JawaPos.com - Perjalanannya melewati sungai, hutan, dan menanjaki gunung. Di Wisata Rampah (air terjun) Magalong ini juga ada cap bekas telapak kaki misterius di sebuah batu. Konon milik seorang petapa yang bernama Datuk Tajam Batis.
Rampah sendiri diambil dari bahasa Dayak yang artinya Air Terjun. Rampah Magalong sendiri lokasinya berada di Desa Atiran Kecamatan Batang Alai Timur, Hulu Sungai Tengah, Kalsel. Persis di Pegunungan Meratus. Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Barabai. Jika menggunakan sepeda motor bisa ditempuh dengan waktu sekitar 45 Menit.
Perjalanan menuju ke Desa Akiran berlangsung mulus, karena jalannya sudah aspal. Jika pembaca ingin merasakan traveling, menikmati wisata petualangan di Rampah Magalong, ada baiknya membawa pemandu, atau guide. Minimal warga sekitar yang sudah tahu dan mengenal medan di sana. "Pengunjung atau traveler disarankan memakai sepatu gunung, atau sendal gunung. Selain itu juga membawa perbekalan seperti roti, air mineral, dan makanan ringan," ungkap Kipli, guide wisata di Barabai.
Sampai di Desa Akiran kita akan disambut warga Pegunungan Meratus yang sebagian besar memang suku Dayak. Jangan membayangkan ada plang nama atau penunjuk jalan saat kita hendak ke Rampah Magalong. Karena Rampah Magalong sendiri sampai saat ini belum dikelola oleh Pemerintah Daerah, walaupun sudah dibuka untuk umum oleh warga sejak 2014 yang lalu.
Petualangan pertama yang akan kita rasakan saat hendak menuju Rampah Magalong adalah sebuah sungai berbatu dengan lebar kurang lebih 15 meter. Tapi jangan takut. Arusnya tidak deras, dan dalamnya hanya sekitar 60 sentimeter, atau selutut orang dewasa. Setelah kita melalui sungai, kita akan dihadapkan dengan tanjakan menuju perkebunan karet warga.
Jalan menuju Rampah Magalong sendiri tidak terlalu ekstrem, tetapi cukup menantang bagi kalian yang suka perjalanan di hutan gunung. Sesekali kita akan menuruni bukit, berjalan di aliran sungai kecil, dan menemui hutan bambu. Jika dihitung total perjalanan bagi pengunjung menuju air terjun tersebut, diperkirakan sekitar satu jam perjalanan.
Tetapi sesampainya di Air terjun Rampah Magalong, semua lelah di perjalanan itu akan terbayar dengan keindahannya. Air terjun Rampah Magalong sendiri mempunyai ketinggian sekitar 10 meter. Dengan batu besar, dan arus airnya yang tidak terlalu deras.
Asyiknya lagi batu besar di atas air terjun tersebut memiliki palung cekungan, atau kolam kecil yang muat untuk tiga orang berendam. Dengan kedalaman sekitar satu sampai 1,5 meter. Sangat cocok untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan.
Selain itu, cerita masyarakat tentang jejak kaki kanan, yang tercetak di Batu di Rampah Magalong ternyata benar adanya. Lubang yang ada di batu tersebut sangat identik dengan jejak kaki telanjang manusia. Dan ukurannya mirip telapak kaki orang dewasa.
Salah seorang warga asli Desa Atiran Batang Alai Timur, Asuh (62) mengaku, Rampah Magalong sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama. Diketahui oleh penduduk setempat. Hanya saja selama ini tidak pernah dibuka untuk umum, atau orang luar.
"Waktu itu di tahun 2014, saya mengundang teman-teman pegiat pencinta alam, dan penyuka wisata alam dari Barabai seperti Kipli, dan lainnya. Untuk membuka jalan dan mengenalkan Rampah Magalong kepada masyarakat umum," ungkap kakek dua cucu ini.
Tujuannya agar Rampah Magalong menjadi salah satu wisata alam yang dikenal luas. Tidak saja di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Selain itu juga untuk mengenalkan Desa Atiran, serta menaikkan kesejahteraan warga sekitar.
"Kami tidak memungut biaya masuk kepada para pengunjung. Hanya saja kami menyediakan jasa jaga parkir kendaraan pengunjung di depan rumah warga. Untuk sebuah sepeda motor hanya Rp 5 ribu, dan itu terjamin keamanannya, karena kami menjaganya," tegasnya.
Terkait tentang telapak kaki yang tercetak di batu Rampah Magalong, memang mempunyai serita sendiri. Menurut cerita turun-temurun di kampungnya, telapak kaki tersebut merupakan milik seorang tetua kampung yang juga seorang petapa, yaitu Datuk Tajam Batis.
"Menurut cerita dahulu itu Datuk Tajam Batis yang menginjak batu di Ramoah Magalong, sampai menjadi cap berbentuk telapak kaki yang ada sampai saat ini," terangnya.
Terkait jumlah pengunjung di tempat tersebut di setiap akhir pekannya seperti hari Sabtu, dan Minggu selalu ada. Pengunjung yang datang pun biasanya datang berombongan. Hanya saja pengunjung yang datang tidak terlalu banyak, dan bisa dihitung jari. "Biasanya kalau hari minggu ada yang datang enam orang, sering juga yang datang delapan orang dalam satu rombongan setiap harinya," terangnya.
Sebagai warga, Asuh juga berharap agar Rampah Magalong ini, menjadi salah satu tempat wisata yang bisa dikenal banyak orang. Selain itu pihaknya ingin agar Pemerintah Daerah melalui dinas terkait, bisa memperhatikan, dan ikut serta bersama warga untuk mengelola wisata di tempat tersebut. "Kalau nantinya ramai, bukan hanya nama daerah saja yang dikenal. Kesejahteraan kami sebagai warga juga bisa meningkat," ujarnya. (Zepi Al Ayubi/yn/ram/fab/JPG)