JawaPos Radar

Jangan Keliru! Ini Perbedaan Supermoon, Bluemoon, dan Bloodmoon

31/01/2018, 17:21 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
Supermoon
Supermoon (Mirror)
Share this

JawaPos.com – Akhir Januari 2018 ini ditutup dengan momen sangat spesial. Mengapa spesial? Sebab malam pergantian bulan ini akan dilalui dengan hiasan tiga fenomena alam sekaligus, yakni Supermoon, Bluemoon, dan Bloodmoon. Lalu apa perbedaan mendasar dari tiga fenomena astronomis tersebut?

Yuk! kita kupas satu persatu. Pertama adalah fenomena supermoon. Supermoon atau bulan super. Apakah bulan malam itu akan memiliki kekuatan super? Tentu tidak. Kata supermoon merujuk pada jarak bulan dan bumi berada di posisi terdekatnya sehingga nampak lebih besar dari biasanya. Pada saat supermoon terjadi, bumi dan bulan diperkirakan berada di jarak terdekat atau perige yaitu sekitar 360 ribu kilometer.

Selain berada sangat dekat dengan bumi, bulan juga akan tampak sangat terang dari biasanya. Sebab, supermoon ditandai juga dengan bulan purnama, sehingga selain nampak lebih dekat, bulan juga akan terlihat sangat terang dari hari biasanya.

gerhana bulan
Ilustrasi: gerhana bulan 31 Januari 2018 (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Kedua adalah bluemoon. Bluemoon jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka akan berarti bulan biru. Apakah bulan menjadi berwarna biru? Tentu bukan. Mengutip penjelasan dari Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin dalam blog pribadinya bahwa kata Bluemoon tidak mengandung makna apa pun. Ini hanya merujuk pada fenomena bulan purnama yang terjadi kali kedua selama Januari, setelah 1 Januari lalu. Jadi Bluemoon yang hanya untuk membedakan dua purnama yang terjadi dalam satu bulan. Pertama Supermoon, yang kedua Bluemoon. Meski keduanya sama-sama merupakan fenomena Supermoon.

Terakhir adalah Bloodmoon. Blood yang berarti darah menunjukan warna bulan yang cenderung kemerahan saat terjadi gerhana malam nanti. "Warna merah disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi," jelas Thomas.

Permukaan bulan nantinya akan gelap total karena posisinya terhalangi sempurna oleh bumi. Namun atmosfer bumi masih bisa menghantarkan cahaya matahari, sehingga permukaan bulan nanti tampak kemerahan seperti warna darah.

Proses gerhana bulan total itu sendiri akan mulai pukul 18.48 WIB, ketika bagian bawah purnama mulai tenggelam oleh bayangan bumi. Selanjutnya pukul 19.52 - 21.08, purnama masuk ke bayangan inti bulan sehingga warnanya akan nampak gelap kemerahan. Puncak gerhana akan terjadi di pukul 20.29 WIB dan gerhana berakhir seluruhnya di 23.08 WIB.

"Jadi gerhana bulan 31 Januari 2018 boleh disebut Super-Blue-Blood-Moon," pungkas Thomas.

Gerhana bulan total semacam ini langka. Terakhir kali fenomena ini terjadi pada 1866 atau 151 tahun yang lalu. Seluruh wilayah Indonesia bisa menikmati fenomena tersebut. Lapan bahkan membuka kesempatan melakukan pengamatan terbuka di sejumlah kota di Indonesia.

(ce1/ryn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up