JawaPos Radar

IBH Diresmikan, Genjot Pemahaman Masyarakat soal Teknologi Blockchain

17/08/2018, 09:19 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
Blockchain, teknologi blockchain, IBH teknologi blockchain,
Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri (kedua kanan) bersama Pendiri dan CEO Hara Regi Wahyu (kedua kiri) di acara peresmian Indonesia Blockchain Hub di Jakarta, Kamis (16/8). (Rian Alfianto/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - lndonesia Blockchain Hub (IBH) akhirnya diresmikan. Gerakan ini merupakan inisiasi kolektif dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Asosiasi Blockchain lndonesia (ABI), Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), dan Hara selaku pegiat Blockchain di Indonesia. Tujuannya tak lain adalah guna mempercepat pemahaman masyarakat soal Blockchain.

Seperti disinggung di atas, gerakan ini bertujuan untuk membuka gerbang utama dalam ekosistem antar pegiat Blockchain di indonesia dan global. Lebih jauh gerakan ini dibuat menjadi wadah untuk berbagi dan belajar pengalaman tentang Blockchain.

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, dari perspektif ekonomi banyak yang menyebut bahwa revolusi komunikasi yang didukung oleh internet Blockchain akan merevolusi transaksi. "Revolusi blockchain akan mempermudah transaksi antara seluruh lapisan masyarakat sampai UMKM ataupun petani seperti yang sekarang sudah mereka nikmati melalui penetrasi internet," ujarnya di acara peresmian Indonesia Blockchain Hub di Jakarta, Kamis (16/8).

Blockchain, teknologi blockchain, IBH teknologi blockchain,
Ilustrasi: Koneksi manusia dengan mesin. (InformationWeek)

Menurutnya, ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa dari sudut pandang ekonomi, yakni informasi yang tidak sempurna. "Misalnya pasar dan monopoli. Penjualnya di mana, pembeli di mana itu kan masalah dari segi ekonomi. Nah itu masalah yang tidak bisa diselesaikan," ujar Chatib Basri.

Ketika Blockchain masuk, Chatib melanjutkan, masalah desentralisasi dan monopoli bisa dihilangkan dengan teknologi Blockchain ini. "Dengan adanya konsensus dan kesepakatan serta sentralisasi data ini semua bisa hilang. Kemudian dari segi pasar, petani punya barang jualan, kemudian bisa langsung dipertemukan dengan pembeli dan bisa memutus gap monopoli dan tengkulak," terang mantan Menkeu periode 2013-2014 itu.

Chatib Basri juga menyebut bahwa Blockchain bisa menyelesaikan banyak masalah. Mulai dari perekonomian, sosial, dan sebagainya. Kendati begitu, dia tidak menampik bahwa memang lebih jauh, untuk implementasi Blockchain Indonesia baru berada di level permukaan. Makanya masyarakat masih perlu diedukasi lagi tentang apa itu Blockchain.

Sementara itu, pendiri dan CEO Hara Regi Wahyu selaku salah satu pemain di industri Blockchain tanah air menyebut, teknologi Blockchain dikembangkan kurang dari 10 tahun lalu dan masih terus berkembang untuk menemukan solusi-solusi baru.

Menurutnya, dalam situasi ini, Indonesia berpotensi untuk tumbuh setara dengan negara lain. Termasuk negara maju yang sedang giatnya mengembangkan bisnis melalui teknologi ini. Teknologi Blockchain diklaim dapat meningkatkan daya saing bisnis. Termasuk memperkuat peringkat Indonesia sebagai satu-satunya negara dari Asia Tenggara yang masuk dalam 20 negara besar yang memiliki Pendapatan Domestik Bruto (PDB) tertinggi di dunia.

"Kami percaya bahwa transparansi data yang dimungkinkan oleh teknologi blockchain akan membantu lapisan paling bawah (bottom of the pyramid) untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Namun kurangnya pengetahuan mengenai apa itu Blockchain masih menjadi hambatan," kata Regi dalam kesempatan yang sama.

Kebutuhan sumber daya manusia, lanjut Regi, untuk menggali potensi diri di bidang teknologi Blockchain ini juga sangat diperlukan. "Memang perlu ada satu wadah yang bisa mendorong dan membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman dari teknologi ini. Sebab itu, kami menginisiasikan IBH ini," jelas Regi.

Menanggapi hal tersebut, Vice Chairman Bekraf Ricky Pesik menuturkan, dengan menerapkan teknologi blockchain pada bisnis, Indonesia dapat lebih kompetitif. Teknologi ini dapat diterapkan dalam berbagai sektor, salah satunya dalam ekonomi kreatif.

Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) di bidang ekonomi kreatif juga dipercaya dapat mengadopsi teknologi blockchain yang penerapannya relatif terjangkau untuk mencapai hasil bisnis yang lebih optimal. Namun adopsi teknologi blockchain masih mempunyai beberapa tantangan, antara lain, persepsi sempit bahwa Blockchain identik dengan Bitcoin atau Cryptocurrency dan kurangnya pengetahuan mengenai aplikasi Blockchain untuk mengatasi tantangan yang menyangkut data, transaksi, keamanan, dan lainnya.

"Persoalan utama yang ditangani dengan adanya IBH adalah bagaimana ke depannya setiap unit masyarakat diberikan sosialisasi dan literasi terhadap teknologi Blockchain ini, sehingga perkembangan blockchain dapat meningkat pesat untuk menjawab permasalahan bisnis," tutup Ricky.

(ryn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up