JawaPos Radar

Gawai dari Masa ke Masa, dari 2 Kg Hingga Teknologi Pengenal Wajah

07/09/2018, 05:10 WIB | Editor: Estu Suryowati
Gawai dari Masa ke Masa, dari 2 Kg Hingga Teknologi Pengenal Wajah
ILUSTRASI. Unit Xiaomi Mi 8 Explorer Edition dengan casing transparan memperlihatkan motherboard-nya yang ternyata palsu. (TechJuice)
Share this

JawaPos.com - Telepon genggam atau disebut juga ponsel merupakan perangkat portabel yang dapat melakukan dan menerima panggilan lewat frekuensi radio, selama dalam jangkauan area layanan telepon. Ponsel pertama diinisiasi John F Mitchell dan Martin Cooper dari Motorola pada 1973.

Kala itu, perangkat telepon tersebut memiliki bobot dua kilogram (Kg). Kemudian, pada 1979 Nippon Telegraph and Telephone (NTT) meluncurkan jaringan seluler pertama di Jepang.

Dan, pada 1983 DynaTAC 8000x menjadi telepon genggam pertama yang dikomersialkan. Sejak itu hingga 2014, tercatat lebih dari tujuh miliar pelanggan telepon genggam tersebar di seluruh dunia.

Gawai dari Masa ke Masa, dari 2 Kg Hingga Teknologi Pengenal Wajah
ILUSTRASI. Xiaomi Mi Mix 2S. (istimewa/Xiaomi)

Dilansir dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Jumat (7/9), perkembangan telepon genggam menembus level baru pada era 2000-an. Saat itu ponsel telah mendukung beragam layanan, mulai pesan singkat, MMS, surel (surat elektronik), hingga akses internet.

Demikian pula komunikasi nirkabel jarak pendek via inframerah dan blue tooth. Belum lagi aplikasi bisnis, video game, hingga fotografi digital.

Ponsel dengan kemampuan layanan tersebut digolongkan sebagai feature phone. Sedangkan telepon genggam dengan tawaran yang lebih hebat atau yang memiliki kemampuan komputer, dikenal sebagai smartphone.

Perangkat komersial pertama termasuk kategori smartphone dimulai dari sebuah purwarupa (prototype) bernama Angler. Teknologi ini dikembangkan Frank Canova pada 1992 di International Business Machines Corporation (IBM), Amerika Serikat.

Pertama didemontrasikan pada November tahun itu juga dalam ajang perdagangan industri komputer bertajuk COMDEX.
Sementara, versi peningkatan dari perangkat ini dipasarkan ke publik pada 1994 oleh BellSouth.

Nama pasarnya adalah nama Simon Personal Communicator. Kelebihan di luar fungsi umum sebagai panggilan seluler adalah kemampuan mengirim dan menerima fax serta surel. Termasuk fitur buku alamat, kalender, jadwal pertemuan, kalkulator, jam dunia, serta notepad. Perangkat ini juga dilengkapi peta, laporan saham, dan berita.

Istilah smartphone sendiri sebenarnya belum muncul hingga setahun setelah diperkenalkannya Simon. Penyebutan smartphone dipergunakan setelah muncul di sebuah media cetak pada awal 1995.

Akhir pertengahan 1990-an, para pengguna ponsel masih harus memiliki perangkat terpisah bernama personal digital assistant (PDA) untuk mempermudah keseharian. PDA pada masa itu menjalankan versi awal sistem operasi seperti Palm OS, Newton OS, Symbian atau Windows CE/Pocket PC.

Sebagian besar smartphone di masa itu pun merupakan perangkat campuran yang mengombinasikan PDA OSes yang sudah familier dengan hardware dasar telepon. Hasilnya, perangkat ini menjadi lebih besar dari ukuran umum ponsel atau PDA.

Meski memungkinkan penggunanya mengakses internet seluler, kapasitasnya masih dalam jumlah terbatas.
Perkembangan tren membuat perusahaan, baik produsen ponsel maupun PDA, berlomba merancang perangkat yang lebih kecil dan ramping.

Ukuran besar smartphone dengan biaya tinggi dan operasional mahal, ditambah keterbatasan serta penurunan daya baterai, memicu popularitas produk tersebut di kalangan pengguna awal serta pebisnis yang memerlukan konektivitas portabel meredup.

Kekurangan itulah yang ditangkap Hewlett-Packard (HP), perusahaan multinasional teknologi informasi asal Amerika Serikat yang berbasis di Palo Alto, California.

Pada Maret 1996, dirilislah OmniGo 700LX, sebuah modifikasi hasil penggabungan HP 200LX palmtop PC dan ponsel Nokia 2110 dengan perangkat lunak berbasis ROM (Read-Only Memory) sebagai pendukung. Smartphone ini memiliki resolusi Color Graphics Adapter (CGA) abu-abu dengan layar LCD sebesar 640 x 200.

Pada Agustus 1996, Nokia merilis Nokia 9000 Communicator. Perangkat ini mengusung seluler digital PDA yang diadopsi ke dalam Nokia 2110. Nokia 9000 Communicator terintegrasi dengan sistem operasi PEN/GEOS 3 dari Geoworks.

Gabungan dua komponen itu pun menjadi awal dari mengemuknya konsep desain kulit kerang yang bisa buka-tutup. Dia memiliki tampilan desain sebagaimana ponsel pada umumnya, tapi dilengkapi fisik tombol QWERTY di dalamnya.

Pertengahan 2000-an, smartphone umum dengan fisik keypad penomoran T9, juga QWERTY versi candybar ataupun geser. Namun pada saat itu, banyak smartphone mulai menerapkan teknologi layar sentuh stylus dengan alat bantu semacam pulpen.

Meski demikian, penggunaan keyboard masih cukup umum pada akhir 2000-an.
Pada 2007, LG Prada menjadi ponsel pertama menerapkan layar sentuh dengan kapasitif besar.

Belakangan, pada tahun yang sama, Apple Inc. memperkenalkan iPhone yang menggunakan layar sentuh kapasitif multi-touch. Teknologi itu dengan segera menggeser penggunaan stylus, keyboard, atau keypad yang melekat dengan smartphone pada saat itu hingga awal 2010.

Selanjutnya, pada Oktober 2008, ponsel pertama lahir menggunakan sistem operasi Android dari Google. HTC yang juga dikenal sebagai T-Mobile G1 menjadi smartphone pertama dengan layar sentuh multi-touch berukuran besar. Namun, masih menggunakan fisik keyboard geser.

Versi Android keluaran berikutnya, menambahkan perkembangan yang mendukung keyboard dalam tampilan layar. Keyboard fisik di perangkat Android pun dengan segera menjadi langka.

Tren ini mulai populer pada awal 2012 dan hingga kini mendominasi pasar smartphone dunia. Dewasa ini, smartphone sebagian besar memenuhi kebutuhan penggunanya dengan banyak sistem.

Satu perangkat bisa menggunakan satu sampai empat microphones, kamera digital mulai satu di depan hingga tiga di belakang. Sistem komunikasinya juga mampu mengirimkan obrolan online, surel, panggilan telepon, hingga obrolan video. Semua difasilitasi jaringan internet dari Wi-Fi maupun broadband seluler.

Teknologi ini memang dibuat untuk memberikan segala kebutuhan berada dalam genggaman. Maka tak mengherankan jika smartphone juga memiliki sistem navigasi satelit, prediksi cuaca, pemutar media, jam, berita, kalkulator, web browser, pemutar video game, lampu penerang hingga dua LED. Kandungan magnetometer juga memungkinkan smartphone berfungsi layaknya kompas.

Sejak 2010, smartphone mengadopsi asisten virtual terintegrasi seperti Apple Siri, Amazon Alexa, Google Assistant, Microsoft Cortana, BlackBerry Assistant, dan Samsung Bixby. Banyak perangkat juga dilengkapi sensor sidik jari, pemindai bola mata, hingga teknologi pengenal wajah sebagai bentuk otentikasi biometrik untuk pengamanan.


Menurut Statcounter Global Stats, hingga Agustus 2018 market share vendor ponsel sedunia dikuasai Samsung dengan share sebanyak 30,81 persen. Apple membuntuti di tempat kedua dengan 20,38 persen. Selebihnya, tak satu pun memiliki persentase dengan angka dua digit.

Xiaomi (7,09 persen) dan Huawei (7,06 persen) memiliki persaingan paling ketat di tempat ketiga dan keempat. Keduanya merupakan produk Tiongkok. Sedangkan untuk sistem operasi, Android menguasai pasar penggunaan 76,88 persen, sedangkan iOS 20,38 persen.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up