
Photo
Makan bukan sekadar urusan mengenyangkan perut. Menurut peneliti makanan asal Amerika Serikat, Michael Pollan, makanan juga berguna sebagai tugu pengingat. Di mana, kapan, dan bersama siapa mereka mengelilingi meja pada masa lalu.
NURUL KOMARIYAH, Malang
JawaPos.com - Kesibukan melayani pelanggan terlihat sejak pukul 6 pagi di rumah makan Khas Jawa 1985 di kawasan Jalan Diponegoro, Kota Batu. Baskom-baskom di dalam rak kaca berisi aneka menu menjadi sajian yang bisa langsung dipilih. Total, ada 25 menu berbeda yang disuguhkan setiap hari. Mulai sambal goreng kentang, kering tempe, serundeng, daging bumbu bali, ayam bumbu rujak, rendang ati, krengsengan, hingga semur lidah.
Tidak jauh dari pintu masuk, tampak foto Presiden Joko Widodo (Jokowi) terpatri. Sebuah tetenger bahwa presiden ketujuh Indonesia tersebut pernah mampir ke sana. Tepatnya pada tujuh tahun lalu. Ketika itu Jokowi mengunjungi Kota Batu untuk menyosialisasikan kartu Indonesia sehat (KIS).
Ika Febri Arliningtyas, pengelola Khas Jawa 1985, menjelaskan, H-2 sebelum kunjungan Jokowi, dirinya baru diberi tahu bahwa orang nomor satu di Indonesia itu bersama rombongan akan mampir ke restonya. ”Begitu Pak Jokowi datang, warga sekitar langsung menyerbu sampai menyesaki jalan raya,” ujar Ika.
Saat itu ada beberapa menu yang dihidangkan untuk rombongan presiden. Yaitu, urap sayur, lodeh, gudeg, krecek, dan kare. Serta lauk pelengkap yang terdiri atas tempe goreng, mendol, sate komoh, empal, dan tempe menjes.
”Waktu itu Bapak (Jokowi, Red) bilang, ’Masakannya mengingatkan saya sama masakan ibu saya di Solo’,” kata Ika menirukan ucapan Jokowi. Pujian itu jelas membuat Ika bangga. Racikan di lapaknya ternyata membuat Jokowi terkenang kepada sang ibu, Sudjiatmi. Sudjiatmi berpulang dua tahun lalu.
Menurut Ika, cita rasa Khas Jawa 1985 tidak cuma cocok di indra pengecap Jokowi. Mantan Ketua MPR Amien Rais, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, mantan Menristek Bambang Brodjonegoro, dan mantan Wali Kota Batu Edi Rumpoko juga pernah bersantap di warung tersebut.
Photo
PILIH SAJA: Menu komplet tersaji di atas meja makan. Meskipun ada banyak varian, semuanya lezat. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
Khas Jawa 1985 saat ini dikelola langsung oleh Ika. Perempuan 57 tahun tersebut merupakan generasi kedua. Dia adalah salah seorang anak kandung Yuningsih, 75, dan Sukarli Arif, 79, sang penggagas warung. Orang tuanya kali pertama membuka usaha kuliner pada 1985 dengan nama Khas Jawa Kencana. Seiring dengan berjalannya waktu, nama Kencana dihilangkan dan hanya meninggalkan nama Khas Jawa. Dan, angka 1985 ditambahkan Ika sebagai tanda awal usaha orang tuanya berjalan. ”Juga sebagai pembeda dengan tempat makan lain yang pakai nama Khas Jawa,” ujar Ika.
Ika terjun langsung untuk melanjutkan pengelolaan usaha kuliner orang tuanya sejak pandemi Covid-19. Di awal pandemi, Khas Jawa 1985 sempat tutup selama lima bulan. ”Bapak sudah sepuh dan pandemi juga belum selesai. Akhirnya, saya yang menggantikan di sini,” jelas Ika.
Meski kini Ika menduduki posisi pengelola, soal rasa tidak ada yang berubah. Resep dan cara memasak masih tetap sama. Tagline ”Resep Kuno, Bumbu Terbaik” dipasang Ika di depan warungnya.
Ika menyatakan, sejak awal berdiri, kedainya berada di Jalan Diponegoro, Kota Batu. Awalnya, menunya hanya nasi campur dan rawon. Lantas, ditambahkan menu-menu lain. Di antaranya, sup buntut dan semur. Sempat pula ada menu sate kambing, tetapi kemudian dihilangkan karena aromanya terlalu pekat.
”Semua menu punya penggemar sendiri. Ada yang selalu pesan semur lidah. Ada juga yang bilang nasi campurnya ngangeni. Kadang yang dari luar kota dan masih di jalan menuju Batu sudah nelpon minta disisakan lima porsi nasi campur. Takut nggak kebagian. Ada pula pelanggan dari Surabaya yang sering minta dipaketkan 30 biji empal,” terang Ika.
Juru masak yang mengolah masakan di dapur terbilang awet. Mereka sudah bekerja puluhan tahun. Masakan yang diolah hari ini adalah menu yang disajikan untuk besok. ”Nginep lebih mantep. Makanan yang didiamkan semalam akan lebih terasa sedap saat disantap esok harinya,” ungkap Ika. ”Sebab, bumbu-bumbunya sudah jauh lebih meresap,” tambahnya.
Cita rasa masakan di Khas Jawa 1985 merupakan perpaduan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sebab, resep yang dipakai adalah warisan nenek Ika yang berasal dari Solo. Cita rasa akhir yang hadir di mulut adalah rasa manis ala Jawa Tengah berpadu dengan selera pedas Jawa Timur. ”Makanya, gudeg di sini lebih manis, tapi tetap tidak semanis gudeg Jogja. Kreceknya juga terbilang pedas sesuai dengan selera orang Jawa Timur. Meskipun dimakan tanpa sambal, rasanya sudah pedas,” papar Ika.
Photo
RAMAI: Rumah makan di Malang itu tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi, pada jam makan siang. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
Sang ibu, menurut Ika, tetap rutin mengontrol masakan di dapur. Terutama pada bagian sentuhan terakhir. ”Ngecek kaldunya atau santannya. Bahkan, meski hanya nambahi gula, garam, dan bawang goreng yang menurut beliau kurang,” ungkap Ika.
Menanak nasi pun hanya sekali dilakukan. Yakni, diperuntukkan 60 porsi. Pada hari biasa, biasanya tim dapur tiga kali menanak nasi. Namun, ketika akhir pekan tiba, mereka bisa sampai tujuh kali menanak nasi. Artinya, saat weekend, porsi yang terjual bisa sampai sekitar 420 porsi.
Salah seorang pelanggan yang ditemui Jawa Pos, Sri Napsiah, sudah berlangganan selama 20 tahun. Saat Jawa Pos mampir ke Khas Jawa 1985 pada Desember tahun lalu, dia mengajak anak, mantu, cucu, hingga cicitnya yang total berjumlah 23 orang untuk makan bareng di sana. Perempuan 60 tahun itu setia menjadi pelanggan sejak masih muda.
”Pas masih berusia 20 tahun, saya sudah sering makan di sini. Selain dimakan langsung di tempat, kami selalu mbungkus buat stok di rumah,” ucap Sri. Dia kerap njujug di warung tersebut, terutama saat ingin menikmati masakan ala rumah dengan cita rasa premium. Favoritnya adalah nasi gudeg, nasi rames, semur, rawon, dan pecel.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
