Sentra penjual durian di pusat Kota Delta berada di Jalan KH Mukmin. Ada sembilan stan pedagang yang buka setiap hari pada November–Mei. Mereka berderet di kiri jalan, yaitu sebelah timur MINU KH Mukmin.
SAAT melintas di Jalan KH Mukmin, pencinta durian bakal tergoda. Aroma khas buah dengan kulit duri tajam tersebut sudah tercium dari jauh. Pemandangan di sebelah kiri jalan pun menggugah selera. Setiap stan menampilkan variasi durian yang berbeda. Ada yang besar dan kecil. Buah itu ditumpuk atau digantung dengan tali rafia.
Bukan tanpa sebab pedagang memilih berjualan di Jalan KH Mukmin. Kemacetan yang sering terjadi di kawasan tersebut menjadi berkah. Tak jarang pengguna jalan mampir ke stan pedagang. Mereka sekadar menanyakan harga atau membeli durian kecil untuk tombo kepingin. ’’Ada juga yang beli dengan porsi banyak,” ujar Timbul, salah seorang pedagang durian asal Pasuruan.
Dia menyebutkan, seluruh pedagang berasal dari Pasuruan. Mereka menjual buah dengan bau khas itu sejak belasan tahun lalu. Timbul, misalnya, berdagang sejak 12 tahun yang lalu. Tempat masing-masing pedagang pun tidak berubah. Biasanya, mereka mulai berjualan pada akhir November. Mereka menyewa lapak Rp 3–7 juta per bulan. Ukurannya bervariasi, mulai 4 x 3 meter hingga 4 x 6 meter.
Timbul menambahkan, pada November, durian yang mereka jual tidak berasal dari Pasuruan. Sebab, saat itu, kebanyakan pohonnya belum berbuah. Biasanya pedagang mengulak di Lampung. ’’Dikirim dengan pikap atau truk selama empat hari,” katanya.
Baru pada awal tahun seperti Januari dan Februari, banyak pohon durian di Pasuruan yang berbuah. Namun, pedagang tetap mendatangkan durian dari Lampung. Sebab, harganya relatif lebih murah daripada durian Pasuruan. ”Kualitasnya memang beda. Jadi, biasanya pedagang menjual dengan harga yang berbeda pula. Pembeli diminta memilih,” jelas Timbul.
Dia melanjutkan, durian Lampung selalu dipetik mentah dengan pertimbangan perjalanan yang lama. Jika tidak langsung habis, rasa durian pasti menjadi hambar karena terlalu matang. Kulit durinya juga mudah mengerut.
Dari segi buah, daging durian Lampung cukup tebal, tapi cenderung kurang manis. Dagingnya kadang juga tak terlalu padat. Sementara itu, durian Pasuruan dipetik saat hampir matang. Daging buahnya setebal durian Lampung, tapi teksturnya lebih padat. Rasanya pun lebih legit. ”Bisa buktikan sendiri,” ucap pria asal Lumbang, Kabupaten Pasuruan, tersebut.
Masalah harga tentu berbeda. Durian Pasuruan dihargai Rp 140 ribu dan durian Lampung Rp 85 ribu. ”Makanya, kalau ada yang menawar, biasanya kami bukakan dulu buahnya. Jadi, mereka bisa mencicipi dan tahu bedanya. Kalau nggak cocok, bisa tukar,” terangnya.
Dalam sehari, rata-rata pedagang bisa menjual 300 durian. Pada hari besar seperti tahun baru, seribu durian habis dalam sehari. Dua hari sekali, para pedagang memperoleh kiriman sekitar 500 durian. Namun, jika ramai, mereka mengulak lebih dari itu. Tak heran, penghasilan mereka fantastis, yaitu belasan juta per hari. Bahkan, paling sepi saja mereka bisa meraup Rp 4 juta.
Namun, pada akhir April hingga akhir Mei, biasanya sepi pembeli. Pedagang kembali ke kampung masing-masing. Penyebabnya, musim durian berakhir pada bulan-bulan tersebut. ”Tapi, tahun ini, jumlah durian menurun sekitar 75 persen daripada tahun lalu. Cuaca tahun ini tidak terlalu bagus. Durian dari Wonosalam, Jombang, saja sepi. Padahal, biasanya banyak,” ungkap Timbul.
Pembeli sebaiknya menawar lebih dulu saat membeli durian di sana. Sebab, tak jarang harganya dipatok tinggi. Cicipi buahnya sebelum membeli. Pastikan daging buahnya tidak keras dan tidak hambar. ”Biasanya kami pukul-pukul dulu. Kalau suaranya buk-buk gitu, biasanya enak,” tutur Muhammad Ridho, pedagang lainnya. (uzi/c18/dio/sep/JPG)