JawaPos Radar

Soal 'Perang Harga' Smartphone Murah, Oppo Sindir Balik Xiaomi

21/02/2018, 20:20 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
oppo a83
Oppo A83 (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Harga smartphone entry level tengah sengit di pasar tanah air. Genderang perang harga tersebut mulanya ditabuh oleh vendor asal negeri Tiongkok, Xiaomi, dengan Redmi 5A-nya yang dijual tak sampai sejuta.

Tidak berhenti di situ, Xiaomi juga terus menghadirkan produk yang harganya terpaut lumayan jauh dari harga pasaran produk-produk dengan kelas tertentu. Terbaru, Xiaomi meluncurkan Redmi 5 dan Redmi 5 Plus dan sempat melakukan sindiran terhadap beberapa vendor sekaligus. Sebut saja Samsung, Vivo, dan Oppo.

Menanggapi hal tersebut, Oppo Indonesia rupanya tak mau ambil pusing. Brand asal Tiongkok itu menanggapi santai nyinyiran Xiaomi yang terang-terangan ditujukan padanya.

PR Manager Oppo Indonesia Aryo Meidianto mengatakan bahwa Oppo tidak ingin mengorbankan kualitas demi mencapai harga yang murah. “Kalau murah berarti ada unsur-unsur tertentu dong,” jelas Aryo dalam acara Media Experience Oppo A83 di Jakarta, Rabu (21/2).

“Oppo tidak akan menerapkan strategi ‘banting harga’ untuk lini produknya. Meskipun faktor harga memang memiliki peluang besar untuk memikat konsumen. Kita tidak ingin memunculkan keraguan terkait kualitas dari sebuah produk dengan harga murah,” imbuh Aryo.

Dirinya juga menjelaskan bahwa penerapan strategi banting harga dapat membuat konsumen bertanya-tanya tentang kualitas sebuah produk. Mereka bisa berpikir ada 'sesuatu' di situ. Oleh karena itu, Oppo tidak akan menerapkan strategi tersebut demi menjaga kepercayaan konsumen terhadap sebuah produk.

“Persaingan di pasar smartphone memang tengah sengit, kami menyadari itu. Banyak vendor akhirnya rela menjual murah produk mereka demi dapat bersaing dengan kompetitor. Namun kami tetap pada komitmen tidak akan mengorbankan kualitas demi bisa menjual produk dengan harga miring,” tutur Aryo.

Siasatnya, Oppo melakukan strategi penyesuaian. Maksudnya dengan merujuk kepada apa yang dibutuhkan dan diinginkan masyarakat. Misalnya dengan mengetahui bahwa konsumen di Indonesia masih antusias dengan ponsel selfie.

"Berdasarkan survei kami, orang Indonesia masih mempertimbangkan kamera depan. Pasar selfie itu masih ada pasarnya dan masih besar. Hal itulah yang kini masih menjadi fokus utama kami. Membuat ponsel selfie dengan sentuhan inovasi AI misalnya,” pungkas Aryo.

(ryn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up