alexametrics
Sate Langganan Jokowi (33)

Sate Jerohan Sapi Yu Rebi Jadi Jamuan saat Presiden Joko Widodo Mantu

15 April 2022, 06:26:46 WIB

Ikut-ikutan Ibu, Jajakan Sate Kere Keliling Solo

Yu Rebi. Orang Solo mana yang tidak mengenalnya. Andai belum pernah berjumpa pun, pasti pernah mendengar namanya. Atau, bahkan pernah mencicipi sate olahannya. Khas. Sate kere. Sate yang terbuat dari gembus alias ampas tahu. Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sampai langganan.

RETNO DYAH AGUSTINA, Solo

KERE. Kata dalam bahasa Jawa itu berarti melarat alias miskin. Jika sate daging sapi adalah konsumsi masyarakat yang berduit, sate gembus adalah alternatif bagi yang duitnya cekak. Karena itulah, sate gembus juga disebut sate kere. Sate buat kaum kere.

Demi memenuhi gengsi untuk makan sate, sate kere kemudian menjadi menu yang populer dalam masyarakat. Sebab, semua orang mampu membelinya. Tak mengapa bahannya berbeda. Yang penting, judulnya sama-sama sate.

Dari segi harga, jelas sate kere lebih murah. Harga gembus dan daging sapi jauh berbeda. Meski bumbunya sama, sambal kacangnya sama, bahkan rasanya sama, kandungan gizi dua jenis sate itu jauh berbeda.

”Piye kabarmu, Yu? Isih kuat yo. (Apa kabar, Yu? Masih bugar kan ya)” Kalimat itu meluncur dari mulut pelanggan lawas Sate Jerohan Sapi Yu Rebi. Yang disapa tersenyum lebar, lalu tertawa. Yu Rebi memang ramah. Dia rajin menyapa para pelanggan. Pada usianya yang sudah senja, Yu Rebi memang tidak lagi cawe-cawe urusan dapur. Sesekali saja dia turun tangan. Itu pun bukan untuk hal yang berat.

Yu Rebi mengisi masa mudanya dengan kerja keras. Dulu dia menjajakan sate keliling Solo. Petualangannya sebagai penjual sate bermula pada 1965. Ketika itu ibu dan simbahnya berjualan sate. Mereka membawa dagangan keliling Solo. Yu Rebi muda pun tak mau ketinggalan. Apalagi, mengolah daging dan jeroan untuk menjadi sate sudah dia kuasai. Dia pun sudah ahli membuat bumbu kacang.

”Ya, coba-coba dulu. Berangkat bawa 1 kilogram. Kalau habis, ya besoknya ditambah jadi 1,5 kilogram. Begitu seterusnya,” jelasnya kepada Jawa Pos yang menjumpainya di warung pada Desember lalu.

Pada awal berjualan, menu yang Yu Rebi tawarkan hanyalah sate daging, sate ginjal, dan sate kere. Agar sate kerenya istimewa, perempuan kelahiran Solo itu merendam gembus dalam bumbu bacem agak lama. Setelah bumbu meresap sempurna, barulah potongan gembus disematkan ke tusukan. Sate-sate siap bakar itu kemudian dia jajakan dari kampung ke kampung.

Seiring dengan berjalannya waktu dan makin dikenalnya sate kere buatannya, Yu Rebi mencari-cari lokasi untuk menetap. ”Lama-lama ya kesel juga keliling. Jadi, saya merayu pemilik warung soto, bagaimana kalau malamnya saya pakai buat jualan sate daripada kosong,” ujar Yu Rebi.

Lamaran itu ternyata disambut baik oleh pemilik warung soto di kawasan Penumping. Yu Rebi pun tidak perlu keliling Solo lagi. Yu Rebi ingat betul, ketika itu si pemilik warung soto mengizinkannya jualan satu–dua bulan dulu. Istilahnya, masa percobaan. Jika nanti dagangan Yu Rebi laris, si pemilik warung menetapkan tarif sewa dengan harga Rp 1.000 per hari.

”Belum sebulan, baru seminggu malah, sudah ditagih. Disuruh bayar,” kata Yu Rebi, lantas terkekeh. Walau terkejut, Yu Rebi tak patah semangat. Apalagi, dalam waktu singkat, para pelanggannya tahu bahwa dia mangkal di warung soto. Mereka yang lewat warung itu juga dengan mudah mengenali Yu Rebi.

”Terus, mereka teriak-teriak. ’Lho, Yu Rebi saiki ning kene’,” ujar Yu Rebi dengan nada senang. Dikenali pelanggan lama di lokasi baru adalah berkah bagi Yu Rebi. Bungsu di antara tiga bersaudara itu kemudian lebih percaya diri. Dia pun makin bersemangat menanti pelanggan berdatangan ke warungnya.

Jokowi adalah pelanggan di warung yang Yu Rebi kelola itu sejak sebelum menjadi presiden. Tepatnya saat masih menjabat wali kota Solo. Jokowi sering datang ke warung di Penumping. Kadang sendiri, kadang bersama keluarga, kadang mengajak rekan kerja di balai kota. Setiap singgah, Jokowi memesan sate campur. Yang terfavorit baginya adalah sate daging dan sate kikil.

Sebuah surat panggilan dari balai kota membuat Yu Rebi berdebar pada 2009. Jokowi, yang saat itu adalah wali kota, meminta Yu Rebi datang menemuinya. ”Saya takut waktu itu. Apa pernah bikin salah, ya?” katanya mengulang pertanyaan yang menguasai benaknya kala itu.

Sebagai warga Solo yang baik, Yu Rebi pun memenuhi panggilan. Ternyata yang dia terima justru kabar gembira. Jokowi menawari Yu Rebi lokasi baru untuk berjualan. Yakni, di Galabo (Gladag Langen Bogan). Itulah sentra kuliner malam hari yang dirancang sebagai salah satu jujukan wisata di Solo. Seingat Yu Rebi, hanya ada lima orang yang ditawari. Dan, dia adalah salah satunya.

Punya warung baru tidak membuat Yu Rebi menutup warung yang lama. Pada tahun itu, Yu Rebi memiliki dua gerai. Kini gerainya sudah bertambah satu lagi. Total, ada tiga gerai sate dengan spanduk bertulisan Sate Jerohan Sapi Yu Rebi pada fasadnya. Selain di Penumping dan Galabo, satu gerai lain terletak di Jalan Kebangkitan Nasional. Setiap gerai punya jam operasional yang tidak sama.

Ketika menemui Yu Rebi pada akhir tahun lalu, Jawa Pos bertandang ke gerai di Jalan Kebangkitan Nasional. Itu merupakan warung yang paling baru. Lokasinya juga strategis. Tidak sulit untuk dicari. Namun, gerai yang menjadi jujukan para pelanggan adalah yang pertama. Gerai di Penumping itu memang lega dan nyaman.

Yu Rebi adalah penjual sate yang inovatif. Jika semula dia hanya menyediakan tiga varian, kini ada 10 variasi sate di warungnya. Menurut perempuan yang memilih kain dan kebaya sebagai gaya busana sehari-hari tersebut, menu tambahan itu juga usulan para pelanggan. Dia hanya nuruti permintaan pelanggan sampai kemudian tercipta varian-varian baru.

Jika kemarin ada pelanggan yang menanyakan sate kikil, hari ini Yu Rebi mengadakannya. Menunya bertambah satu, sate kikil. Demikianlah proses inovasi terjadi. ”Lama-lama lengkap. Semua jeroan sapi itu ada semua sekarang di warung,” tuturnya, kemudian tertawa.

Bagi lidah orang Jawa Tengah yang terbiasa dengan rasa manis, bumbu sate Yu Rebi terasa pedas. Lebih pedas ketimbang sate-sate yang lain. Yu Rebi sengaja melimpahi bumbunya dengan rempah. Ada kemiri, ketumbar, jahe, laos, dan bawang pada bumbu rendaman sate. Meski ada juga gula jawa dalam bumbu rendaman, rasa yang muncul dominan gurih dan pedas. Cocok untuk mengusir bau amis jeroan sapi.

Untuk melengkapi sajian satenya, Yu Rebi mengguyurkan bumbu kacang.

Ada yang khas dari bumbu kacang Yu Rebi. Yaitu, kacangnya tidak ditumbuk halus, apalagi diblender. Remukan kacang pun bisa terlihat dengan jelas pada bumbunya. Yu Rebi juga menambahkan kencur, daun jeruk, dan bawang putih pada bumbu kacangnya. Aroma daun jeruk berpadu serasi dengan rasa khas kencur dan bawang. Itulah yang membuat pelanggan selalu ingin kembali datang ke warung Yu Rebi.

Saking melekatnya rasa sate Yu Rebi pada lidah Jokowi, pemimpin 60 tahun itu sampai menjadikannya sajian saat mantu. Ketika menikahkan putri satu-satunya, Kahiyang Ayu, Jokowi memesan 4.000 tusuk sate Yu Rebi. Pesanan itu membuat Yu Rebi bangga. Setelah itu, warungnya kian ramai karena publik ingin mencicipi langsung sate Yu Rebi.

Setelah menjadi presiden, Jokowi memang jarang mampir ke warung Yu Rebi. Namun, pesanan tetap ada. Terutama jika Jokowi sedang mudik ke Solo. ”Kalau Bapak sedang berada di Solo dan menyambut tamu, kami diminta antar (sate, Red) ke rumah beliau,” ungkap Yu Rebi.

Selain Jokowi, sejumlah artis ibu kota ternyata juga langganan. Jika sedang berada di Solo, para artis ini selalu menyempatkan bersantap langsung di gerai Penumping. Ada Ivan Gunawan, Bertrand Antolin, Thomas Djorghi, dan Iwan Fals. ”Paling langganan banget itu mendiang Didi Kempot. Saking seringnya, rasanya seperti tiap hari ketemu,” seloroh ibu satu anak itu.

Wujud sate gmbus yang populer sebagai sate kere. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c14/hep

Saksikan video menarik berikut ini:

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads