alexametrics
Warung Langganan Jokowi (40)

Presiden Jokowi Terpikat Sajian Nasi Campur Sarat Lauk di Warung Adi

22 April 2022, 06:43:36 WIB

Ajudan Istana Datang, Sterilkan Lagi Semua Alat Makan

Nasi Bali menjadi sajian kuliner yang tak boleh ketinggalan jika melawat ke Pulau Dewata. Itu juga berlaku bagi Presiden Ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Di antara banyaknya warung dan resto yang menyajikan nasi khas Bali tersebut, favorit Jokowi adalah Warung Adi di Sanur.

MARIYAMA DINA, Sanur

—-

PEMILIK Warung Adi bernama Desak Nyoman Suciati. Dia sengaja menamai warungnya dengan nama putra sulungnya, Adi. ”Waktu itu saya ingat betul, anak saya masih berusia 4 bulanan pada 1989,” katanya ketika ditemui Jawa Pos di warungnya pada pertengahan Desember lalu.

Sejak masih gadis, Desak memang hobi memasak. Sebagai perempuan Bali, semua makanan khas dengan bumbu Bali menjadi keahliannya. Kini hobi itulah yang menjadi mata pencahariannya. Warung Adi yang hanya berjarak sekitar 20 menit bermobil dari Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai menjadi jujukan para wisatawan, baik asing maupun dalam negeri. Bahkan para artis dan pejabat.

Sekitar tujuh tahun lalu, Presiden Jokowi singgah ke Warung Adi. Rupanya, cerita tentang lezatnya masakan Desak sampai juga ke telinga pemimpin 60 tahun tersebut. Desak menyebut kedatangan Jokowi sangatlah mendadak.

Pagi itu, Desak baru saja membuka warungnya. Jam menunjukkan pukul 9 pagi ketika ajudan Istana Presiden memberitahukan kepadanya bahwa Jokowi akan mampir ke warungnya untuk bersantap.

Sesuai dengan protokoler kepresidenan, Jokowi tentu tak datang sendirian, tetapi bersama rombongan.

”Waktu itu benar-benar kaget sampai keringetan. Sebab, infonya sangat mendadak. Jadi, buru-buru semua kami rapikan lagi dan steril semua peralatan makan,” kisahnya. Semua piring, sendok, dan garpu segera Desak rebus untuk memastikan tak ada kuman yang menempel. ”Sebenarnya steril alat makan dengan merebus selalu kami lakukan saat sore, pas sudah tutup. Tiap hari. Tapi, hari itu kami sterilkan lagi pada pagi hari untuk kembali memastikan semua aman,” terangnya.

Sekitar satu jam kemudian, Jokowi tiba. Hari itu, warungnya di-booking sepenuhnya. Sejak pagi hingga siang. Bahkan, jalanan di depan Warung Adi ikut disterilkan. Ada sekitar 200 orang dalam rombongan Jokowi saat itu.

Kedatangan Jokowi ke Warung Adi tentu menghebohkan warga sekitar. Meski area sekitar warung bersih dari kendaraan yang parkir, tak seperti biasanya, warga masih bisa berlalu-lalang di jalanan depan. Mereka hilir mudik dan sesekali mengintip ke Warung Adi untuk melihat sang presiden. ”Saat itu banyak sekali yang minta foto dan nggak papa juga sama Pak Jokowi,” ujar Desak.

Sejak itu, Istana Kepresidenan Tampaksiring, Bali, sering memesan menu nasi Bali dari Warung Adi. Khususnya bila Jokowi sedang mengunjungi Bali. ”Dulu sering sekali pas periode awal beliau. Hampir sebulan sekali pasti ada pesanan. Tapi, memang pada masa periode kedua ini sudah jarang,” ungkap Desak.

Selain Jokowi, Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri ternyata juga sering membeli nasi Bali di Warung Adi. ”Tapi, kalau Bu Mega, memang selalu dibungkus. Belum pernah mampir,” jelasnya.

Megawati mulai memesan nasi Bali di warung Desak sejak kongres PDI. ”Karena kongresnya kan sering sekali digelar di Bali,” ungkapnya.

Pesanan Megawati selama kongres selalu nasi campur. Komposisinya, menurut Desak, nasi sedikit, tetapi lauknya banyak. Megawati juga selalu minta nasi pesanannya dibungkus dengan daun. Nasi Bali yang juga sering disebut nasi campur Bali di Warung Adi tidaklah saklek. Lauknya bisa disesuaikan dengan keinginan pembeli.

Nasinya pun demikian. Boleh nasi sedikit dan lauk banyak seperti Megawati. Boleh pula hanya memilih lauk tertentu sebagai teman makan nasi. Yang lebih penting lagi, Desak mempersilakan pembeli memilih sendiri komposisi nasi dan lauk sesuai dengan isi kantong masing-masing.

”Jadi, memang saya nggak mau terlalu yang gimana-gimana. Boleh banget kalau mau milih isinya apa, porsinya seberapa, bahkan kalau waktu itu hanya punya Rp 5.000 juga akan kami sesuaikan,” tuturnya.

Desak memasak sendiri lauk-pauk yang disajikannya di Warung Adi. Setiap hari dia dibantu putri-putrinya. Dia juga mempersilakan siapa pun yang datang untuk melihat proses memasak. Memilih langsung lauk yang sedang digoreng pun boleh-boleh saja.

Kepada Jawa Pos, Desak menyampaikan bahwa nasi Bali ala Warung Adi memang sarat lauk. Mulai ikan laut sambal matah, kulit ayam goreng, sayur urap Bali dengan kacang panjang, kecambah, hingga pare. Ada pula ayam goreng bumbu Bali, ayam betutu bumbu Bali, ayam panggang bumbu Bali, udang bumbu Bali, sate lilit ayam bumbu Bali, kuah atau sup betutu, telur rebus, hingga sambal Bali.

Variasi yang sangat banyak di dalam satu menu itulah yang menjadikan nasi campur Bali di Warung Adi istimewa. Desak sengaja memasak sebagian besar lauknya dengan bumbu Bali. ”Bumbu Bali itu ibaratnya bumbu lengkap. Lauk apa saja sebenarnya bisa dimasak dengan bumbu ini,” terangnya.

Sementara itu, selain perbedaan sajian dalam porsi nasi Bali ala warungnya, Desak menjadikan tempat makannya sebagai daya tarik. Dia tak segan membangun ini-itu di warungnya. Pada Desember tahun lalu, Desak sedang merenovasi warungnya. Dia menambahkan satu lantai di atas warungnya.

Rencananya, Desak melengkapi lantai 2 dengan tempat ngopi. ”Sebab, selama pandemi, tren orang sepedaan pagi-pagi itu meningkat. Jadi, banyak yang sering cari warung kopi juga. Selain warung nasi, kami coba sediakan lengkap dengan warung kopinya,” paparnya.

Desak menegaskan, gempuran pandemi yang membuat Bali terpuruk harus disikapi dengan inovasi dan kreasi. Dia terus melakukan gebrakan untuk bisa bertahan.

KREASI BUMBU BALI: Desak berfoto bersama Jokowi di warungnya. (DIMAS MAULANA/JAWA POS)

Dulu Lazim Dibarter dengan Kelapa

NASI Bali atau juga bisa disebut nasi campur Bali ada sejak lama. I Kadek Surya Jayadi, staf pengajar FKIP Universitas Mahasaraswati, Denpasar, menjelaskan bahwa nasi campur populer di Pulau Dewata sejak 1950-an dan 1960-an.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, nasi campur Bali pun bertransformasi. Yang Kadek amati adalah penyajiannya. Dulu nasi campur disajikan dalam wadah yang orang Bali sebut tekor. Yakni, piring yang terbuat dari daun. Tekor lantas berubah menjadi piring enamel.

”Dan kini barulah menggunakan piring kaca dan piring keramik,” ujarnya kepada Jawa Pos pada Rabu (20/4).

Selain cara penyajian, yang berkembang pesat adalah lauknya. Awalnya, isian nasi campur adalah garang asem, bebalung, dan jukut urap saja. Namun, kini variasinya lebih beragam. Ada yang menambahkan sate lilit, sate tusuk, kulit ayam goreng, sampai mi.

Hal lain yang juga berubah, menurut Kadek, adalah alat tukarnya. Dulu, pada 1950, masyarakat Bali masih bisa melakukan barter demi mendapatkan nasi campur. Seporsi nasi campur ditukar dengan buah kelapa, misalnya. ”Tapi, sekarang kan sudah nggak begitu,” katanya.

Kadek menyatakan, nasi campur Bali adalah miniaturnya kuliner Bali. Ada beragam sajian khas dalam seporsi nasi campur. Misalnya, betutu, be genyol, atau taluh bekasem. Lauk-lauk itu disajikan dalam satu piring yang sama.

Di sisi lain, nasi campur Bali juga kuliner rakyat alias comfort food yang mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional. ”Sejenis nasi rames gitu sebenernya. Nggak ada pakem yang khusus,” jelasnya.

Pada era modern, nasi campur Bali menjadi jati diri Bali. Pengemasannya juga lebih baik dari masa ke masa. Itu memberikan nilai tambah tersendiri di mata masyarakat. ”Jadi, nasi campur Bali itu sebenarnya sebuah budaya kuliner yang biasa-biasa saja, tapi mendapat frame unik dari masyarakat,” terang Kadek.

Dari sajian lauk yang beragam, ada makna mendalam pada seporsi nasi Bali. Yaitu, makna kepantasan. Mana yang pantas dan mana yang tidak. ”Apakah lauk ini pantas dijadikan satu dengan lauk yang itu atau tidak? Kebudayaan Bali, termasuk kulinernya, selalu menekankan konsep ini. Pantes sing? Adung tusing? Cocok tidak, serasi tidak?” tandasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c14/hep

Saksikan video menarik berikut ini:

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads