkuk-mangkuk besar dikeluarkan. Daun pisang yang menutupi mangkuk besar itu segera dibuka. Isinya beragam. Mulai opor ayam, telur, krecek dengan warna merah menggoda, ceker ayam, dan tentu saja gudeg. Deretan menu tersebut bisa disajikan dengan nasi atau bubur.

”Pak Jokowi itu sukanya dengan bubur,” ucap Mbak Yus kepada Jawa Pos Januari lalu.

Sejak masih jadi pengusaha, Jokowi dan keluarga cukup rutin datang ke tempat Mbak Yus. Intensitas kunjungan memang sesering ketika jadi pengusaha ketika karier politik Jokowi menaik. Wali kota Solo, gubernur DKI Jakarta, dan kemudian jadi presiden.

Setelah jadi pejabat, Jokowi baru tiga kali makan ke restoran cabang milik Mbak Yus. ”Bukan ke sini lagi karena kan (lokasinya) pinggir jalan ya,” kata Mbak Yus.

Sedangkan Ibu Iriana dan putri Jokowi, Kahiyang Au, juga sempat datang langsung ke warung lesehan di Jalan RA Kartini itu. Selain mereka datang dengan pengawalan level pejabat negara, ada satu hal yang diingat Mbak Yus.

”Bu Iriana dan Mbak Kahiyang selalu nggak mau diutamakan. Bayar ya antre. Ibu (Iriana) juga sering ajak teman-temannya makan di sini,” terang Mbak Yus.

Sensasi lesehan ala Gudeg Mbak Yus itu diminati banyak pejabat. Level Solo, Provinsi Jawa Tengah, hingga nasional. Menurut Mbak Yus, mereka datang karena rekomendasi dari keluarga Jokowi. Beberapa tokoh dan artis yang pernah berkunjung, misalnya, Ketua DPR Puan Maharani serta Darius Sinathrya.

Nah, bubur buatan Mbak Yus wajib dicoba jika berkunjung ke Solo. Bubur pengganti nasi itu sangat lembut. Teksturnya mirip dengan bubur sumsum. Kuncinya terletak pada tambahan santan saat pembuatan. Rasanya juga tidak enek. Keju mozzarela yang masih hangat saja kalah lembut dengan bubur buatan Mbak Yus. Apalagi saat dipadukan dengan opor ayam, krecek, dan lauk lainnya. Rasa manis bubur yang tak terlalu dominan membuat bumbu dari lauk jadi juara di lidah.

Satu porsi yang disajikan sudah mengenyangkan. Buburnya padat, lauknya menjulang. Tapi, rasanya memang bikin orang ketagihan. Memicu pertarungan antara lidah yang masih ingin nambah dan perut yang sudah minta ampun kekenyangan. Bagi yang suka porsi jumbo, tak ada salahnya memesan lagi porsi lanjutan.

Opor ayam buatan Mbak Yus sangat empuk. Rasa opornya juga meresap hingga ke daging terdalam. Hal itu menandakan proses masak yang lama. Potongan ayamnya besar. Krecek yang punya rasa asin melengkapi rasa manis dari buah nangka. Sayur daun pepayanya justru memberikan rasa agak pedas, tanpa meninggalkan asin manis.

Pembuatan lauk-lauk dengan cita rasa khas itu membutuhkan proses yang panjang. Selama setahun pertama, Mbak Yus melakukan banyak trial and error. ”Pusing karena tiap ada pelanggan mintanya beda-beda. Ada yang kurang pedas, ada yang bilang kalau pedas nanti anak-anaknya tidak mau,” kenangnya, kemudian tertawa. Sampai sekarang, Mbak Yus merasa resep yang dipakainya sebenarnya hasil racikan dari pelanggan-pelanggannya dulu.

Mbak Yus mengakui proses membangun resep itu tak dibayangkan olehnya. Pada awalnya, Mbak Yus tertarik berjualan gudeg karena kepo dengan salah satu pedagang gudeg lawas di timur Jalan RA Kartini. ”Ibu itu memutuskan tutup karena sudah sepuh. Jadi, saya menawarkan diri untuk meneruskan jual gudegnya,” tutur Mbak Yus.

Ternyata, gayung tak bersambut. Ibu penjual gudeg memang mempersilakan Mbak Yus menjual gudeg, tapi bikin resep sendiri. ”Mau menempati tempatnya yang lawas juga nggak boleh. Jadi, saya jual di tempat ayah saya dagang rokok, masih satu jalan sebenarnya,” kenangnya.

Mbak Yus kini sudah lama menempati lapaknya di Jalan RA Kartini tersebut. Meski sudah berkali-kali ditawari untuk membuka restoran, Mbak Yus mengaku enggan. ”Begini saja lah,” jawabnya, kemudian tertawa.

Kemauan membuat restoran justru dikembangkan anaknya. Prima, anak ketiga dari empat bersaudara, membuka cabang di restoran. Rencana pembukaan cabang di Jakarta juga sudah dibicarakan, namun masih terhalang pandemi. Mbak Yus sendiri tetap nyaman berjualan di pinggir jalan selama malam hari.

Nasi gudeg dengan lauk komplet di warung Mbak Yus. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

Sejak remaja, anak-anak Mbak Yus memang diajak untuk mengurus restoran. Mbak Yus ingin mereka nanti lebih bersemangat saat mengembangkan bisnis keluarga tersebut. ”Supaya mereka sendiri merasakan bagaimana melayani pelanggan, menyiapkan makanan. Pengalaman itu nggak tergantikan,” sambungnya. Keempat anaknya hingga dewasa masih ikut mengelola. Bahkan, beberapa juga mulai mengembangkan menu makanan baru sendiri.

Pengalaman yang tak tergantikan itu juga termasuk bagaimana bertahan saat pandemi dua tahun terakhir. Mbak Yus dan putra-putrinya sempat berjualan dengan mobil klasik yang sudah dimodifikasi. Semacam food truck kecil-kecilan. Ternyata, hype-nya sangat bagus.

”Padahal karena ada mobil di rumah nganggur, jadi dihias terus dipakai jualan. Eh, ternyata orang malah suka,” ucap perempuan kelahiran Solo itu. Menurut Mbak Yus, mobil itu dibuat kisaran 1980-an. Mobil klasik tersebut kemudian dipertahankan hingga kini. Tak jarang jadi latar foto untuk pelanggan yang datang dari berbagai daerah.

Baginya, mengelola warung makan bukan hanya tentang cita rasa yang dijaga otentik bertahun-tahun. Mbak Yus menunjukkan sendiri betapa pentingnya melayani dengan ramah. Bukan sekadar senyum, tapi juga rajin menghampiri meja-meja pelanggan untuk menyapa dan berbincang di sela menyiapkan makanan.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : c19/dra

Saksikan video menarik berikut ini:

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads