alexametrics
Warung Langganan Presiden (30)

Megawati dan Jokowi Mau Jadi Presiden, Makan Soto Gading Dulu

12 April 2022, 11:26:27 WIB

Mulai berjualan pada 1975, Soto Ayam Gading I masih bertahan di tangan generasi ketiga. Cita rasanya masih tetap sama. Suasana lawas di warung beratap rendah itu juga masih terjaga. Pesona yang membuat mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkenan menikmati racikan soto berkuah bening di sana.

RETNO DYAH AGUSTINA, Solo

BUKAN foto makanan yang menghiasi warung Soto Ayam Gading I di Jalan Brigjen Sudiarto, Solo, itu. Foto gamelan, Presiden Ke-1 RI Soekarno, dan sejumlah tokohlah yang menghuni dinding papan berkelir hijau tersebut. Dinding itu memang langsung menarik perhatian pengunjung karena berbeda dengan tembok lain yang tertutup keramik putih.

Area sekitar dinding hijau tersebut juga menghadirkan kesan yang berbeda. Kuno. Pengunjung seakan diajak kembali ke masa lalu. Saat warung-warung soto menawarkan kehangatan rumah kepada para pelanggannya.

”Memang sengaja mau mempertahankan suasana lawas begini,” ucap Sekarsari Sugihartono, pengelola Soto Ayam Gading I, saat ditemui Jawa Pos di warungnya pada Desember lalu. Suasana tradisional itu punya daya tarik nan magis. Kayu tulangan pada atap yang tetap dibiarkan rendah menghadirkan kesan hangat.

Kelawasan warung yang lebih dikenal dengan nama Soto Gading tersebut bukan sekadar hiasan. Sebagai penerus bisnis keluarga, Sekar (sapaan Sekarsari Sugihartono) pun mempertahankan segala hal yang sejak awal ditanamkan sang kakek. ”Menu-menu utama tetap seperti ini sejak dulu. Kebanyakan yang berubah malah jenis makanan ringannya,” kata dia.

Makanan ringan yang dia maksud adalah camilan dan klethikan titipan pihak ketiga. Soto Gading tidak memproduksi sendiri penganan yang tersaji di meja dan biasanya dijadikan pelanggan teman makan soto tersebut.

Sebagai pewaris tradisi, Sekar juga menjaga betul keramahan khas Soto Gading. Pelayanan kepada para pengunjung tetap maksimal. Gadis 25 tahun itu mengatakan bahwa penjualan via ojek atau aplikasi daring tidak menjadi andalannya. Bahkan di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang. ”Banyak yang suka makan di tempat. Katanya beda saja kalau makan sendiri di rumah,” sambungnya.

Jika dibandingkan dengan soto Lamongan atau soto Betawi, Soto Gading terlihat paling polos. Sebab, kuahnya biasa saja, bening. Namun, kesan plain itu langsung lenyap begitu kuah menyentuh lidah. Kaldu dan rasa rempah yang ringan sukses membangkitkan selera. Suapan pertama pasti akan langsung disusul dengan banyak suapan berikutnya sampai semangkuk soto tandas.

Sekar mengatakan bahwa kunci kenikmatan kuahnya terletak pada racikan kemiri, daun bawang, jahe, merica, dan bawang putih. Meski tidak melibatkan kunyit yang dipercaya sebagai empon-empon pemercantik tampilan kuliner, Soto Gading tetap menggoda. Seporsi soto terdiri dari nasi, bihun, suwiran ayam yang empuk, dan irisan tomat. Pelanggan bisa menambahkan perasan jeruk nipis dan sambal jika suka.

Soto Gading memang paling nikmat disantap selagi hangat. Baik itu sebagai sarapan maupun selingan menjelang makan siang atau pada jam-jam tanggung. ”Kalau selingan ngobrol saja, bisa pesan nasi setengah porsi,” ucap mahasiswi magister UGM tersebut. Pelanggan, kata Sekar, juga bisa meminta tambahan lauk. Misalnya telur pindang atau sate brutu.

Sate brutu yang disajikan Soto Gading layak dicoba. Menu pelengkap itu adalah kesukaan Megawati. Rasa gurih brutu dan kekenyalannya yang khas menjadi pelengkap yang pas untuk semangkuk Soto Gading yang hangat.

Selain Megawati, presiden lain yang gemar menyantap Soto Gading adalah Jokowi. Sejak masih menjabat wali kota Solo, Jokowi sering makan langsung di warung. Dalam sepekan, pemimpin 60 tahun itu bisa singgah dua sampai tiga kali di warung. ”Biasanya habis kunjungan atau blusukan gitu, lalu makan siang di sini. Pakai sepeda, khas sekali,” ucap Sekar.

Kebiasaan itu berubah setelah Jokowi menjadi presiden. Tiap kali hendak bersantap di Soto Gading, Sekar dan para pegawainya harus berurusan dengan protokoler yang panjang. Jika sudah begitu, dia sengaja menutup warungnya karena semua kursi pasti terisi penuh oleh rombongan presiden.

Jejak Megawati dan Jokowi di Soto Gading sempat memunculkan selentingan inspiratif di kalangan para pelanggan. Khususnya di kalangan para politikus dan pejabat yang juga penikmat Soto Gading. ”Mereka bilang, kalau mau jadi presiden, ya harus makan di sini dulu,” ujar Sekar, kemudian tersenyum.

Soto Gading yang kini dikelola Sekar tersebut lahir dari ide Suharno Siswomartono pada 1975. Awalnya kakek Sekar itu berjualan di pasar tradisional kawasan Solo. ”Lokasi yang ini (di Brigjen Sudiarto, Red) memang jadi tempat pertama yang settled. Dulunya ngontrak tuh sejak 1980-an,” cerita perempuan kelahiran Solo tersebut.

Kini Soto Gading punya empat outlet yang tersebar di berbagai wilayah Solo. Pada tiap-tiap cabang ada inovasi baru yang lahir. Ada cabang yang menambahkan menu atau lauk baru. ”Ada yang sudah menambah soto daging,” jelas Sekar.

Bagaimana bisa Sekar dipasrahi warung yang notabene adalah yang paling populer dibandingkan tiga outlet lainnya? ”Kesehatan bapak,” ujar Sekar. Saat dia berusia 23 tahun, kondisi fisik sang ayah melemah. Mau tidak mau, dia pun turun tangan.

Padahal, Sekar tidak pernah bersinggungan dengan bisnis kuliner yang diturunkan sang kakek tersebut. Apalagi, dia menuntut ilmu di Jakarta setelah lulus SMA. ”Pekerja di sini lebih tua dari aku. Pengalamannya juga sudah panjang,” kata Sekar.

Mengelola bisnis keluarga memang gampang-gampang susah. Sebagai anak muda, Sekar tertantang untuk mengembangkan pemasaran warungnya. Terutama memperluas penetrasi pasar ke kalangan anak muda. Untuk itu, dia pun menggandeng Persis Solo. Kebetulan, hype sepak bola di Solo sedang tinggi. Adanya pergelaran liga juga menunjang hal tersebut.

Tiap kali Persis Solo berlaga, para pegawai Soto Gading kompak memakai seragam tim kebanggaan Solo tersebut. Pada aplikasi Persis Solo, Soto Gading juga menawarkan diskon khusus. Sejauh ini respons masyarakat Solo cukup positif. ”Jadi, sekarang kami sudah official partner,” tandas Sekar seraya menyunggingkan senyum semringah.

Meneruskan Tradisi Ngiras

RAGAM kuliner khas di Solo belakangan mencuri perhatian masyarakat Indonesia. Banyak orang yang penasaran dengan cita rasa nikmat yang disajikan para peracik sajian di kota kelahiran Presiden Joko Widodo tersebut. Tak heran jika penjaja kuliner yang namanya telah melegenda itu makin digandrungi lantaran statusnya sebagai lokasi makan favorit keluarga presiden.

Putra sulung Presiden Joko Widodo sekaligus Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka memberikan sedikit bocoran terkait dengan mana saja lokasi kuliner favorit mereka. ”Kuliner yang paling disukai? Opo ya? Sueneng kuabeh,” jawab Gibran.

Menu kuliner berkuah yang melegenda seperti Soto Ayam Gading I di Jl Brigjen Sudiarto Nomor 75, Joyosuran, Pasar Kliwon, menurut Gibran, merupakan salah satu yang punya makna spesial. Menyebut Soto Gading, Gibran langsung terkenang pada pengalaman pribadinya bersama Pak Jokowi saat ngiras di lokasi kuliner tersebut.

”Misalnya, di Soto Gading. Saya jajan di sana sejak SD sampai punya dua anak seperti sekarang. Jadi, sejak zaman sama Bapak (Presiden Jokowi, Red) sampai dengan anak-anak saya sendiri,” kenang Gibran.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c9/hep/ves/c14/dra

Saksikan video menarik berikut ini:

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads