Ini Dia 5 Merek Smartphone Terlaris di Indonesia Kuartal II-2018

Samsung Masih Jadi Raja, Xiaomi Nomor Dua

07/09/2018, 17:33 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
Ilustrasi: pengguna smartphone. (Huffington Post)
Share this image

JawaPos.com - International Data Corporation (IDC) baru saja merilis data Quarterly Mobile Phone Tracker tentang pengiriman smartphone di Indonesia yang mencapai 9,4 juta unit pada Q2 2018. Angka tersebut meningkat sebesar 22 persen dari kuartal sebelumnya dan 18 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Hal tersebut menjadikan pengiriman pada kuartal ini tertinggi di Indonesia.

Sementara itu, kelima pemain teratas terus mendominasi lebih dari 85 persen pasar smartphone lokal. Pencapaian tersebut disebabkan besarnya pertumbuhan pengiriman smartphone Xiaomi yang berhasil duduk di posisi kedua di bawah Samsung yang masih jadi raja. Sementara Oppo, Vivo, dan Advan menggenapkan posisi lima besar.

Data IDC Q2 2018, Top 5 Marketshare smartphone Indonesia. (Istimewa/IDC)

Market Analyst IDC Indonesia Risky Febrian mengatakan, Xiaomi sebagai ‘kuda hitam’ yang telah melewati berbagai tantangan pertumbuhan di masa lalu, berhasil menduduki posisi kedua pengiriman smartphone terbesar di Indonesia.

“Bertolak belakang dengan Oppo dan Vivo, kegiatan marketing campaign Xiaomi jauh lebih sederhana serta memberikan keuntungan yang lebih sedikit untuk mitra distribusinya dan mampu memberikan perangkat dengan rasio price-to-spec yang lebih kompetitif,” ujar Risky dalam keterangan tertulisnya kepada JawaPos.com, Jumat (7/9).

Sehingga, lanjut Risky, Xiaomi memberikan konsumen value-for-money yang lebih baik. “Dengan menerapkan strategi ini, Xiaomi berhasil memperoleh market share dan mind share yang signifikan,” imbuh Risky.

Dia juga menyebut bahwa Oppo dan Vivo sebelumnya mampu melangkah jauh di pasar Indonesia dengan kegiatan marketing yang agresif dan keuntungan lebih besar bagi mitra distribusinya. Hal ini bersifat disruptif di pasar yang berdampak pada meningkatnya pangsa pasar smartphone midrange di harga Rp 2 jutaan hingga Rp 5 jutaan. Hal itu disebut berhasil menarik minat konsumen yang berencana untuk mengganti smartphone-nya.

Sekadar informasi, pada Q2 2018, harga penjualan rata-rata (ASP) untuk produk Oppo dan Vivo berkisar di Rp 3,2 jutaan, sedangkan Xiaomi berkisar di Rp 1,9 jutaan. Selain rentang harga yang kompetitif, kegiatan marketing Xiaomi lebih berfokus pada pemasaran yang bersifat internet-centric seperti mengadakan flash sale berkala melalui mitra e-commerce, mobile gaming, dan dukungan penuh terhadap komunitas penggemarnya. Hal ini pada akhirnya berperan untuk menyebarkan branding Xiaomi dari mulut ke mulut dan di media sosial.

“IDC memperkirakan Xiaomi akan terus menerapkan strategi ini dalam usahanya untuk meraih posisi teratas di pasar smartphone Indonesia. Pada kuartal mendatang, pemain lain mau tidak mau harus mempertimbangkan strategi pricing-nya untuk dapat berkompetisi secara efektif, dan pemain lokal diperkirakan akan menerima dampak yang paling besar dari agresifnya strategi Xiaomi,” jelas Risky.

Namun begitu, Xiaomi tetap memiliki pekerjaan rumah dan beberapa tantangan yang harus dihadapi seperti kendala pasokan dan produk ilegal untuk beberapa model smartphone populernya. Pasalnya, hal tersebut memiliki dampak negatif terhadap harga dan permintaan di pasar lokal.

(ryn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi