← Beranda

Legenda Roro Jonggrang di Candi Ratu Baka

Yusuf AsyariKamis, 8 Desember 2016 | 12.28 WIB
Suasana Candi Ratu Baka atau Candi Boko Kabupaten Sleman, Yogyakarta, saat hujan, beberapa waktu yang lalu.

JawaPos.com - Hujan tak menutupi kemegahan bangunan purbakala, Candi Ratu Baka atau yang biasa disebut Candi Boko. Selain berwisata, berkunjung ke tempat bersejarah memiliki keunikannya tersendiri. Seperti apa?



M FURQON FS, CANDI RATU BAKA YOGYAKARTA



KISAH legenda Roro Jonggrang secara alami tergambarkan dipikiran saya saat memasuki komplek candi yang tak kalah megah di Yogyakarta, Candi Ratu Baka atau Candi Boko.



Kompleks candi yang luas dengan bangunan-bangunan purbakala, masih tertata satu sama lainnya, seakan menampakkan ada istana besar yang pernah hidup di candi yang bertempat di wilayah dua Dukuh, yakni Dukuh Dawung, Desa Bokoharjo dan Dukuh Sumberwatu, Desa Sambireja, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.



Nama "Ratu Baka" berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Baka (bahasa Jawa, arti harafiah: "raja bangau") adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada kompleks Candi Prambanan. Kompleks bangunan ini dikaitkan dengan legenda rakyat setempat Loro Jonggrang.



Dongeng ini juga menjelaskan asal mula yang ajaib dari Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Baka, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam candi Prambanan. Tempat Candi Boko juga dekat dengan Candi Prambanan, kira-kira 3 km di sebelah selatan dari kompleks Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah.



Terletak di sebuah bukit pada ketinggian 196 meter dari permukaan laut, dengan luas keseluruhan kompleks adalah sekitar 25 ha. Konon, situs ini menampilkan atribut sebagai tempat berkegiatan atau situs permukiman, namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas.



Dikutip dari wikipedia, Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu).



Memasuki kompleks candi kami disuguhkan dengan kemegahan bangunan purbakala yang luas. Seakan gerbang utama bangunan lama lengkap dengan benteng dan bekas parit menyambut kedatangan para pengunjungnya. Para pengunjungpun memanfaatkan betul kesempatan tersebut dengan mengabadikan foto untuk setiap momentnya.



Meski gerimis menjadi tamu yang tak diundang tapi berkali-kali jepretan dan pasang wajah senyum saling berinteraksi satu sama lainnya. Jepret, rombongan kamipun tak kalah narsisnya.



Tidak hanya, bangunan gapuro utama Candi Ratu Boko, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban yang berada disisi timur, juga bagian tenggara yang meliputi struktur lantai, gapura, batur pendopo, batur pringgitan, miniatur 3 candi, tembok keliling kompleks Keputren, dua kompleks kolam, dan reruntuhan stupa, dan Bagian timur yang terdapat kompleks bangunan meliputi satu buah kolam dan dua buah gua yang disebut Gua Lanang dan Gua Wadon, Stupa Budha.



Syaang, saat hendak berlama di kompleks keputren yang cukup luas dan artistik tersebut gerimis mengundang kawan-kawannya. hujan lebat dengan hawa dingin sekejap menggigit kulit. Sempat terjebak beberapa saat dilorong kompleks keputren, waktupun saya manfaatkan untuk membayangkan kegiatan orang purbakala yang hidup lama disini.



Kegiatan masyarakat purbakala lama ini sedikit demi sedikit membantu melupakan cuaca yang biasanya memang tak diharapkan untuk sebuah perjalanan. Begitupun aku kali ini tak suka hujan, karena kamipun jadi tak bisa menikmati sunset Candi Ratu Baka yang tak kalah apiknya saat dinikmati berbeground gerbang gapuro utama candi.



Sedikit menyesal kami nekat terjang hujan memutuskan meninggalkan bangunan purba dengan kisah lamanya. Diperjalanan pulang ternyata masih ada juga pengunjung yang nekat memutuskan menikmati pemandangan dengan payungnya. Bahkan ada juga yang rela basah kuyup menembus lebatnya hujan datang. (yuz/JPG)

EDITOR: Yusuf Asyari