JawaPos Radar | Iklan Jitu

Pertumbuhan Blockchain di Indonesia Lambat, Banyak yang Belum Tahu

19 Juli 2018, 21:10:59 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
Blockchain, Blockchain indonesia, teknologi Blockchain
Ilustrasi: Implementasi Blockchain di berbagai lini kehidupan manusia. (Medium)
Share this

JawaPos.com - Implementasi teknologi Blockchain di Indonesia dinilai masih lambat. Alasannya dikarenakan orang Indonesia banyak yang belum paham mengenai Blockchain. Bahkan, sejak istilah tersebut populer beberapa tahun belakangan bersamaan dengan Bitcoin, banyak pendapat yang menyebut bahwa antara Blockchain dengan Bitcoin adalah hal yang sama.

Chairman dari Asosiasi Blockchain Indonesia Steven Suhadi mengungkapkan, Blockchain dan Bitcoin jelas berbeda. Secara sederhana, Blockchain adalah konsensus atau kesepakatan bersama. Beda dengan bitcoin.

Blockchain, Blockchain indonesia, Steven Suhadi Blockchain
Chairman dari Asosiasi Blockchain Indonesia Steven Suhadi saat diskusi Blockchain di Jakarta, Kamis (18/7). (Rian Alfianto/JawaPos.com)

"Blockchain adalah konsensus, disepakati bersama oleh manusia, kemudian dicatat oleh sistem komputer. Sementara Bitcoin adalah deret angka yang tidak sama antara satu komputer dengan komputer lain. Mengapa Bitcoin bernilai, sebab Bitcoin menjadi penanda kepemilikan atau hak di dunia digital," ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (19/7).

Lebih jauh, Steven juga mengemukakan bahwa Blockchain lahir lebih dahulu dibandingkan dengan Bitcoin. Tujuannya untuk mengatasi masalah hak milik di dunia digital.

Menurutnya, dalam dunia digital tidak ada kepemilikian yang mutlak karena siapa pun bisa mengakses dan mendapatkan yang diinginkan. Dari sana lahir Blockchain, kesepakatan bersama yang dicatat sistem komputer atas suatu kepemilikan tertentu. Ini kemudian memiliki nilai dari bilangan-bilangan biner komputer yang berbeda di setiap sistemnya.

"Itulah masalah di dunia digital, tidak ada hak milik di dalamnya, maka solusinya bagaimana? Kepemilikan di dunia digital bagaimana? Nah, maka lahirlah Blockchain untuk mengatasi masalah 'tidak ada status kepemiilikan' di dunia digital. Bitcoin lahir untuk membuktikan status kepemilikan di dunia digital," jelas Steven.

Selain itu, dia juga menyebut bahwa Blockchain adalah layer. Internet dengan aplikasi dan berbagai perangkat di atasnya hanya perantara saja. Sederhananya, Blockchain adalah pondasi. Smartphone, aplikasi, dan perangkat lainnya berjalan di atas sistem bernama Blockchain. Blockchain sendiri sebagai sebuah teknologi memiliki tiga komponen penting. Pertama enkripsi, kedua internet, dan ketiga kesepakatan.

Sementara untuk implementasi Blockchain di tanah air, Steven menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi positif untuk mengembangkan Blockchain. Salah satu poin penting dan menarik dari Blockchain implementation di tanah air adalah keberagamannya. "Indonesia punya banyak dialek misalnya, nah bagaimana mengembangkan keberagaman itu menjadi satu kesepakatan yang sama," jelasnya.

Meski demikian, Steven mengaku untuk Indonesia memang masih perlu banyak upaya guna mengembangkan Blockchain. Salah satunya adalah edukasi. "Memberi pengertian apa itu Blockchain, keuntungan dan kerugiannya bagaimana, bedanya dengan Bitcoin seperti apa. Kemudian kedua adalah development-nya. Bagaimana Blockchain ini dikelola dan dikembangkan," ungkapnya.

Terakhir, dia juga berujar bahwa Indonesia harus segera memulai implementasi Blockchain. Sebab, meski perkembangan di tanah air agak lambat, namun perlahan mulai banyak industri yang menggunakan Blockchain. Begitu pun startup yang menggunakan teknologi Blockchain mulai tumbuh.

(fab/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up