JawaPos Radar | Iklan Jitu

Pilpres Makin Dekat, Facebook dan Instagram Sudah Siap Jaga Keamanan

22 Januari 2019, 11:56:39 WIB
facebook pilpres, instagram pilpres, Facebook keamanan pilpres
Director Global Politic and Government Outreach Facebook Katie Harbath (tengah) bersama anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar (kiri) di konferensi pers di Jakarta, Senin (21/1) kemarin. (Rian Alfianto/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Menjelang pemilu presiden dan legislatif 17 April mendatang, Facebook dan Instagram turut merapatkan barisan. Hal tersebut berkenaan dengan banyaknya konten negatif yang beredar di kedua platform tersebut. Malahan belakangan banyak beredar konten-konten yang berisi ujaran kebencian, hoaks, dan lainnya.

Director Global Politic and Government Outreach Facebook Katie Harbath mengaku bahwa Facebook bekerja keras untuk menjaga keamanan pemilu di Indonesia. "Pemilu di Indonesia adalah top priority kami. Kami berupaya keras untuk menjaga integritasnya. Caranya adalah meng-counter false news yang banyak beredar di platform kita," katanya saat konferensi pers di Jakarta, Senin (21/1).

Lebih jauh, dia menyebut bahwa salah satu upayanya dalam mengawal pemilu di Indonesia yang sehat adalah dengan menghapus akun palsu yang mencoba mengatur narasi publik untuk kepentingan tertentu oleh oknum. "Lewat identifikasi khusus, kami berusaha menghapus konten-konten negatif terkait pemilu, penghapusan akun-akun palsu, dan upaya lainnya," terangnya.

facebook pilpres, instagram pilpres, Facebook keamanan pilpres
Ilustrasi: Facebook dan pemilihan umum. (ABS-CBNNews)

Dia menyebut bahwa pelaku yang menyebar informasi bohong, ujaran kebencian, hoaks, dan konten-konten negatif lainnya biasanya menggunakan akun palsu. Sejauh ini memang ada beberapa aspek menangani fenomena false news, hoaks, dan ujaran kebencian di Facebook. Facebook mengaku memiliki sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi pengguna yang terindikasi palsu dan menjadi sumber false news.

"Kebanyakan akun Facebook yang menyebarkan berita bohong menggunakan cara mendaftar dengan nama dan keterangan yang tidak jelas. Polanya, mereka membuat akun kemudian menambah sebanyak-banyaknya teman dan grup dalam waktu singkat. Lewat grup-grup itu biasanya mereka mendapat dan menyebarkan informasi tidak bertanggung jawab. Sementara untuk Instagram, Instagram kami sudah memiliki fitur anti bullying yang kami rilis beberapa waktu lalu," jabarnya.

Adapun terkait apa yang akan dilakukan Facebook dan Instagram untuk pemilu di Indonesia, mereka akan lebih banyak menyebarkan informasi yang bersifat imbauan kepada user. Hal tersebut misalnya informasi seputar pemilihian, serta tips soal bagaimana menjadi pemilih yang baik dan benar.

Kemudian Facebook juga mengaku akan bekerja sama dengan pemeriksa fakta pihak ketiga. Jadi, ketika ada indikasi berita palsu menyebar, pemeriksa fakta akan mengindentifikasi dan memberikan report kepada Facebook. Ketika sudah dinyatakan hoaks atau palsu, posting-an tersebut akan langsung ditandai sebagai berita palsu dan langsung dihapus dari peredaran di feed Facebook.

Sementara untuk mengurangi angka golput pemilih muda, Facebook juga menyebut bahwa mereka memiliki serangkaian cara. Pertama, pihak Facebook menyebut mereka menawarkan fitur baru. Fitur tersebut selain imbauan juga untuk mengecek apakah pengguna sudah terdaftar sebagai pemilih.

Selain itu, fitur tersebut juga berfungsi sebagai pengingat bahwa pada hari pemilihan, pengguna Facebook harus memilih. Nantinya, mereka mengklaim bahwa fitur tersebut akan berada di beranda pengguna. Jika sudah memilih, pengguna dapat mengklik fitur tersebut dan dinyatakan sudah memilih lalu dibagikan kepada pengguna lain sebagai 'update status'.

"Pemilu Indonesia adalah top priority bagi Facebook. Facebook sudah belajar terkait pemilu sejak pilkada serentak tahun lalu. Pemilu di Indonesia juga kami jadikan pelajaran dan kami terapkan juga di negara lain yang menghadapi pemilu mengingat pemilu dan berita bohong memang menjadi masalah yang sama," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, hadir juga anggota dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Fritz Edward Siregar. Dalam forum tersebut dirinya juga secara khusus meminta Facebook, Instagram, dan WhatsApp untuk menjadi platform media sosial yang tetap ramah bagi siapapun.

"Dalam konteks pengawasan media sosial, sejak tahun lalu kami juga sudah bekerja sama dengan Facebook terkait penyebaran ujaran kebencian dan hoaks. Kami juga mengawasi akun media sosial para calon maupun pendukung mereka. Memang ini adalah bagian dari berdemokrasi dan hak berbicara. Namun di dalamnya perlu diingat juga ada hak-hak bagi orang lain," tegasnya.

Editor           : Fadhil Al Birra
Reporter      : Rian Alfianto

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up