alexametrics
Jelajah Kuliner RI-1 (36)

Hidangan di Meja Makan Keluarga Soeharto dan Menu saat Jokowi Mantu

Tengkleng Yu Tentrem
18 April 2022, 06:21:31 WIB

Tengkleng Yu Tentrem sudah bertahan bergenerasi. Meski tak punya banyak cabang, pelanggannya tidak hanya berasal dari area Kadipiro, Solo. Presiden di negeri ini hingga menteri pun ketagihan olahan berbahan dasar kambing dengan bumbu rempah tersebut.

RETNO DYAH AGUSTINA, Solo

KALAU tidak senang blusukan dan cuma mengandalkan gawai untuk menunjukkan arah Tengkleng Yu Tentrem, sebaiknya pikir ulang niat bersantap kuliner yang satu ini. Toh, kalau sudah menemukan lokasinya, belum tentu juga kebagian kuliner yang mirip gulai encer tersebut.

Sebab, menu yang dihidangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menikahkan anak sulungnya yang kini adalah wali kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, hanya tersedia antara 1,5 sampai 2 jam sejak warung dibuka.

Pada Januari lalu, Jawa Pos mengunjungi lokasi Tengkleng Yu Tentrem. Berpatokan petunjuk dari Google Maps, titik yang ditunjukkan peta digital itu hanya mengantarkan Jawa Pos ke gapura hijau bertulisan Ngadisono. Untungnya, ada papan petunjuk berkelir putih dengan tulisan Destination Culinary Tengkleng Yu Tentrem disertai tanda panah untuk melewati gapura tersebut.

Setelah melewati gapura, Jawa Pos menyusuri jalan kampung yang lebarnya kira-kira hanya cukup untuk sepeda motor.

Jalanan kampung sempit, rumah berimpitan rapat di kiri-kanan jalan, nomor rumah yang tak selalu terpasang menjadi tetenger khas suasana kampung di Jawa.

Ketika tak cukup yakin bakal menemukan lokasi, Jawa Pos lantas bertanya kepada salah seorang warga yang dijumpai. ”Niku wonten pertigaan, ngiwo mawon (Itu ada pertigaan, ke kiri saja, Red),” tutur warga yang tinggal di Gang Ngadisono tersebut.

Sekitar 90 meter dari gapura, pertigaan yang dimaksud pun ketemu. Papan bertulisan Tengkleng Masih Ada menggantung di dahan pohon depan rumah berwarna hijau. ”Kalau sudah nggak ada, papan akan diganti dengan tulisan Tengkleng Habis,” kata Purwaningsih.

Pur ‒sapaan Purwaningsih‒ adalah pengelola Tengkleng Yu Tentrem saat ini. Pur merupakan generasi ketiga di Tengkleng Yu Tentrem. Pur dan adiknya melanjutkan pengelolaan tempat itu sejak 2017 setelah sang ibu memandatkan warung tersebut kepada mereka. Yu Tentrem yang namanya dijadikan sebagai papan nama adalah pendiri sekaligus nenek Pur dari pihak ibu.

Secara resmi, Tengkleng Yu Tentrem buka pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. Tapi, lewat pukul 12.00, papan yang ada di depan warung sering sudah dibalik. Tanda tengkleng sudah tandas.

”Kalau sekarang, orang-orang sudah ngantor lagi. Jadi, saat jam makan siang pasti ludes. Kalau dulu pas ramai WFH (work from home), habisnya nggak bisa ditebak. Kadang pukul 11.00, kadang pukul 14.00,” ucap Pur.

Dalam memasak tengkleng, Pur melanjutkan tradisi yang sudah bertahan tiga generasi. Yakni, memasak di lorong kecil samping rumah. Di lorong itu terdapat perkakas masak Pur dan dua panci besar berisi tengkleng yang nangkring di atas kompor.

”Kalau dikirim ke Jakarta mengejar pesawat pertama, masih (pagi) gelap sudah masak. Terus diwadahi termos-termos agar bisa dibawa langsung,” jelas Pur. Kalau jatah masak tengkleng sudah habis, Pur tak akan membuka warungnya.

Cara Pur memasak tengkleng pun seperti tradisi keilmuan yang diajarkan nenek dan ibunya. Kuah tengkleng yang diracik dari berbagai bumbu jenis rempah seperti pala, kemiri, ketumbar, dan merica dicampur dengan bermacam rimpang (jahe, kunyit, lengkuas). Jangan lupa santan kelapa, serai, daun salam, daun jeruk nipis, bawang merah, dan bawang putih dimasukkan dalam panci.

Sepiring Tengkleng Yu Tentrem. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

Salah satu kekhasan menu tengkleng buatan Yu Tentrem ialah penyaringan kuah yang dilakukan berkali-kali. Proses mengaduk tengkleng juga berkali-kali. Setiap rempah yang mengambang akan disaring. Hal itu membuat kuah tengkleng terlihat lebih jernih. ”Ya biar cantik, kelihatan rapi. Dimakan pejabat juga, biar mantesi (layak, Red),” kata anak kedua di antara tiga bersaudara itu.

Dalam buku 100 Maknyus Makanan Tradisional Indonesia, praktisi kuliner Bondan Winarno (alm) menulis isian tengkleng saat ini mengalami pergeseran. Jika dulu isiannya adalah tetelan iga, kaki, dan kepala kambing, seiring ”kenaikan kelas” karena tengkleng hadir di meja makan kaum berpunya, jeroan dan daging berlemak pun hadir sebagai isian tengkleng.

Dan, benar saja Tengkleng Yu Tentrem memang memanjakan para pelanggannya dengan isian yang beragam. Bukan hanya tetelan iga, kaki, dan kepala. ”Saya membebaskan pelanggan memilih bagian mana. Kalau mau porsi komplet, pelanggan bisa makan otak, telinga, kepala,” terang Pur.

Nah, pelanggan Tengkleng Yu Tentrem juga datang dari berbagai kalangan. Keluarga Presiden Ke-2 RI Soeharto biasa menyuruh ajudannya untuk mengambil termos berisi tengkleng untuk dibawa ke Ndalem Kalitan (rumah keluarga Soeharto di Solo, Red) dan santap bersama keluarga.

Presiden Ke-7 Indonesia Jokowi malah memilih Tengkleng Yu Tentrem sebagai menu pesta pernikahan putra pertamanya, Gibran Rakabuming Raka. Hingga kini, Tengkleng Yu Tentrem juga masih menjadi langganan para menteri. Para pembantu presiden itu biasanya memesan via ajudan dan memakai termos. ”Pak Moeldoko itu sering. Terus Pak Menpora,” ucap Pur.

Di sisi lain, pelanggan juga bisa makan di tempat. Pur menyediakan satu meja persegi panjang dan dua meja kotak. Meja-meja tersebut diletakkan di ruang tamu rumahnya. Sofa-sofa, meja, dan pohon Natal mendekorasi ruang tamu yang juga tempat bersantap itu. Suasana rumahan tersebut, menurut Pur, sangat dikangeni pelanggan. Ruang tamu yang disulap menjadi ruang makan itu ada sejak 1993.

Menurut Pur, dulu neneknya, Yu Tentrem, tidak langsung berjualan di rumah yang jadi warung tersebut. Tapi, berkeliling sekitar Kadipiro. Seiring larisnya tengkleng, Yu Tentrem membeli rumah yang hingga sekarang menjadi lokasi warung. Apakah Pur atau sang ibu atau Yu Tentrem pernah ditawari pindah lokasi dan membuka cabang? ”Tidak. Sudah rezekinya di rumah ini,” jawab Pur enteng.

Dengan konsep open kitchen, ada interaksi yang terjalin antara koki dan pelanggan. Pur menceritakan, pengunjung duduk di kursi samping kompor. Mereka akan ngobrol ngalor ngidul sehingga interaksi yang hadir bukan lagi pembeli-penjual. Melainkan sebuah perkawanan.

Gara-gara menganggap pelanggan adalah kawan bahkan keluarga, Pur menarik warungnya dari daftar aplikasi penyedia jasa kurir makanan. Alasan perempuan 48 tahun itu, harga dari warungnya akan naik cukup signifikan sampai ke pelanggan. ”Tak pikir wah yo mesakke pelanggan nek pas ra nde duit (Saya pikir kasihan pelanggan jika sedang tak ada uang, Red),” ujar Pur.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : c7/dra

Saksikan video menarik berikut ini:

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads