JawaPos Radar | Iklan Jitu

Kasus Cambridge Analytica, Facebook Terancam Denda Rp 9,5 Miliar

14 Juli 2018, 10:55:34 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
facebook, Mark Zuckerberg, Facebook Cambridge Analytica
CEO Facebook, Mark Zuckerberg. (Express)
Share this

JawaPos.com - Skandal Cambridge Analytica (CA) membuat Facebook terancam dengan hukuman keuangan. Media sosial yang didirikan Mark Zuckerberg itu harus membayar denda awal sebesar USD 664 ribu atau berkisar Rp 9,5 miliar.

Sebagaimana JawaPos.com lansir dari laman USAToday, Sabtu (14/7), Kantor Komisi Informasi atau Information Commissioner Office (ICO) menyebut bahwa Facebook akan mendapat kesempatan untuk menjawab hukuman tersebut sebelum keputusan akhir dibuat.

Pejabat privasi utama Facebook Erin Egan mengatakan, Facebook seharusnya melakukan lebih banyak untuk menyelidiki klaim tentang Cambridge Analytica. "Kami telah bekerja sama dengan ICO dalam penyelidikan mereka terhadap Cambridge Analytica, seperti yang kami lakukan dengan pihak berwenang di Amerika Serikat (AS) dan negara lain. Kami sedang meninjau laporan dan akan segera menanggapi ICO,” kata Egan dalam sebuah pernyataan.

facebook, Cambridge Analytica, Facebook Cambridge Analytica
Ilustrasi: platform jejaring sosial Facebook dan skandal maling data. (Fossbytes)

Kantor Komisi Informasi memimpin penyelidikan Eropa tentang bagaimana data sebanyak 87 juta pengguna Facebook di salah gunakan. Sebagian besar penduduk Amerika Serikat dan Inggris, bahkan 1 juta di antaranya pengguna dari Indonesia, dipanen datanya oleh Cambridge Analytica.

Dalam penyelidikannya, Kantor Komisi Informasi mengatakan Facebook gagal atas transparansi tentang bagaimana data penggunanya dimanfaatkan. Temuan itu menunjukkan bahwa skandal CA bisa menyebar ke masalah yang lebih jauh.

Penyelidikan Facebook sedang dilakukan oleh Komisi Perdagangan Federal dapat menghasilkan penalti senilai ratusan miliar dolar. FBI dan Securities and Exchange Commission juga mencari koneksi Facebook dengan CA.

Facebook awalnya memperkirakan bahwa data sebanyak 2,7 juta orang Eropa mungkin telah dibagikan dengan CA. Namun bulan lalu Facebook mengatakan kepada anggota parlemen Eropa bahwa data tersebut mungkin tidak dibagikan semuanya. Facebook mengatakan tidak akan tahu pasti sampai dapat melakukan audit sendiri.

Sementara untuk Indonesia, kasus kebocoran data memang sempat geger beberapa bulan terakhir. Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Semuel Abrijani Pangerapan menyampaikan bahwa update terkait skandal CA, Facebook kepada Kemenkominfo mengatakan bahwa dari investigasi awal tidak ada data pengguna dari Indonesia yang tersedot oleh CA.

“Kemarin Kepolisian yang meminta laporan. Namun mereka (Facebook) mengklaim bahwa tidak ada data dari pengguna Indonesia yang dimanfaatkan CA. Angka 87 juta itu hanya di AS saja. Mereka juga mengklaim tidak ada pelanggaran keamanan data yang dilakukan Facebook akibat kasus ini,” ungkap Semuel dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Selasa (10/7) lalu.

Pria yang karib disapa Semmy itu menambahkan, Kemenkominfo masih terus memonitor perkembangan kasus ini kepada Facebook. Semmy berujar bahwa penyedia jejaring sosial sekelas Facebook pun harus tunduk terhadap aturan pemerintah Indonesia, apalagi yang menyangkut privasi dan perlindungan data pribadi.

(ryn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up