JawaPos Radar | Iklan Jitu

Urban Traveling ke Krakatau dan Rajabasa

Mengagumi Krakatau dari Jarak Aman, Surga di 'Gerbang Neraka'

08 Desember 2018, 10:00:59 WIB
Mengagumi Krakatau dari Jarak Aman, Surga di 'Gerbang Neraka'
Pengunjung menikmati suasana Gunung Anak Krakatau dari batas aman, Jumat (30/11) (IMAM HUSEIN/JAWA POS)
Share this

Berwisata ke Krakatau itu aman. Tapi harus tetap hati-hati. Dengan status level duanya saat ini, warga dan wisatawan dilarang beraktivitas di dalam radius 2 kilometer dari puncak. Namun, justru pada saat-saat aktif inilah, keindahan Krakatau bisa dinikmati. Dari jarak aman tentunya.

---

PULAU Sebesi Jumat (30/11) pagi itu begitu lengang. Kami kurang beruntung. Sedari kemarin cuaca mendung merata dari ujung utara Dermaga Canti sampai ke selatan Sumatera. Sudah sehari semalam menunggu, langit tak kunjung cerah.

Mendung tak cuma menggelayut di langit. Tapi juga di wajah-wajah penduduk Sebesi. Pulau tersebut adalah lokasi transit sekaligus pusat pelayanan tur ke anak Gunung Krakatau. Letaknya kira-kira 20 kilometer dari Krakatau. Lelaki-lelaki dewasa tampak terpekur di warung-warung dekat kantor syahbandar. Vila-vila kosong.

Sudah hampir empat bulan kegiatan pariwisata vakum. Juni-Juli lalu wisatawan masih ramai. Namun, pada Agustus Gunung Anak Krakatau erupsi besar. Sebanyak 576 kali letusan selama sehari. Jadilah penghidupan warga Sebesi terus merosot.

Padahal, Krakatau masih aman untuk dikunjungi. "Loh, aman," yakin Syahroni, mantan kepala Desa Sebesi, dengan nada ditekan. Menurut dia, justru kalau gunung aktif dan sering meletus itu pertanda baik. Karena material vulkanis keluarnya dicicil. Sebaliknya, jika lama tidak aktif, situasinya justru berbahaya. "Karena bisa tiba-tiba langsung dum (erupsi besar)!" tuturnya menggebu.

Subuh itu kami berdua, saya dan fotografer, memutuskan berlayar menuju Gunung Anak Krakatau. Menyewa kapal milik Muchtar Alamsyah, warga setempat. Harga sewa yang seharusnya ditanggung 30 orang harus kami pikul berdua. Muchtar mau saja kami bayar murah. Entah karena memang berbaik hati atau terdesak order sepi.

Angin kencang dan gelombang yang bergulung setinggi 2 meter terus menemani perjalanan kami. Saya di anjungan menemani nakhoda berjibaku dengan kemudinya. Untuk kali kesekian saya bertanya kepada nahkoda: amankah perjalanan kita? Jawabannya selalu sama. Aman. Saya tidak bisa mengira apakah benar-benar aman atau cuma mau menyenangkan tamunya.

Mengagumi Krakatau dari Jarak Aman, Surga di 'Gerbang Neraka'
Pemandangan indah di padang rumput kaki Gunung Rajabasa, Kamis (29/11). (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

Setelah sejam perjalanan, lautan mulai tenang, hujan pun mereda. Seketika sekitar 700 meter di sebelah kanan haluan muncullah figur agung Gunung Anak Krakatau. Hitam gemerlap bermahkota asap putih. Ia duduk kukuh di tengah lautan dikelilingi Krakatau Kecil/Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata. Keempatnya dahulu adalah satu bagian dari Gunung Krakatau Purba.

Saya meminta nakhoda memelankan perahu agar fotografer bisa mengambil gambar. Kawah sumber letusan mahadahsyat pada 1883 silam terlihat jelas. Lubang meriam itulah yang memuntahkan ledakan setara 13 ribu bom atom Hiroshima yang disulut bersamaan. Itu dia lubang yang dijuluki Simon Winchester dalam bukunya, Krakatoa, sebagai "Gerbang Neraka".

Dari jauh kita bisa mengiris gunung tersebut menjadi tiga bagian. Sepertiga paling bawah adalah lingkaran lereng yang membentuk kaldera raksasa hasil letusan terdahulu. Terlihat sudah mengeras karena beberapa bagiannya ditumbuhi pohon. Bagian tengah adalah material baru hasil luncuran dari kawah.

Sementara itu, sepertiga bagian atas adalah tumpukan material yang fresh dari perut bumi. Pasir panas yang masih berasap. Mirip tumpukan pasir calon adonan semen saat membangun rumah. Tangan-tangan raksasa seolah secara rutin tiga kali sehari menumpahkan pasir ke atas tumpukan ini.

Krakatau sangat aman dikunjungi. Asalkan menuruti arahan petugas. Ada petugas dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang menjaga pantai Anak Krakatau untuk mencegah wisatawan nekat naik ke atas.

Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho tidak lelah-lelahnya berteriak di medsos bahwa Krakatau aman. "Memang meletus, tapi tidak berbahaya. Kecil sekali kemungkinan meletus besar seperti 1883," katanya berulang-ulang. Sutopo menambahkan, jika dikelola dengan baik, aktivitas gunung berapi bisa menjadi potensi wisata yang luar biasa.

Mengagumi Krakatau dari Jarak Aman, Surga di 'Gerbang Neraka'
Wisatawan menikmati pemandian air panas di Way Panas, Kalianda, Lampung Selatan, Rabu (29/11) (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

Rajabasa yang Bergelimang Pilihan

JALAN sepanjang pantai barat semenanjung selatan Sumatera ini disebut Jalan Pesisir Rajabasa. Karena letaknya yang persis mengitari kaki Gunung Rajabasa. Gunung legendaris tempat kubu-kubu pertahanan Radin Inten II, pemimpin Keratuan Lampung, saat melawan penjajah Belanda.

Pelancong yang menyusuri jalan pesisir sepanjang kaki Gunung Rajabasa ini akan dimanjakan begitu sampai di lokasi pariwisata. Sepanjang pesisir kaki Rajabasa ada tujuh pantai. Jika ditelusuri ke arah selatan hingga ke ujung Tanjung Tua, kemudian ke utara sampai Pantai Suak, ada 19 pantai.

Dari Pelabuhan Bakauheni pelancong bisa menuju Jalan Pesisir Rajabasa melewati jalan trans-Sumatera. Atau, jika ingin cepat, dari Pelabuhan Bakauheni belok ke arah selatan menuju Pantai Karang Indah Blebuk. Jika berbelok ke utara, akan menuju Kalianda, ibu kota Kabupaten Lampung Selatan. Sementara jika ke selatan, akan bertemu Pantai Minang Rua.

Semua jalur itu bertemu di Pantai Kahai Beach Batu Balak. Di pantai tersebut ada penginapan Krakatau Kahai Beach. Menyatu dengan pantai. Bagi yang menyukai pemandangan eksotis, mereka punya deretan pondok kayu yang berdiri di atas tebing dengan pemandangan laut lepas.

Dari Kahai Beach tinggal melaju ke utara. Sepanjang perjalanan, pantai-pantai tergelar. Setiap 1 kilometer pasti ada pantai. Sementara di kanan ada lereng Gunung Rajabasa yang hijau. Ada padang sabana Rajabasa, tempat kerbau makan rumput atau mandi di kubangan lumpur.

Terus ke utara, sebelum Dermaga Bom Kalianda, ada objek wisata pantai air panas. Seperti Pantai Wartawan, pantai itu punya sumber air panas. Tapi, titiknya lebih banyak. Beberapa titik air panas berada sekitar 50 meter di lepas pantai. Muncul dari bebatuan karang.

Gunung Rajabasa memiliki banyak sekali pilihan wisata. Selain pantai-pantai berderet di pesisir barat, di kaki sebelah timur banyak didapati wisata hutan dan air terjun. Ada kolam pemandian Way Belerang di Desa Sumur Kumbang. Desa tersebut juga merupakan titik berangkat untuk mendaki ke puncak Rajabasa.

Di Kecamatan Penengahan ada Desa Kuripan, tempat lahir Raden Inten II. Beberapa kilometer di sebelahnya, yakni di Desa Gunung Harta, ada Benteng Cempaka yang sekaligus menjadi situs makam pahlawan nasional dari Lampung tersebut.

Kelemahan wisata di sepanjang Rajabasa adalah soal akses. Ada beberapa titik jalan berlubang. Selain itu, tidak ada kendaraan umum. Pelancong direkomendasikan membawa kendaraan pribadi. Kalau tidak, dari Bakauheni pelancong bisa ke Terminal Kalianda untuk mencari alternatif transportasi. Ada persewaan mobil maupun sepeda motor. 

Mengagumi Krakatau dari Jarak Aman, Surga di 'Gerbang Neraka'
Warga bermain di sekitaran makam pahlawan Raden Intan, Lampung Selatan, Jumat (30/11) (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

TIP AMAN MENIKMATI KRAKATAU

Ada tiga titik untuk memulai trip ke Krakatau. Dari Pelabuhan Merak, Bakauheni, dan Dermaga Canti. Di dua tempat pertama, banyak agen travel yang menawarkan jasa "Open Trip Krakatau". Pintar-pintarlah mencari informasi.

Dari Dermaga Canti ada kapal yang berangkat setiap pukul 14.00 menuju Pulau Sebesi. Lalu kembali ke Lampung pukul 07.30 keesokan harinya. Kalau ingin menyeberang di luar jam itu, Anda bisa menyewa perahu cadik. Tarifnya mulai Rp 600 ribu hingga Rp 1,5 juta. Skill negosiasi bakal dibuktikan di sini.

Di Sebesi ada banyak persewaan perahu dan kapal untuk menjelajahi wilayah kepulauan sekitar. Ada juga spot memancing dan snorkeling. Dari Pulau Sebesi ke Krakatau kira-kira 1,5 jam.

Untuk trip bersama, agen travel bekerja sama dengan ranger (pemandu) Krakatau. Satu kapal untuk 30 orang. Satu orang membayar kira-kira Rp 375 ribu. Sudah termasuk makanan dan penginapan.

Kapal biasanya mengajak pengunjung berkeliling Pulau Anak Krakatau sebelum turun ke pantai. Namun, dalam kondisi Anak Krakatau aktif saat ini, mungkin wisatawan tidak diizinkan berlama-lama di pantai.

Siapkan power bank. Listrik di Pulau Sebesi cuma menyala mulai pukul 6 sore hingga 12 malam.

Editor           : Dhimas Ginanjar
Reporter      : (*/c9/cak)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up